Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Berbagai kebijakan ekonomi yang diluncurkan pemerintah belum mampu mendongkrak kepercayaan investor asing. Hal itu tecermin dari pasar saham yang kemarin anjlok hingga menyentuh angka minus 7 persen. Akibatnya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membekukan sementara perdagangan (trading halt) pasar saham pada pukul 11.19 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), Selasa (18/3).
Sejak awal perdagangan saham berjalan 10 menit, IHSG sudah turun 77 poin atau minus 1,19 persen. Hingga memasuki pukul 11.19 waktu JATS, terjun 5,02 persen ke posisi 6.146.
Perdagangan dilanjutkan pukul 11.49 waktu JATS yang justru makin terkoreksi ke 6.024,69. Pada sesi I perdagangan, IHSG terkoreksi 395,87 poin atau 6,12 persen ke posisi 6.076,08. Sempat membaik, indeks akhirnya finis di level 6.223,38. Minus 3,84 persen.
Vice President Infovesta Wawan Hendrayana menuturkan, anjloknya IHSG merupakan akumulasi dari sentimen yang terjadi beberapa hari terakhir. ”Terutama sejak pengumuman APBN Kita oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati,” ucap Wawan, kemarin.
Saat itu, Menkeu Sri Mulyani mengumumkan bahwa APBN hingga akhir Februari 2025 mengalami defisit Rp31,2 triliun. Angka ini setara dengan 0,13 persen dari produk domestik bruto (PDB). Kinerja APBN drop dibandingkan periode sama di 2024 yang mencatatkan surplus Rp22,8 triliun atau 0,1 persen dari PDB.
Hingga Februari 2025, pendapatan negara tercatat Rp316,9 triliun. Sementara belanja negara sebesar Rp348,1 triliun. ”Baik dari sisi pendapatan maupun pengeluaran mengalami defisit. Ini dipandang negatif untuk Indonesia ke depannya,” terang Wawan.
Hal itu diperparah dengan data-data terakhir terkait pelemahan daya beli dan deflasi. Sentimen negatif itu dianggap membuat IHSG terkoreksi cukup dalam. Sebagai informasi, di pengujung tahun lalu, Indonesia mengalami deflasi selama beberapa bulan berturut-turut.
Dari catatan Jawa Pos (grup Batam Pos), krisis ekonomi akibat Covid-19 berdampak negatif pada IHSG sepanjang Maret 2020 yang mengalami koreksi hingga 38 persen. Pada 19 Maret 2020, BEI juga pernah membekukan sementara (trading halt) perdagangan akibat kecemasan pandemi Covid-19 yang membuat IHSG terkoreksi lebih dari 5 persen.
Secara global, indeks rata-rata menghijau. Hanya pasar saham Indonesia yang turun ekstrem di atas 5 persen. ”Melihat sentimen hari ini (kemarin, red), tidak ada perlawanan aksi beli di pasar. Memang, investor asing sudah sering aksi jual. Cuma spesifiknya, aksi beli sangat rendah dibanding sebelumnya. Ini mencerminkan dari sisi katalis positifnya masih belum ada untuk Indonesia dalam jangka pendek,” jelasnya.
Apalagi, pekan ini pelaku pasar menunggu dua pengumuman. Yakni, suku bunga The Federal Reserve (Fed funds rate) dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate). Investor juga cenderung wait and see.
”Terlihat dari indeks turun terus. Banyak investor yang mending pegang cash dulu sambil menunggu seperti apa kejelasannya,” imbuh Wawan.
Biasanya, saat IHSG terkoreksi ekstrem, lanjut dia, akan terjadi technical rebound untuk jangka pendek. Sebetulnya, untuk saham-saham dengan fundamental yang solid, good corporate governance, dan memiliki likuiditas memadai, momentum ini adalah time to buy.
Analis pasar modal Hans Kwee melihat aksi jual cukup agresif di pasar. Secara eksternal, jurus dewa perang dagang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkhawatirkan.
Sejalan dengan aksi saling balas dengan pemerintah Tiongkok. Dari dalam negeri, aksi jual investor asing merupakan cerminan kekhawatiran terhadap defisit fiskal. Mereka memperkirakan bakal melebar. ”Terbukti bahwa pengumuman (APBN) Januari dan Februari penerimaan negara lemah,” ujarnya.
Menurut Hans, investor masih meragukan pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dengan bank-bank Himbara mendapat penugasan masuk di dalamnya. Hal ini ditengarai menyebabkan laba bank pelat merah itu turun. Apalagi, ada penugasan pembiayaan 3 juta rumah dan mendanai koperasi merah putih.
”Statemen itu yang bikin investor agak takut. Apakah proyek itu menguntungkan atau tidak. Itu yang menyebabkan asing jualan cukup agresif di pasar kita,” imbuhnya.
Asumsi tersebut berkaca dari proyek badan usaha milik negara (BUMN) karya yang diminta pemerintah untuk mendanai pembangunan infrastruktur. Tapi, nyatanya malah merugi dan berujung pailit seperti PT Istaka Karya (Persero). Beberapa BUMN karya lainnya, seperti PT Was-kita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk, terjerat utang besar.
Sebenarnya, adanya Danantara tidak dipandang negatif. Justru langkah ini bisa meningkatkan value BUMN serta mendorong kemajuan ekonomi Indonesia. ”Sentimen negatif karena masyarakat khawatir terjadi korupsi,” ujarnya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati turut menanggapi kabar pengunduran dirinya. Hal itu disebut sebagai salah satu pemicu IHSG jeblok sepanjang hari, kemarin.
Ani, sapaan akrab Menkeu, menyebut dirinya masih menjalankan tugas sebagai bendahara negara. Dia juga memastikan tetap menjalankan amanah yang diberikan presiden.
’’Saya tegaskan, saya ada di sini, berdiri dan tidak mundur. Saya tegaskan saya mengelola APBN dan bersama dengan tim Kemenkeu terus menjaga keuangan negara,’’ ujarnya dalam konferensi pers di Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Selasa (18/3).
Menkeu menggarisbawahi tanggung jawabnya sebagai bendahara negara untuk penge-lolaan APBN akan dilakukan dengan pruden dan optimal. ’’Kami ada di sini. Kami bertanggung jawab menjaga keuangan negara sebagai instrumen yang luar biasa penting sebagai pencapaian tujuan-tujuan pembangunan negara yang sudah disampaikan Presiden Prabowo dan menjaga kepercayaan masyarakat,’’ tuturnya.
Dia juga turut menyinggung sentimen dalam negeri yang disebut memicu IHSG ambles. Salah satunya adalah faktor kinerja BUMN yang terus menjadi sorotan. Menkeu berpesan kepada seluruh BUMN agar terus memberikan kinerja yang terjaga dan transparan kepada masyarakat.
’’Kami menyampaikan pesan kepada BUMN dan Danantara bahwa kepastian pengelolaan BUMN secara profesional dan transparan itu menjadi prinsip yang akan dilakukan. Manajemen BUMN-BUMN tersebut juga bertanggung jawab untuk menjelaskan kepada masyarakat sehingga mereka memiliki tingkat kepercayaan pada perusahaan (BUMN) tersebut,’’ jelasnya.
Di lain pihak, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyikapi santai amblesnya indeks harga saham gabungan (IHSG), Selasa (18/3). Meskipun, penurunan itu sempat memicu kebijakan trading halt oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Airlangga mengatakan, penurunan IHSG dipengaruhi sejumlah faktor. Dari sisi global, ada FOMC (Federal Open Market Committee) meeting yang ditunggu market. Dari dalam negeri, ada rapat gubernur Bank Indonesia hari ini yang juga ditunggu pasar.
”Yang ketiga tentu seperti biasa, ada saham-saham yang turun akibat mungkin laporan keuangannya ataupun informasinya sudah keluar. Dan, ini ada satu gruplah yang turunnya cukup dalam,” ujarnya di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (18/3).
Pembekuan perdagangan sementara yang dilakukan BEI kemarin siang dinilai bukan hal baru. Itu juga pernah dilakukan pada masa Covid-19. Yang jelas, lanjut dia, situasi ekonomi Indonesia stabil. Itu terindikasi dari fundamental yang kuat. Dia menilai penurunan atau kenaikan harga saham lumrah di berbagai negara.
”Saham-saham negara lain minggu-minggu lalu turun cukup dalam. Nah, mungkin kemarin kita belum terlalu kena, baru berimbas 1–2 hari,” imbuhnya.
Terkait pendapat analis yang menduga ambruknya IHSG akibat sejumlah kebijakan pemerintah, Airlangga menilai perlu dikaji pendapat tersebut. Airlangga memastikan perkembangan situasi ekonomi terus dipantau. Termasuk dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Dalam kesempatan itu, dia juga membantah isu terkait mundur dari jabatannya. Dia memastikan akan tetap bekerja sebagaimana biasanya.
”Saya tetap bekerja, konsentrasi bekerja,” imbuh mantan ketua umum Partai Golkar itu.
Tak hanya soal isu dirinya, Airlangga juga menepis isu serupa yang menimpa koleganya, yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dia mengaku sudah mengonfirmasi langsung kepada menteri yang akrab disapa Ani itu. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG