Buka konten ini
CIANJUR (BP) – Terkait dugaan keracunan puluhan pelajar dua sekolah di Cianjur, Jawa Barat, setelah menyantap makanan bergizi gratis (MBG), Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyampaikan dua catatan. Pertama, mengenai tempat makan yang seharusnya menggunakan stainless steel, dan kedua, alur produksi antara barang masuk dan keluar harus melalui pintu yang berbeda.
“Dilihat dari 2.701 makanan yang diberikan ke sembilan sekolah, menurut penjelasan dari Kepala SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Limbangansari, untuk pengiriman makanan ke PGRI 1 dan MAN 1 menggunakan food tray berbahan melamin atau plastik, bukan stainless,” paparnya setelah mengunjungi langsung dapur pengolah makanan MBG di Cianjur, Rabu (23/4).
Puluhan siswa yang diduga keracunan itu berasal dari SMP PGRI 1 Cianjur dan MAN 1 Cianjur, yang masuk wilayah tanggung jawab SPPG Limbangansari. Para pelajar yang keracunan mengalami mual, muntah, dan diare.
Mereka bergantian masuk dua rumah sakit mulai Senin (21/4). Kemarin, tidak ada lagi siswa yang dirawat di RSUD Sayang, Cianjur. Semua sudah pulang.
“Sudah pulang seluruhnya Selasa (22/4) sekitar pukul 16.00 WIB. Sejauh ini sudah selesai diobservasi dan alhamdulillah sehat,” ujar Humas RSUD Sayang Cianjur, Raya Renaldi, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, kemarin.
Sebelumnya, Kepala SMP PGRI 1 Cianjur, Rika Mustikawati, mengatakan sebanyak 23 siswa mengalami gejala keracunan dan tiga di antaranya dirawat di rumah sakit. Rika juga menambahkan, beberapa guru yang ikut menyantap MBG juga mengalami gejala keracunan meski dalam kondisi ringan.
“Sehingga bisa ditangani secara mandiri di rumah,” ujarnya.
Di MAN 1 Cianjur, sebagian siswa sebenarnya sudah curiga ketika akan menyantap makanan tersebut. Sebab, lauk daging ayam berbau tak sedap.
“Karena bau tak sedap, saya makan sedikit saja lauknya, sekitar pukul 12.30 WIB. Empat jam berselang, setelah pulang sekolah, saya merasa mual-mual dan akhirnya muntah serta pusing,” kata salah seorang siswa yang minta namanya dirahasiakan kepada radarcianjur.com (grup Batam Pos) melalui sambungan telepon.
Setelah menyampaikan ke orangtua, dia pun dilarikan ke rumah sakit. Dan, setelah menjalani perawatan semalam, dia pun diperkenankan pulang.
Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) setelah kasus keracunan massal yang menimpa puluhan siswa. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Yusman Faisal, mengatakan penetapan status KLB memungkinkan penanganan dilakukan secara terpusat dan terkoordinasi. Tim medis segera melakukan asesmen menyeluruh terhadap faktor penyebab dan pihak-pihak terkait dalam kejadian ini.
“Kami juga bakal pastikan seluruh pasien ditangani secara komprehensif hingga benar-benar pulih,” katanya. Selain itu, tambah Yusman, Dinas Kesehatan telah menginstruksikan tenaga medis di tingkat puskesmas untuk mendata dan memantau bersama pihak sekolah terhadap seluruh siswa yang mengonsumsi makanan tersebut.
Menurut Dadan, BGN sudah menyarankan penggunaan stainless steel untuk food tray atau nampan makanan.
“Sebab, sekolah-sekolah yang menerima MBG dengan nampan berbahan stainless steel tidak mengalami keracunan,” katanya.
Dadan menyayangkan tidak bisa mengecek sisa makanan di nampan para pelajar yang keracunan karena sudah keburu dibersihkan sekolah. “Ini menjadi salah satu peningkatan SOP (prosedur standar) karena kejadian di Cianjur,” tuturnya.
Ke depannya, makanan yang tidak habis dibersihkan oleh pihak SPPG sehingga nantinya bisa dicek ketika ada kejadian-kejadian serupa. Peningkatan tersebut turut dilakukan ketika ditemukan belatung pada food tray di Palembang. Belajar dari insiden tersebut, pihaknya pun meminta agar sebelum makanan dikirim harus didokumentasikan terlebih dahulu seperti foto dan video.
“Dengan kejadian di Palembang, di food tray terdapat belatung, ini meningkatkan SOP kita, sehingga sebelum dikirim harus difoto dan divideo,” terangnya.
Mengenai penyebab keracunan massal di Cianjur, pihaknya masih harus menunggu hasil uji laboratorium di Labkesda Jawa Barat. BGN juga berencana melakukan pelatihan kepada seluruh sumber daya manusia (SDM) yang terlibat dalam masak-memasak secara intensif di sela-sela bekerja.
Mengenai catatan kedua, Dadan menegaskan pentingnya pemisahan pintu untuk alur barang. “Saya pun sudah sampaikan kepada mitra agar menaati SOP tersebut. Selain itu, penting adanya pelatihan bagi para penyedia makanan agar terbiasa dan memiliki keahlian mumpuni untuk menyiapkan makanan dengan jumlah besar atau massal,” tutupnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG