Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kebijakan yang ditempuh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat ruang untuk memangkas suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) semakin sempit. Indonesia membutuhkan reformasi struktural fiskal maupun moneter untuk mengejar pertumbuhan ekono-mi yang lebih tinggi.
Ekonom senior M. Chatib Basri menilai, kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) didikte oleh kebijakan The Fed karena implikasinya terhadap nilai tukar rupiah. Ditambah, tren suku bunga tinggi dan mata uang Garuda yang terus melemah membuat ruang fiskal juga terbatas.
”Maka, satu-satunya yang bisa dilakukan untuk mempertahankan growth atau mengejar growth yang lebih tinggi adalah structural reform,” kata Chatib dalam SMBC Indonesia Economic Outlook 2025, Selasa (18/2).
Namun, dia melihat ada peluang besar bagi Indonesia dalam situasi tersebut. Terutama terkait dengan relokasi produksi akibat perang dagang AS dan Tiongkok. Banyak negara yang sebelumnya bergantung pada basis produksi di Tiongkok harus memindah-kan tempat produksi mereka untuk mendapatkan akses pasar AS.
”Apakah akan lari ke Vietnam? Jawabannya iya,” imbuhnya.
Hanya, yang perlu menjadi perhatian, Vietnam memiliki surplus perdagangan yang besar dengan AS. Jumlahnya sekitar 118 miliar dolar AS (USD). Artinya, ada kemungkinan negara tersebut akan menjadi target jika Trump menaikkan tarif pada negara dengan surplus besar.
’’Kalau Vietnam dikenakan 10 persen, relokasinya bisa pindah ke Indonesia yang memiliki surplus perdagangan USD19 miliar,’’ imbuh anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN).
Dengan memanfaatkan peluang itu, Indonesia bisa menarik perusahaan PMA (penanaman modal asing) dan meningkatkan basis produksinya.
Chatib mengungkapkan tiga kebijakan yang dapat berdampak signifikan pada ekonomi global dan Indonesia. Pertama, kebijakan tarif. Sebab, 52 persen industri manufaktur di AS bergantung pada bahan baku dan barang modal impor. Jika tarif dikenakan, baik 10 persen maupun 25 persen, biaya produksi akan meningkat.
”Ini akan menyebabkan inflasi lebih tinggi, yang berarti The Fed akan semakin sulit untuk menurunkan suku bunga,” ujarnya.
Kebijakan kedua yang menjadi perhatian adalah pemotongan pajak yang dilakukan Trump. Hal itu akan memperburuk defisit anggaran AS yang harus dibiayai dengan utang. Akibatnya, suplai obligasi AS akan meningkat sehingga menurunkan harga obligasi dan menaikkan imbal hasilnya (yield).
’’Ini akan semakin menyulitkan The Fed untuk menurunkan bunga,” imbuhnya.
Kebijakan ketiga adalah deportasi terhadap tenaga kerja tidak terdaftar (undocumented) yang banyak mengisi sektor-sektor pekerjaan dengan upah rendah di AS. Jika tenaga kerja dideportasi, akan terjadi kekurangan pekerja yang membuat upah pekerja meningkat.
”Pada gilirannya akan meningkatkan inflasi di AS,” lanjutnya.
Chatib memperkirakan, kondisi itu bisa membuat The Fed sulit menurunkan suku bunga, bahkan mungkin menaikkannya. ”Lalu, apa dampaknya terhadap Indonesia? Dengan meningkatnya suku bunga di AS, USD semakin menguat, yang sudah mulai terlihat dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang kini menyentuh sekitar Rp16.300,” pungkasnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor: RYAN AGUNG