Buka konten ini
Para remaja ramai-ramai membangunkan warga Tarempa, Anambas untuk sahur pukul 02.00 WIB. Mereka menggunakan sound system yang diangkut dengan gerobak dorong berkeliling di area permukiman warga Desa Tarempa Barat.
Setiap tahun, bulan Ramadan selalu dinantikan oleh umat Islam. Bagi mereka, bulan suci ini bukan hanya menjadi waktu untuk meraih amal dan pahala, tetapi juga menjadi momen untuk melestarikan berbagai tradisi yang khas di setiap daerah. Salah satu tradisi yang menarik adalah membangun-kan sahur, yang dilakukan de-ngan cara berbeda di tiap wilayah. Di Desa Tarempa Barat, Kecamatan Siantan, Kabu-paten Anambas, tradisi membangunkan sahur tampak unik dan menarik.
Anak-anak remaja berlomba-lomba untuk membangunkan sahur dengan cara berkeliling area permukiman warga.
Kegiatan ini dilakukan setiap hari tepat pukul 02.00 WIB dini hari. Mereka berkelompok menggunakan gerobak yang berisi sistem suara aktif (sound system), genset penghasil listrik, dan perlengkapan lainnya. Sound system ini digunakan untuk memainkan musik de-ngan berbagai genre, seperti selawat, kasidah, dangdut, pop, bahkan breakbeat. Setiap kelompok terdiri dari lebih dari 10 orang.
”Tujuannya agar warga yang sedang tidur bisa segera terbangun, khususnya emak-emak, karena mereka harus bangun lebih awal untuk menyiapkan makanan sahur bagi keluarga,” ujar Nevile, seorang remaja yang ikut membangunkan sahur.
Nevile menegaskan bahwa kegiatan ini adalah inisiatif dari remaja setempat untuk membangunkan sahur dan tidak ada unsur paksaan. Mere-ka bersemangat untuk berkeliling dan membawa gerobak sound.
”Tradisi ini sudah turun-temurun sejak lama. Kami hanya meneruskan kebiasaan ini, dan sejauh ini belum ada yang mengeluh saat gerobak sound keliling kampung,” kata Nevile.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan membangunkan sahur sangat bermanfaat, karena banyak warga yang jika tidak dibangunkan bisa terlambat bangun. Padahal, sahur memiliki keberkahan tersendiri, dan membangun-kan orang sahur pahalanya juga besar. Di akhir Ramadan, biasanya warga memberikan santunan berupa uang untuk menghargai jasa para remaja yang telah membangunkan sahur. Santunan ini bersifat sukarela, tanpa ada paksaan.”Santunan ini diberikan dengan sukarela, kami saling membantu,” pungkas Nevile. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI