Buka konten ini

Arus balik Lebaran 2025 dengan kapal Pelni masih terus berlangsung dan dipantau secara ketat oleh Pelni Cabang Batam. Meskipun puncak arus balik tercatat terjadi pada Selasa (8/4), pergerakan penumpang masih dinamis dan diperkirakan akan terus bertambah hingga akhir masa angkutan Lebaran yang ditetapkan dari 16 Maret hingga 16 April 2025.
Kepala Cabang PT Pelni Batam, Edwin Kurniansyah, mengatakan bahwa puncak arus balik terjadi saat KM Kelud tiba di Batam dari Pelabuhan Belawan, dengan membawa sebanyak 3.741 penumpang yang turun di Pelabuhan Batuampar. Sementara, pada keberangkatan yang sama, tercatat sebanyak 1.803 penumpang meninggalkan Batam menuju Belawan.
“Puncak arus balik memang terjadi pada 8 April. Tetapi pergerakan penumpang masih akan terus berlangsung hingga 16 April, karena masih ada beberapa jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal sesuai dengan jadwal Pelni,” ujar Edwin, Rabu (9/4).
Ia menambahkan, hingga saat ini angka pergerakan penumpang masih bersifat sementara, karena kapal Pelni, seperti KM Kelud, masih akan tiba kembali di Batam pada 11, 13, dan 16 April mendatang.
“Angka total masih bisa berubah karena kita masih dalam periode angkutan Lebaran. Kami tetap siaga untuk memastikan seluruh layanan berjalan lancar dan aman,” tambahnya.
Edwin juga menegaskan bahwa seluruh operasional kapal selama masa angkutan Lebaran telah sesuai dengan ketentuan dan dispensasi kapasitas dari Kementerian Perhubungan. Hal ini memungkinkan kapal mengangkut penumpang dalam jumlah besar tanpa mengabaikan keselamatan dan kenyamanan.
Dalam rangka menjaga kelancaran dan kenyamanan perjalanan, Edwin mengimbau seluruh calon penumpang agar melakukan pembelian tiket dan check-in lebih awal, baik secara langsung maupun melalui aplikasi Pelni Mobile.
“Pembelian tiket dan check-in lebih awal akan mengurangi antrean dan mempercepat proses boarding. Kami terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan aplikasi Pelni Mobile agar perjalanan lebih nyaman dan tertib,” jelasnya.
Selain itu, PT Pelni juga memperkuat koordinasi dengan instansi terkait di pelabuhan, seperti Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), TNI, Polri, dan Dinas Perhubungan, guna menjaga kelancaran arus balik dan mencegah potensi gangguan keamanan.
“Pelayanan dan pengawasan tetap kami tingkatkan hingga akhir masa angkutan Lebaran. Kami juga berterima kasih kepada penumpang yang sudah tertib dan mengikuti imbauan petugas,” pungkas Edwin.
Ratusan Penumpang Rela Lesehan 20 Jam
Arus balik pascalebaran Idulfitri masih terlihat pada hari ke-9 Lebaran di Pelabuhan Roro Telaga Punggur, Batam, Kepulauan Riau. Kepadatan penumpang mulai tampak sekitar pukul 10.30 WIB, ketika kapal roro yang bertolak dari Pelabuhan Buton, Riau, merapat di dermaga Telaga Punggur.
Ratusan penumpang tampak turun dari kapal. Mayoritas dari mereka datang secara berombongan dan membawa barang bawaan dalam jumlah cukup banyak. Selain penumpang pejalan kaki, tercatat sekitar 40 mobil pribadi dan puluhan sepeda motor turut diturunkan dari kapal.
Astri, salah satu penumpang, mengaku memilih moda transportasi roro karena alasan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan dengan pesawat atau kapal cepat. Ia hanya membayar Rp135.000 untuk satu tiket penumpang dari kampung halamannya di Payakumbuh menuju Batam.
“Kampung saya di Payakumbuh. Saya memilih naik roro karena tidak mendapatkan tiket pesawat maupun kapal cepat. Lagipula, naik roro jauh lebih murah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perjalanan dari Pelabuhan Buton ke Telaga Punggur memakan waktu hingga 20 jam. Selama di kapal, ia bersama keluarganya harus rela duduk lesehan karena tidak kebagian tempat duduk.
“Tidak dapat bangku, jadi lesehan saja. Memang sengaja bawa tikar karena sudah tahu pasti tidak kebagian tempat duduk,” ungkapnya.
Menurut Astri, sebagian besar bangku di kapal sudah dikuasai oleh penumpang yang lebih dulu naik. Ironisnya, bangku tersebut bukan digunakan sebagai tempat duduk, melainkan dijadikan tempat tidur.
“Penumpang yang naik duluan sudah menandai bangku mereka, jadi kami yang belakangan tidak kebagian. Bangku yang seharusnya untuk duduk malah dijadikan tempat tidur,” keluhnya.
Hal serupa juga disampaikan Rian, penumpang lainnya yang mengalami kendala serupa. Ia dan keluarganya harus berlesehan di kapal karena tak dapat tempat duduk.
“Tak dapat tempat duduk, jadi duduk dan tidur di lantai bersama istri dan anak,” ungkapnya.
Menurut dia, arus penumpang cukup padat, apalagi untuk mobil yang antre menaiki roro tujuan Batam. Ia yang datang di hari keberangkatan tidak mendapatkan kuota. Alhasil, mobil miliknya terpaksa ditinggal di Buton menunggu jadwal keberangkatan berikutnya. Hal itu dikarenakan ia harus balik ke Batam secepatnya karena kerja dan anak sekolah.
“Jadi mobil saya tinggal di Buton, dititip untuk diberangkatkan hari selanjutnya. Penumpang padat,” ungkapnya.
Sementara itu, PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Batam mencatat adanya peningkatan signifikan pada jumlah penumpang selama masa angkutan Lebaran 2025, meskipun terjadi penurunan pada jumlah kendaraan yang menyeberang dibandingkan tahun sebelumnya.
General Manager PT ASDP Cabang Batam, Hermin Welkis, mengungkapkan bahwa jumlah penumpang pejalan kaki meningkat sebesar 10 persen secara keseluruhan.
Sebaliknya, kendaraan roda dua tercatat menurun 9 persen, roda empat turun 12 persen, dan kendaraan angkutan muatan mengalami penurunan paling tajam sebesar 20 persen.
”Tren mudik tahun ini menunjukkan adanya pergeseran pola. Masyarakat memanfaatkan libur panjang sebelum puncak mudik untuk bepergian lebih awal, sehingga arus penumpang lebih terurai dan tidak menumpuk pada hari-hari mendekati puncak mudik maupun arus balik,” ujar Hermin, Rabu (9/4).
ASDP mencatat bahwa rute favorit pemudik masih didominasi oleh jalur Telaga Punggur–Tanjung Uban, Bintan. Sementara untuk lintasan jarak jauh seperti Tanjung Buton, Riau dan Kuala Tungkal, Jambi, lonjakan penumpang terjadi pada H-3 dan H+3 Lebaran.
”Kami melihat pola baru dari perilaku pemudik yang lebih memilih keberangkatan lebih awal dan kepulangan lebih lambat, ini membantu kami dalam pengelolaan operasional pelabuhan,” tambah Hermin.
Hermin turut mengapresiasi kerja sama lintas sektor, khususnya dengan Dinas Perhubungan Provinsi Kepulauan Riau serta aparat penegak hukum, yang telah bersinergi dalam menjaga kelancaran dan keamanan selama arus mudik dan balik Lebaran tahun ini.
Dengan pola baru mudik yang lebih terdistribusi, ASDP optimistis dapat terus meningkatkan pelayanan dan efisiensi operasional di masa-masa mendatang.
“Tanpa dukungan penuh dari instansi terkait, tentu kelancaran arus mudik yang minim kendala ini tidak akan bisa tercapai,” ujarnya. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra – Yashinta – Azis Maulana
Editor : RATNA IRTATIK