Buka konten ini
Gelombang ide, keresahan, dan harapan yang ditularkan para pelaku musik lokal dalam acara Rekat Talkshow Vol I. Momen ini tidak hanya mempererat hubungan antar pelaku seni, tetapi juga menginspirasi para pengunjung untuk lebih peduli dan mendukung perkembangan musik Batam.
Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Thirsty Lab, Batamkota, Kamis (24/4) malam. Bukan karena dentuman musik yang biasa menghentak, melainkan karena hadirnya energi positif dari sekelompok orang yang berkumpul, saling berbagi cerita dan tawa. Dalam suasana yang lebih tenang dan akrab itu, para pengunjung menikmati momen kebersamaan yang dipenuhi oleh obrolan hangat, menciptakan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk malam Batam.
Mengangkat tema Bangun Ekosistem, Bukan Sekadar Panggung, kegiatan ini menjadi ruang bagi musisi, seniman visual, media, hingga sound engineer untuk duduk bersama membincangkan masa depan musik Batam.
Tak hanya membahas soal pertunjukan, diskusi juga berkembang pada tantangan yang dihadapi oleh musisi independen, pentingnya regenerasi, serta transformasi selera publik akibat media sosial. Semua itu diramu dalam suasana yang cair namun sarat makna, menciptakan sebuah oase diskusi yang sangat dibutuhkan oleh ekosistem musik yang tengah mencari bentuk.
Salah satu isu yang mengemuka adalah soal minimnya regenerasi musisi di daerah. KS Aji, musisi sekaligus produser yang tumbuh besar dengan musik era 90-an, menyampaikan keresahannya. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu, ketika festival dan pentas seni menjadi lahan subur untuk tumbuhnya musisi muda.
“Anak sekolah sekarang jarang terlihat terlibat aktif dalam kegiatan musik. Kita khawatir tidak ada yang meneruskan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti bagaimana tren kompetisi yang difasilitasi pemerintah kini lebih condong pada format lomba ketimbang membangun ruang eksplorasi. Menurutnya, semangat kreatif tidak bisa tumbuh dalam tekanan menang-kalah. “Makanya kita gelar talkshow ini, biar gairah itu terpicu. Musik itu tetap disukai, hanya caranya sekarang sudah berbeda,” ujarnya.
Adeltra, drummer band Cigarettes Wedding asal Pekanbaru, menegaskan bahwa musik tetaplah bahasa universal yang tidak mengenal batas usia maupun wilayah. Ia menyatakan, tantangan utama saat ini bukanlah pada selera, melainkan bagaimana komunikasi antar-generasi musisi bisa berjalan dengan efektif.
“Musik itu akan selalu mengalir. Tapi apakah kita, yang lebih dulu, siap membuka dialog dengan generasi baru?” tuturnya.
Sementara itu, Fadli dari S.O.N Records mendorong para pemula untuk tidak terjebak dalam batasan genre. “Kalau mau mulai, jangan terlalu pikirin skill. Berani aja tampil beda. Karakter lebih penting,” katanya.
Ia memberi contoh band-band masa kini seperti Milledenials dari Bali, yang berani menggabungkan pop punk dengan shoegaze berdurasi panjang. Atau bagaimana RnB yang kini berpadu dengan soul dan bisa viral hanya lewat cuplikan 15 detik di TikTok.
“Zaman sekarang orang mendengar musik lewat potongan. Tapi itu bukan alasan untuk berkarya setengah-setengah,” ujarnya.
Fadli menyoroti, visualisasi dalam musik yang ikut bertransformasi. “Flyer, cover album, semua jadi simpel tapi tetap kuat kesan dan pesannya. Yang penting pesannya nyampe,” tuturnya.
Semangat berkarya tanpa takut menjadi kunci yang dipegang Rizki, personel band Rissau. Baginya, semua berawal dari keberanian untuk mencoba. “Rekam, bikin, dan berani dilempar ke publik. Jangan takut. Musik itu tentang berekspresi,” katanya.
Ia percaya bahwa karya yang jujur akan menemukan pendengarnya sendiri. Hal senada ditegaskan kembali oleh KS Aji. “Musik itu bergerak. Seniman itu tidak pernah stagnan. Belajar, eksplorasi, itu proses alami. Tapi yang paling penting, berkaryalah dengan jujur. Hasilnya pasti keren,” ucapnya.
Rekat Talkshow Vol I mungkin hanya satu malam di satu sudut kota, namun makna dan semangatnya adalah lilin kecil yang bisa menyalakan ruang-ruang kreatif lainnya. Membangun ekosistem musik bukan melulu soal panggung megah atau sorot lampu, melainkan keberanian untuk bertanya, mendengar, dan saling menguatkan.
Di tengah perubahan zaman yang cepat dan budaya musik yang makin cair, satu hal tetap: musik akan selalu menemukan jalannya, selama ada ruang untuk bertumbuh. (*)
Reporter: AZIS MAULANA
Editor : FISKA JUANDA