Buka konten ini
Sejak 2021, jumlah UMKM di Batam terus meningkat. Dinas Koperasi dan UKM Kota Batam mencatat ribuan pelaku usaha baru bermunculan, terutama di sektor kuliner, fashion, dan kerajinan tangan. Kemudahan perizinan melalui sistem OSS (Online Single Submission) juga mendorong warga untuk lebih percaya diri membuka usaha.
PEMERINTAH Kota Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam aktif memberi pelatihan, bantuan permodalan, hingga fasilitasi sertifikasi halal dan NIB (Nomor Induk Berusaha). Beberapa UMKM juga difasilitasi ikut pameran dalam dan luar negeri, termasuk di Singapura dan Malaysia, mengingat Batam adalah daerah perbatasan.
UMKM di Batam juga mulai melek digital. Banyak pelaku usaha yang merambah ke marketplace seperti Shopee, Tokopedia, hingga memasarkan produk lewat media sosial. Program digitalisasi UMKM dari kementerian dan kerja sama dengan platform digital sangat membantu mereka masuk pasar lebih luas.
Meski berkembang, UMKM di Batam masih menghadapi beberapa tantangan, seperti keterbatasan modal, akses bahan baku, serta literasi keuangan dan digital yang belum merata.
Persaingan dengan produk impor murah juga jadi kendala, terutama di sektor pakaian dan elektronik.
Geliat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kecamatan Sekupang mulai terasa kembali. Setelah sempat lesu akibat pandemi, sejumlah sentra usaha di kawasan ini mulai hidup dan ramai dikunjungi pembeli, terutama pada sore hingga malam hari.
Pantauan Batam Pos, Rabu (30/4) sore, Tiban Center yang menjadi salah satu titik konsentrasi UMKM tampak bergairah. Deretan pedagang kuliner sibuk melayani pelanggan. Aroma masakan menggoda memenuhi udara, sementara kursi-kursi plastik tampak penuh oleh pengunjung yang menikmati hidangan.
Tak jauh dari lokasi itu, di kawasan Tiban Kampung, UMKM rumahan bermunculan dengan menawarkan aneka produk seperti kerajinan tangan, camilan, hingga pakaian. Salah satu pelaku usaha, Yuliawati, menyebut geliat ini mulai terasa sejak dua tahun terakhir.
“Alhamdulillah sekarang sudah ramai lagi. Dulu sempat vakum waktu pandemi, tapi sekarang mulai stabil,” ujarnya.
Fenomena serupa juga terlihat di Tiban Indah dan Sungai Harapan, dimana pedagang kaki lima kian bertambah. Masyarakat Sekupang perlahan bangkit memanfaatkan ruang-ruang ekonomi yang kembali terbuka.
Sementara itu, geliat UMKM di Tanjungriau masih menanti momentum. Harapan besar tertuju pada kawasan terpadu Opus Bay di Marina yang hampir rampung. Kawasan ini diyakini akan menjadi magnet baru bagi wisatawan dan membawa efek domino bagi perekonomian lokal.
Rendi, pelaku UMKM di Tanjungriau yang menjajakan makanan ringan dan minuman, mulai bersiap menyambut potensi lonjakan pengunjung. “Kalau Opus Bay ramai, kami juga pasti terdampak positif. Saya sudah tambah stok dan berencana buka booth kecil di dekat jalan utama,” katanya optimistis.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Batam, Hendri Arulan, menyebut geliat UMKM merupakan sinyal positif dari pemulihan ekonomi skala mikro. Ia menegaskan bahwa komitmen pemerintah daerah untuk terus memberi dukungan melalui pelatihan digital marketing, bantuan modal usaha, hingga perluasan akses pasar.
“UMKM ini fondasi ekonomi kerakyatan. Ketika mereka bergerak, ekonomi lokal ikut hidup. Kita dorong terus agar mereka bisa naik kelas,” katanya.
Geliat ini diharapkan tidak hanya bertahan sesaat, tetapi terus berkelanjutan hingga mampu membuka lapangan kerja dan menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Kota Batam.
Selain itu, Pemerintah Kota Batam aktif dalam mendorong perkembangan UMKM melalui berbagai program, seperti pinjaman tanpa bunga, dan subsidi bunga. Sosialisasi dan dukungan untuk digitalisasi UMKM juga menjadi fokus pemerintah, seperti sosialisasi transformasi digital logistik dan dukungan untuk UMKM yang berjualan secara daring.
Pemerintah Kota Batam juga memiliki target dan proyek untuk meningkatkan daya saing UMKM, seperti roadshow kewirausahaan dan program untuk UMKM naik kelas. Modal, kualitas produk, dan pemasaran merupakan faktor-faktor penunjang yang penting bagi pengembangan UMKM.
Di sektor permodalan, salah satu yang tengah dipersiapkan ialah kebijakan pinjaman tanpa bunga sebesar Rp20 juta upaya mendorong perkembangan sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM). ”Jadi insentif yang diberikan pemerintah untuk mendukung pelaku UMKM. Pelaku UMKM pinjam tanpa bunga, karena bunga tersebut dibayarkan oleh Pemerintah Kota Batam,” kata Hendri.
Ia berharap kebijakan pinjaman tanpa bunga ini bisa mendorong sektor UMKM untuk meningkatkan perekonomian mereka. ”UMKM ini adalah penggerak ekonomi. Jadi pemerintah harus hadir,” kata dia.
Sebelumnya, Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kota Batam, membina sebanyak 1.800 pelaku usaha dari berbagai jenis usaha yang ada di Kota Batam. Konsultan PLUT Batam Nurul Qamariah Adijaya mengatakan, dari 1.800 pelaku usaha itu, 80 persen di antaranya merupakan produk usaha sektor kuliner.
“Kuliner dan kerajinan tangan. Bisa disebut 80 persen di sektor kuliner. Kuliner itu lebih banyak di keripik, jajanan manis, minuman, kue basah, sektor katering dan masakan olahan,” ujar Nurul.
Ia menjelaskan, sejumlah produk kuliner milik pelaku usaha binaan PLUT Batam sudah masuk pemasaran di ritel-ritel modern, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Sementara itu, perkembangan usaha mikro, kecil, dan mene-ngah (UMKM) di Kecamatan Nongsa, Kota Batam, menunjukkan tren yang semakin positif. Beberapa wilayah seperti Batubesar, Kabil, hingga Teluk Lengung mulai bermunculan UMKM baru, dan didominasi kuliner. Di pesisir pantai saat ini, banyak masyarakat yang semulanya berprofesi nelayan beralih ke usaha kuliner.
Camat Nongsa, Arpandi, menyebutkan bahwa pihak kecamatan terus mendorong kemajuan UMKM melalui sinergi dengan PKK dan Dinas terkait di Kota Batam. “Kami telah melaksanakan pelatihan, proses legalisasi usaha, hingga pendampingan langsung. Sinergi bersama Tim Penggerak PKK dan UMKM Kota Batam menjadi kekuatan utama dalam mendukung geliat ekonomi masyarakat,” ujar Arpandi, kemarin.
Menurut Arpandi, sejumlah kelurahan sudah dalam proses pemutakhiran data pelaku UMKM. Namun, masih ditemukan tantangan seperti kurangnya pemahaman pelaku usaha terhadap proses legalisasi dan pengemasan produk.
“Kami siap mendukung program Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam. Hanya saja, banyak pelaku UMKM menanti petunjuk teknis untuk program bantuan, termasuk yang berpotensi menerima dana hingga Rp20 juta,” imbuhnya.
Selain dukungan program, peningkatan infrastruktur seperti pelebaran jalan dan akses mobilitas usaha diakui menjadi faktor penting. Wilayah seperti Sambau dan Teluk Tering memiliki potensi wisata pantai yang juga mulai dilirik oleh pelaku usaha kuliner dan UMKM kecil-kecilan.
“Kami terus mengupayakan agar akses jalan memadai, sehingga mobilisasi bahan dan produk UMKM tidak terkendala. Ini bagian dari strategi jangka panjang untuk mendorong Nongsa untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat,” jelas Arpandi.
Ketua TP PKK Kecamatan Nongsa, Purwanti, menegaskan bahwa pihaknya turut aktif dalam pendampingan UMKM melalui sepuluh kelompok kerja (pokja) yang dibentuk. “Alhamdulillah, geliat UMKM terutama dari kaum ibu sangat terasa. Mereka berlomba-lomba memanfaatkan peluang, mulai dari kerajinan tangan hingga kuliner,” ujar Purwanti.
PKK juga telah menggelar berbagai kegiatan, termasuk edukasi dan sosialisasi bersama dinas terkait seperti koperasi, halal produk, dan izin usaha. “Tahun ini, antusiasme sangat tinggi. Ruangan pelatihan penuh. Bahkan, grup UMKM di Nongsa semakin bertambah dengan kehadiran para mentor,” tambahnya.
Purwanti menyoroti keberhasilan UMKM Nongsa yang meraih juara 2 dalam ajang Bazar MTQ tingkat kota. Produk-produk unggulan seperti tanjak, songket, bross, kerajinan tangan hingga aneka kuliner berhasil mencuri perhatian masyarakat.
“Alhamdulillah, Nongsa mendapat juara 2 untuk bazar kuliner di MTQ. Penghargaan ini juga pernah kami terima tahun sebelumnya. Hal ini membuktikan jika UMKM Nongsa terus bertumbuh,” tegasnya.
Masyarakat Nongsa, khususnya para pelaku UMKM, berharap agar dukungan dari pemerintah terus ditingkatkan, baik melalui regulasi yang jelas, pelatihan digitalisasi, maupun akses bantuan permodalan. “Jika UMKM maju, maka ekonomi keluarga pun akan meningkat. Kami ingin menjadi bagian dari Kota Batam yang maju dan sejahtera,” pungkas Purwanti.
Lain lagi dengan di Batuaji dan Sagulung. Dua kecamatan di Kota Batam, kini menjadi wajah baru pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tumbuh subur di dua kawasan padat penduduk tersebut. Ribuan warga menggantungkan hidup dari usaha kecil yang berjejer di sepanjang jalan, pusat perbelanjaan, dan lingkungan perumahan.
Suasana di kawasan SP Plaza Sagulung pada Rabu (30/4) malam memperlihatkan geliat ekonomi masyarakat yang sangat hidup. Ratusan gerobak dan lapak usaha menjajakan berbagai menu makanan dan minuman, berbaris rapi di lapangan kosong dan sepanjang jalan row kawasan tersebut. Keramaian pengunjung menjadi bukti nyata perputaran ekonomi kecil yang dinamis.
Husni, seorang pedagang minuman siap saji, mengaku mampu mengantongi omzet hingga Rp400 ribu hanya dalam waktu lima jam berjualan. Ia mulai membuka lapaknya pukul 16.00 WIB dan ramai diserbu pembeli yang berolahraga maupun menikmati malam bersama keluarga.
“Alhamdulillah, tiga anak saya yang sekolah bisa saya biayai dari hasil jualan ini,” ujar Husni penuh syukur. Ia termasuk dari ribuan pelaku UMKM yang bangkit pascapandemi Covid-19.
Cerita serupa juga disampaikan Mukti, pedagang makanan siap saji lainnya. Ia mengaku sempat menganggur selama tiga bulan saat pandemi melanda. Berkat inisiatif sang istri, mereka mulai membuka usaha kuliner kecil-kecilan yang kini menjadi sumber penghidupan utama.
“Sempat kewalahan soal kebutuhan harian. Tapi sekarang, anak-anak tetap bisa sekolah, dan ekonomi keluarga mulai stabil kembali,” tuturnya.
Banyak pelaku UMKM lainnya mengungkapkan bahwa mereka memulai usaha dengan modal minim. Namun karena ketekunan dan kesabaran, usaha kecil mereka tidak hanya bertahan tetapi terus berkembang dan menjadi tumpuan utama ekonomi rumah tangga.
Andika, yang kini menjual es dan olahan kelapa muda, bercerita bahwa dirinya sebelumnya menjajakan barang seken di pasar kaget. Namun setelah kebijakan larangan berdagang seken diberlakukan, ia beralih usaha dan kini menikmati hasil lebih baik.
Tak hanya di SP Plaza, UMKM juga menjamur di kawasan Mitra Mall, Pasar Fanindo, Tunas Regency hingga Marina City. Aktivitas ekonomi rakyat tampak hidup di sore hingga malam hari, menjadikan kawasan-kawasan ini magnet baru bagi warga sekitar.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengapresiasi semangat masyarakat yang terus membangun ekonomi keluarga lewat UMKM. Menurutnya, geliat sektor kuliner di Batuaji dan Sagulung sangat luar biasa dan perlu mendapatkan perhatian lebih.
“Pertumbuhan kuliner di Batuaji luar biasa sehingga perlu adanya sentuhan pemerintah, seperti pelatihan, penguatan, dan pemasaran agar UMKM makin maju,” katanya.
Dari pantauan lapangan, UMKM kini tersebar di mana-mana. Di pinggir jalan, di pusat keramaian hingga lingkungan perumahan. Mereka menjual makanan, minuman, pakaian, sepatu hingga aksesori dengan harga terjangkau, menciptakan simbiosis saling menguntungkan antara pedagang dan pembeli.
Jalan R Suprapto, salah satu poros utama di wilayah Batuaji dan Sagulung, kini padat oleh deretan lapak UMKM. Kehadiran mereka tak hanya menciptakan suasana hidup, tetapi juga menjadi indikator bahwa ekonomi rakyat sedang bergerak ke arah yang lebih baik.
Hal yang sama terjadi di kawasan Marina City. UMKM terus bertumbuh, menjadi solusi atas keterbatasan lapangan kerja formal. Gerobak dan tenda-tenda kecil menjadi simbol perjuangan warga mencari nafkah secara mandiri.
Camat Sagulung, M Hafiz Rozie, juga mengakui pesatnya pertumbuhan UMKM di wilayahnya. Ia berharap ekonomi masyarakat terus membaik, dengan tetap menjaga ketertiban, keamanan, serta menaati aturan yang berlaku.
UMKM bukan hanya urusan ekonomi, tetapi juga tentang keberdayaan. Di tengah keterbatasan, usaha kecil ini telah membuka peluang, menghidupi keluarga, dan menjadi tonggak pemulihan ekonomi masyarakat bawah di Batam. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – YASHINTA – EUSEBIUS SARA
Editor : RYAN AGUNG