Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Kondisi manufaktur Indonesia masih menunjukkan sinyal positif. Hal tersebut tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Feb-ruari 2025 yang mencatat nilai ekspansi ke angka 53,15 poin, naik 0,05 poin dibandingkan Januari 2025. Dari 23 subsektor industri pengolahan, terdapat 21 subsektor mengalami ekspansi dan dua subsektor kontraksi.
Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah industri peralatan listrik serta industri percetakan dan reproduksi media rekaman. Sementara, dua subsektor yang mengalami kontraksi adalah industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya serta, reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan bahwa meski masih ekspansif, industri sedikit mengerem laju produksi karena masih banyak stok produk di gudang. ”Kenapa stok barang di gudang industri atau di tingkat distributor masih banyak? Itu terjadi karena indus-tri meningkatkan produksinya pada November dan Desember pada 2024 untuk mengantisipasi kenaikan PPN 12 persen,” ujar Febri.
Meski produksi tertahan bulan ini, permintaan atau pesanan baru industri pada Januari mulai mengalami kenaikan. Hal itu didorong kebutuhan jelang Ramadan dan Lebaran mendatang. Febri menyebutkan bahwa saat ini terdapat percepatan ekspansi nilai IKI variabel pesanan baru mencapai 52,7. Namun, IKI variabel produksi mengalami perlambatan meski masih ekspansi 53,39 dan variabel persediaan produk melambat ke 53,58.
Selanjutnya, persentase pelaku usaha yang menyatakan kondisi usahanya menurun menjadi 21,5 persen. Selain itu, optimisme pengusaha terhadap kondisi usahanya 6 bulan ke depan menurun dibandingkan dengan Januari 2025, yaitu sebesar 72,2 persen. ”Angka itu menurun 0,3 persen dibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya,” tuturnya.
Pada kesempatan terpisah, Penasihat Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa kunci utama dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi terletak pada sektor manufaktur. Sebagaimana yang dilakukan oleh negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.
Saat ini, kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar 19 persen, tetapi angka tersebut belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
”Salah satu syaratnya kalau kita mau pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari 5 persen menjadi 6 persen, 7 persen, atau mudah-mudahan 8 persen itu harus dengan melakukan reindustrialisasi. Kita harus punya pertumbuhan manufaktur yang lebih tinggi,” paparnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO