Buka konten ini
BATUAJI (BP) – Setelah sempat ditutup selama masa libur Lebaran, layanan poliklinik rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam di Batuaji, akan kembali dibuka pada Senin, (7/4) ini. Informasi ini disampaikan oleh Humas RSUD, Ellin Sumarni, pada Sabtu (6/4).
Pasien dengan jadwal pengobatan rutin di poliklinik rawat jalan sudah dapat melakukan pendaftaran seperti biasa.
”Sistem pelayanan akan kembali beroperasi penuh sebagaimana sebelum libur panjang,” katanya.
Tak hanya bagi pasien lama, pasien baru yang ingin mendapatkan layanan di poli rawat jalan juga akan dilayani secara normal. Pihak rumah sakit memastikan seluruh layanan berjalan seperti sediakala.
Penutupan layanan poli rawat jalan dimulai sejak 28 Maret, bertepatan dengan dimulainya cuti bersama dan libur Idulfitri. Meski demikian, RSUD tetap memberikan layanan darurat dan rawat inap selama masa liburan.
Humas RSUD Embung Fatimah, Ellin Sumarni, menyampaikan bahwa selama libur Lebaran, layanan medis terpusat di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
“Kami tetap melayani pasien yang membutuhkan penanganan darurat, sementara poli rawat jalan memang diliburkan,” ujarnya.
Layanan rawat inap juga tetap beroperasi selama masa libur. Pasien yang menjalani perawatan di ruang rawat inap tetap mendapatkan layanan penuh dari tim medis rumah sakit.
Dengan berakhirnya masa cuti bersama, seluruh layanan medis di RSUD Embung Fatimah kembali berjalan normal. Aktivitas pelayanan kesehatan akan berlangsung seperti biasa mulai Senin ini.
RSUD Embung Fatimah menegaskan komitmennya untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Dengan dibukanya kembali layanan poli rawat jalan, diharapkan kebutuhan medis masyarakat dapat terpenuhi secara optimal.
Warga Bisa Deteksi Kanker sejak Dini
Pemerintah Kota (Pemko) Batam terus mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan sejak dini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar di seluruh puskesmas. Program ini tidak hanya memberikan layanan pemeriksaan dasar tanpa biaya, tetapi juga mencakup deteksi dini penyakit serius seperti kanker payudara dan kanker serviks.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menyampaikan bahwa deteksi dini menjadi kunci dalam menekan risiko kematian akibat kanker. Melalui program CKG, warga diberi kemudahan untuk mengetahui kondisi kesehatannya secara menyeluruh, bahkan sebelum muncul gejala yang mengkhawatirkan.
“Kanker merupakan penyakit yang memerlukan penanganan sejak dini. Lewat CKG, warga bisa melakukan deteksi awal tanpa harus menunggu gejala muncul,” kata Didi.
Program ini telah berjalan sejak 3 Februari 2025 dan menjangkau 21 puskesmas di Kota Batam, termasuk wilayah hinterland seperti Belakangpadang dan Mentarau. Hingga awal April, tercatat sebanyak 1.496 warga telah memanfaatkan layanan ini.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Batam, Meldasari, mengatakan bahwa pelaksanaan CKG akan kembali dilanjutkan setelah libur Lebaran, yakni mulai 8 April mendatang. Ia menegaskan, program ini bersifat skrining atau pemeriksaan awal, bukan layanan pengobatan.
“Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan atau berada di luar batas normal, maka pasien akan dirujuk ke rumah sakit atau mendapatkan penanganan lanjutan di puskesmas,” jelasnya.
Dari seluruh peserta, kelompok usia 40–59 tahun mendominasi jumlah partisipasi, yakni sebanyak 254 orang. Mereka menjalani berbagai pemeriksaan, seperti tekanan darah, gula darah, kolesterol, serta skrining kanker khusus untuk peserta perempuan.
Menariknya, seluruh hasil pemeriksaan dalam program ini langsung tercatat dalam Rapor Kesehatan digital melalui aplikasi Satu Sehat Mobile. Akses data tersebut bersifat terbatas dan hanya dapat diakses oleh pasien serta tenaga medis yang menangani.
“Semua data masuk ke aplikasi dan bersifat rahasia. Hal ini memudahkan pemantauan kesehatan jangka panjang oleh puskesmas,” ujar Meldasari.
Program CKG merupakan bagian dari layanan preventif yang terus digalakkan Pemko Batam sebagai bentuk investasi jangka panjang dalam bidang kesehatan masyarakat. Dengan deteksi dini, diharapkan risiko komplikasi dan beban biaya akibat keterlambatan penanganan dapat ditekan secara signifikan. (*)
Reporter : EUSEBIUS SARA – RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK