Buka konten ini

Mantan Anggota DPRD Batam 2009-2019
Ray Dalio memang bukan sekadar investor pasif yang menyaksikan kebangkitan Tiongkok di bawah Deng Xiaoping. Sejak kunjungannya pertama kali ke Tiongkok pada 1984, ia mempelajari secara mendalam dinamika ekonomi dan politik yang mendorong reformasi Deng—seperti pembukaan pasar, pengiriman pelajar ke Barat, dan fokus pada produktivitas ekonomi. Pelajaran ini ia terapkan dalam strategi investasinya di Bridgewater Associates, misalnya melalui pendekatan analisis ekonomi makro yang memperhitungkan siklus sejarah dan kebijakan pemerintah.
Dalam bukunya, Principles for Dealing with the Changing World Order (2021), Dalio menguraikan bagaimana kebangkitan Tiongkok menjadi studi kasus penting tentang bagaimana kepemimpinan visioner dapat mengubah nasib sebuah bangsa, sebuah perspektif yang ia bawa ke dalam wawasannya tentang negara lain, termasuk Indonesia.
Komentar di World Government Summit 2025
Pada Februari 2025, dalam International World Government Summit di Dubai, Dalio menekankan bahwa kepemimpinan luar biasa adalah kunci transformasi negara. Dalam pidatonya, ia menyebut Indonesia sebagai salah satu negara de-ngan potensi besar untuk mengalami lompatan signifikan di bawah Presiden Prabowo Subianto, yang dilantik pada Oktober 2024. Dalio membandingkan potensi kepemimpinan Prabowo dengan Deng Xiaoping dan Narendra Modi, dua figur yang ia anggap sukses mengarahkan Tiongkok dan India menuju kemajuan ekonomi monumental. Menurut Dalio, Indonesia memiliki keunggulan seperti tingkat utang yang relatif rendah dibandingkan PDB-nya (sekitar 38% pada 2024 menurut data IMF) dan produktivitas tinggi dari tenaga kerja mudanya.
Kombinasi ini, jika dipadukan dengan visi kepemimpinan yang kuat, bisa menciptakan ”momen Deng Xiaoping” bagi Indonesia. Dalio juga mengungkapkan bahwa ia mengenal Prabowo secara pribadi, yang menambah bobot pada optimismenya terhadap agenda reformasi Prabowo.
Pertemuan di Indonesia, Maret 2025
Pada 7 Maret 2025, Prabowo mengundang Dalio ke Indonesia untuk berdiskusi de-ngan para pengusaha lokal dan mengeks-plorasi pengembangan sovereign wealth fund bernama Danantara, yang diharapkan menjadi katalis investasi strategis di Indonesia. Dalam pertemuan ini, Dalio kembali menyuarakan keyakinannya bahwa Indonesia berada pada titik awal transformasi besar, mirip dengan apa yang terjadi di Tiongkok pada era Deng Xiaoping atau Singapura di bawah Lee Kuan Yew. Ia memuji fokus awal Prabowo pada ketahanan pangan (melalui program lumbung pangan nasional), efisiensi anggaran (dengan target penghematan Rp1.000 triliun dalam lima tahun), dan percepatan pembangunan infrastruktur—semua elemen yang menurutnya mencerminkan pendekatan pragmatis ala Deng dan Modi. Sentimen positif ini juga tercermin dalam diskusi di platform X, dimana ba-nyak pengguna menyebutkan bahwa Dalio melihat Prabowo sebagai ”game changer” bagi Indonesia.
Perbandingan dengan Deng Xiao-ping dan Narendra Modi
Dalio kerap menggunakan Deng Xiao-ping sebagai tolok ukur kepemimpinan transformatif. Deng, yang memimpin Tiongkok dari akhir 1970-an hingga awal 1990-an, membuka ekonomi Tiongkok ke dunia, mengentaskan ratusan juta orang dari kemiskinan, dan meletakkan dasar bagi kemajuan teknologi dan industri. Sementara itu, Narendra Modi, yang menjadi Perdana Menteri India sejak 2014, dikenal karena reformasi seperti ”Make in India” dan digitalisasi ekonomi, yang meningkatkan pertumbuhan PDB India secara signifikan (rata-rata 6-7% per tahun sejak ia menjabat). Dalam pandangan Dalio, Prabowo memiliki potensi untuk mencerminkan kualitas kedua pemimpin ini: visi jangka panjang seperti Deng dan eksekusi reformasi struktural seperti Modi. Program Prabowo, seperti industrialisasi hilirisasi sumber daya alam dan modernisasi militer, dipandang sebagai langkah awal menuju transformasi tersebut.
Kesimpulan
Ray Dalio, dengan pengalamannya menyaksikan reformasi Tiongkok dan mempelajari pola kebangkitan negara-negara berkembang, melihat Prabowo sebagai figur yang dapat membawa Indonesia ke era kemajuan baru. Baik di Dubai pada Februari 2025 maupun di Indonesia pada 7 Maret 2025, Dalio secara konsisten menyuarakan keyakinan bahwa kepemimpi-nan Prabowo, jika dieksekusi dengan baik, bisa meniru keberhasilan Deng Xiaoping dan Narendra Modi. Pandangan ini tidak hanya mencerminkan optimismenya terhadap Indonesia, tetapi juga pendekatannya sebagai pemikir yang selalu mencari pola sejarah untuk memprediksi masa depan ekonomi global. (*)
Oleh:
RIKY INDRAKARI
Mantan Anggota DPRD Batam 2009-2019