Buka konten ini
“Saat koas, salah satu tugas dan pengalaman saya memantau operasi kanker payudara.”
MOMEN kunjungan ke salah satu rumah sakit di Bojonegoro bertahun-tahun silam amat membekas di benak Arya Satya Rajanagara. Rumah sakit itu adalah tempat kerja sang ayah yang berprofesi sebagai perawat.
Kunjungan itu juga membuyarkan semua cita-citanya menjadi abdi negara. Dengan postur tinggi badan yang ideal di usianya saat itu, Arya yang kala itu masih duduk di bangku SMA kelas X merajut mimpi menjadi anggota Polri.
Tak terbersit sekalipun di benaknya untuk mengikuti jejak sang ayah mengabdi di bidang kesehatan. Tapi, dua tahun kemudian, semuanya berubah.
“Pas diajak ayah itu baru tertarik ke kedokteran. Karena melihat ternyata tenaga medis di daerah masih sangat terbatas,” ungkapnya.
Dari kunjungan ke rumah sakit tersebut, Arya lantas bertekad untuk menekuni bidang kesehatan.
Sulung dari tiga bersaudara tersebut lantas mengambil studi kedokteran di Universitas Airlangga pada 2016 lalu. Gelar dokter berhasil diraih pria kelahiran Probolinggo tersebut hanya dalam waktu enam tahun.
Menjelang kelulusannya sebagai dokter, dia mulai bersinggungan dengan beragam penyakit di lapangan. dan salah satu yang menarik perhatiannya adalah kanker payudara.
Kanker dengan jumlah penderita dan kematian terbanyak di Indonesia menurut data Kementerian Kesehatan.
“Saat koas, salah satu pengalaman saya memantau operasi itu ya operasi kanker payudara,” sambungnya.
Persinggungan dengan kanker payudara kembali terjadi selama Arya menjalani masa sebagai dokter internship pada 2023 lalu. Selama itu, dia banyak menemui kasus kanker payudara yang sudah mencapai pada tahap kronis.
Menurut Arya, kanker payudara seharusnya bisa lebih mudah tertangani bila bisa dideteksi sejak dini.
Berangkat atas berbagai pengalaman itu, pria kelahiran 1998 silam tersebut kemudian memilih menempuh S-3 bidang Ilmu Biomedis di
China Medical University.
“Saya langsung lompat ke S-3 karena gelar profesi saya sebagai dokter sudah dianggap setara dengan S-2,” jelasnya.
Dia menempuh pendidikan di kampus 170 besar dunia versi QS WUR itu dengan beasiswa dari Ministry of Education (Kementerian Pendidikan) Taiwan Scholarship.
Dalam sehari, dia bisa berkutat meneliti sel kanker dalam rentang waktu 8 jam. Sejak pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore. “Di kampus kami bebas untuk mengembangkan penelitian. Seperti saya misalnya, diberi jatah sel tersendiri,” ungkapnya.
Sel yang didapatkan dari penyintas kanker tersebut lantas dikembangbiakkan untuk dijadikan sebagai objek penelitian.
Aktivitas rutin yang ditempuhnya meliputi pengembangbiakan sel kanker, uji coba terapi, hingga observasi hasil.
“Hampir satu minggu itu satu riset penelitian soal kanker. Sekarang ini paling tidak sudah ada belasan kali riset,” ungkapnya.
Hasil penelitian tersebut akan dijadikan bekal oleh Arya untuk mencari formula pengobatan kanker yang lebih optimal.
“Terapi selama ini relatif memiliki efek samping yang besar. Lewat riset ini, inginnya mencari terapi yang minim efek samping,” ujarnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : MUHAMMAD NUR