Buka konten ini

VATIKAN (BP) – Di mana Paus Fransiskus berdiri dan mengapa dia memilih nama santo yang jadi patron kalangan papa sebagai nama kepausan jelas tergambar dalam salah satu dialog film ”Two Popes”.
”Pengakuan dosa membersihkan jiwa si pendosa, tapi itu sama sekali tak membantu korban. Dosa itu luka, bukan noda. Butuh dirawat, disembuhkan. Memaafkan saja tidak cukup,” katanya lewat Jonathan Pryce, sang pemeran dalam film besutan Fernando Meirelles itu.
Dan, Senin (21/4), Paus pembela kaum yang terpinggirkan yang tahun lalu singgah di Indonesia itu berpulang dalam usia 88 tahun. Tokoh agama asal Argentina tersebut, mengutip Vatican News, meninggal di kediamannya di Casa Santa Marta, Vatikan.
”Saudara-saudari terkasih, dengan duka cita yang mendalam saya harus mengumumkan wafatnya Bapa Suci kita, Fransiskus. Pada pukul 7.35 pagi ini (kemarin siang WIB), Uskup Roma, Fransiskus, kembali ke rumah Bapa,” kata Kardinal Kevin Farrell, camerlengo atau Kepala Rumah Tangga Dewan Kardinal.
Sepanjang hidupnya sebagai imam Katolik, Paus Fransiskus memperlihatkan pembelaan yang jelas kepada mereka yang termarjinalkan. Paus yang dikenal bersahaja itu di antaranya bersuara untuk kaum migran dan menginisiasi gerakan melawan pelecehan seksual terhadap anak yang banyak menyeret para pastur.
Menurut Kardinal Kevin Farrell, Paus Fransiskus membaktikan seluruh hidup untuk melayani Tuhan dan Gereja. ”Dia mengajarkan kita untuk menghayati nilai-nilai Injil dengan kesetiaan, keberanian, dan kasih universal, khususnya demi mereka yang paling miskin dan paling terpinggirkan. Dengan rasa syukur yang tak terhingga atas teladannya sebagai murid sejati Tuhan Yesus, kami serahkan jiwa Paus Fransiskus kepada kasih yang tak terbatas dan penuh belas kasihan dari Allah Tritunggal Mahakudus,” imbuhnya.
Sebelumnya, Paus Fransiskus dirawat di Rumah Sakit (RS) Poliklinik Agostino Gemelli sejak 14 Februari. Dia menderita bronkitis selama beberapa hari.
Dokter mendiagnosa dia mengalami pneumonia bilateral. Setelah 38 hari di rumah sakit, Paus Fransiskus kembali ke kediamannya di Vatikan di Casa Santa Marta untuk melanjutkan pemulihan.
Pada 1957, di awal usia 20-an tahun, pria yang bernama lahir Jorge Mario Bergoglio itu menjalani operasi di negara asalnya, Argentina. Operasi tersebut untuk mengangkat sebagian paru-paru pria penggemar sepak bola yang terkena infeksi saluran pernapasan parah.
Seiring bertambahnya usia, Paus Fransiskus sering menderita penyakit pernapasan. Suporter San Lorenzo, salah satu klub besar Argentina, itu bahkan membatalkan rencana kunjungan ke Uni Emirat Arab pada November 2023 karena influenza dan radang paru-paru. Pada April 2024, dia menyetujui edisi terbaru buku liturgi untuk upacara pemakaman kepausan.
”Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama penerima Zayed Award tahun 2024 yang menjadikan kami diterima Paus di Vatikan dan Grand Syaikh AlAzhar di Abu Dhabi saat itu. Paus Fransiskus sosok bersahaja dengan slogan miserando atque eligendo atau rendah hati dan terpilih,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir Haedar, dalam pernyataannya, Senin (21/4).
Karena itu, lanjutnya, meninggalnya Paus Frasiskus kemarin membuat dunia kehilangan tokoh dan pemimpin utama Katolik yang mengabdikan hidup untuk kehidupan kemanusiaan, saling toleran dan menyayangi, serta menegakkan perdamaian untuk dunia. Namun Haedar berharap, inspirasi dan jejak Paus Fransiskus untuk kemanusiaan dan perdamaian dunia bisa menjadi salah satu pendorong terciptanya tatanan dunia damai yang masif dan otentik.
Kehilangan besar juga dirasakan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Saat melawat ke Indonesia pada September 2024, Paus Fransiskus singgah ke Masjid Istiqlal dimana Nasaruddin menjadi imam besar.
Ada satu momen ketika Nasaruddin mengecup kening Paus Fransiskus, yang menandakan kedekatan hubungan persahabatan mereka. Selain menandatangani Deklarasi Istiqlal, Nasaruddin juga saat itu mengenalkan kepada Paus Fransiskus bahwa Masjid Istiqlal adalah rumah besar bagi kemanusiaan.
Kepada umat Katolik yang telah ditinggalkan Paus Fran-siskus, Nasaruddin berpesan untuk bersabar menghadapi cobaan. ”Sekali lagi kami semuanya, keluarga besar Kementerian Agama dan segenap warga bangsa Indonesia me-ngucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas wafatnya Paus Fransiskus,” katanya.
Terpisah, Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia Mgr. Antonius Subianto Bunjamin mengungkapkan bahwa Paus Fransiskus meninggalkan pelajaran bagi kehidupan soal kemanusiaan dan kepedulian terhadap orang miskin. ”Ada begitu banyak ajaran-ajaran yang sekarang dititipkan kepada kita untuk diteruskan. Nilai-nilai Injil, cinta universal, persaudaraan, kepedulian pada lingkungan, teristimewa bela rasa, kepada orangorang yang miskin dan orangorang yang terpinggirkan,” katanya dalam keterangan tertulis, kemarin.
Presiden Prabowo Subianto juga turut berduka atas meninggalnya Paus Fransiskus. ”Dengan rasa duka yang mendalam, saya menerima kabar mangkatnya Paus Fransiskus,” kata Prabowo di akun X-nya, kemarin.
Kematian Paus, lanjutnya, membuat dunia kehilangan salah satu tokoh panutan. ”Dunia kembali kehilangan sosok panutan yang memiliki komitmen besar terhadap perdamaian, kemanusiaan, dan persaudaraan,” imbuhnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG