Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Pelaku industri ritel mensinyalir masyarakat tahun ini lebih selektif dalam melakukan spending. Hal itu yang membuat penurunan aktivitas ekonomi di periode Lebaran 2025. Masyarakat juga dinilai lebih memilih menabung daripada mengeluarkan uang untuk konsumsi.
Ketua Umum Afiliasi Global Ritel Indonesia (Agra) Roy Nicholas Mandey mengungkapkan bahwa fenomena tersebut berpengaruh langsung pada peredaran uang selama Lebaran. Menurut Roy, banyak pengunjung sekadar melihat-lihat tanpa melakukan pembelian yang signifikan. Hal tersebut tampak dari ukuran rata-rata jumlah barang atau layanan yang dibeli dalam satu transaksi (basket size) mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan survei Populix, beber Roy, sekitar 55-56 persen penerima tunjangan hari raya (THR) lebih memilih untuk menabung, sehingga jumlah masyarakat yang berbelanja maupun yang melakukan mudik juga ikut berkurang. ”Bisa dilihat dari data Kementerian Perhubungan dimana jumlah pemudik turun dari 192 juta menjadi 146 juta,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Roy, peredaran uang di masyarakat juga mengalami penurunan signifikan, turun sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya (selengkapnya lihat grafis). ”Jadi semua indikator menandakan memang masyarakat menahan belanja. Jadi ada dua model. Ada yang menahan belanja meski mereka punya uang, ada juga yang menahan belanja karena mereka ter-PHK,” beber Roy.
Roy juga menyoroti dampak dari penurunan daya beli terhadap pertumbuhan ekonomi. Jika tahun lalu pertumbuhan ekonomi kuartal kedua bisa sebesar 5,17, tahun ini diperkirakan hanya berada di kisaran 4,8-4,9 persen.
Pertumbuhan ritel pun tidak lagi mencapai double digit seperti tahun sebelumnya yang berada di angka 18-20 persen, melainkan hanya sekitar 8-9 persen. ”Pemerintah seharusnya mencermati indikator-indikator ini untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam mendorong konsumsi masyarakat,” tegas Roy.
Roy mengusulkan bahwa pemerintah perlu fokus pada penciptaan lapangan pekerjaan formal untuk mengatasi penurunan daya beli ini. Dia menyarankan, program kewirausahaan lebih didorong untuk membantu masyarakat yang terdampak ekonomi.
Strategi efektif untuk mendukung sektor ritel adalah penurunan suku bunga untuk UMKM, yang selama ini merasa terbebani oleh bunga tinggi. ”Bantuan ini akan memungkinkan UMKM untuk bertumbuh lebih baik, terutama dalam masa krisis seperti sekarang,” ucap Roy.
Ekonom Insitute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai bahwa kondisi ekonomi yang kurang stabil berdampak pada daya beli masyarakat. Dia mencatat peningkatan kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur turut berdampak pada keputusan masya-rakat dalam berbelanja dan melakukan perjalanan mudik.
”Penurunan daya beli masyarakat berimbas langsung pada kebiasaan belanja dan mudik. Banyak yang memilih tetap di kota tempat tinggal mereka karena keterbatasan finansial,” ujarnya.
Eko pun mengkritisi kebijakan efisien anggaran belanja negara melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1/2025. Menurut dia, pemerintah seharusnya terus menggenjot belanja seiring melambatnya daya beli bukan sebaliknya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG