Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Indonesia diperkirakan mencatat defisit transaksi berjalan yang moderat pada 2025. Risiko perlambatan ekonomi global dan tekanan eksternal seperti tarif perdagangan dari Amerika Serikat (AS) berpotensi menambah tantangan ke depan. Produk domestik bruto (PDB) bisa terkoreksi.
Dalam analisis DBS Group Research, Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, menyatakan asumsi penurunan surplus perdagangan barang sebesar 20 persen dan defisit berlanjut pada sektor barang tak terlihat diperkirakan melebar sedikit menjadi 0,8 persen dari PDB 2025. Dari sisi pembiayaan, akan ditopang oleh arus masuk investasi langsung asing yang masih kuat.
“Meskipun FDI (foreign direct investment) menunjukkan tren perlambatan sejak 2024. Arus portofolio juga diperkirakan akan masuk secara moderat,” ujarnya, Senin (21/4).
Secara keseluruhan, surplus neraca pembayaran Indonesia pada tahun ini diproyeksikan mencapai hanya seperlima dari rata-rata enam tahun terakhir. Hal itu mencerminkan tantangan eksternal yang kian kompleks.
Sementara itu, cadangan devisa (cadev) Indonesia mencapai 157,1 miliar dolar AS (USD) per akhir Maret lalu. Peningkatan tersebut terjadi meskipun bank sentral melakukan intervensi cukup besar di pasar valuta asing. DBS menyebutkan bahwa kenaikan cadangan juga ditopang oleh penarikan pinjaman luar negeri oleh sektor publik dan dana hasil repatriasi ekspor.
Namun, ancaman baru muncul dari sisi perdagangan internasional. Hal itu menyusul penetapan tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) sebesar 32 persen. Meskipun demikian, penundaan peluncuran tarif selama 90 hari setidaknya memberi ruang napas.
Jika tarif tinggi benar-benar diberlakukan, Radhika memperkirakan, akan berdampak negatif langsung pada PDB. Penurunan bisa sampai 0,5 persen pada tahun ini. Yang kemudian berlanjut mengikis 0,25 persen pertumbuhan ekonomi di 2026. Efek lanjutan dari pertumbuhan global yang lemah juga akan memperburuk situasi.
”Dalam ekonomi global yang rapuh, kami memperkirakan para pembuat kebijakan domestik akan meningkatkan upaya untuk mendorong permintaan dalam negeri,” ucap Radhika.
Neraca Perdagangan RI Surplus 59 Bulan Berturut-turut
Sementara itu, neraca perdagangan kembali mencetak surplus. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut pada Maret surplus 4,33 miliar dolar AS (USD). Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, angka itu naik USD1,23 miliar dibanding bulan lalu.
“Dengan demikian neraca perdagangan telah mencatat surplus 59 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” ujar Amalia di Jakarta, Senin (21/4). Pada bulan lalu, ekspor tercatat USD23,25 miliar, naik 5,95 persen secara bulanan (month to month; mtm). Sementara, impor sebesar USD18,2 miliar atau tumbuh 0,38 persen mtm.
Amalia menambahkan, peningkatan ekspor nonmigas secara bulanan utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan. Nilai ekspor industri pengolahan terkerek 2,98 persen pada Maret (mtm) dengan andil peningkatan sebesar 2,4 persen. “Surplus pada Maret terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang cukup kuat,” ucapnya.
BPS mencatat surplus perdagangan nonmigas mencapai USD6 miliar. Komoditas utama penyumbang antara lain lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja.
Sementara itu, neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar USD1,67 miliar. Angka itu disebabkan oleh impor hasil minyak dan minyak mentah.
Tiga negara penyumbang surplus terbesar bagi neraca perdagangan Indonesia adalah Amerika Serikat sebesar USD1,98 miliar; India, USD1 miliar; Filipina, USD714,1 juta. Sedangkan, mitra dagang dengan kontribusi defisit terbesar adalah Tiongkok, USD1,1 miliar; Australia, USD353,2 juta; dan Thailand, USD195,4 juta.
Amalia mengatakan, AS menjadi penyumbang surplus perdagangan terbesar ke Indonesia sejak 2015. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO