Buka konten ini

PENURUNAN debit air mulai terjadi di sejumlah waduk di Batam seiring munculnya sinyal awal musim kering 2026. Meski belum dalam kondisi kritis, situasi ini menjadi peringatan agar pengelolaan dan penggunaan air dilakukan lebih disiplin.
Badan Pengusahaan (BP) Batam memastikan pasokan air bersih dari tujuh waduk utama hingga saat ini masih dalam kondisi aman. Namun, tren penurunan mulai terlihat di beberapa lokasi.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan hasil pemantauan terbaru menunjukkan setidaknya tiga waduk mengalami penyusutan debit air.
“Secara umum masih aman, tetapi ada penurunan di beberapa waduk. Seiharapan turun sekitar 51 sentimeter, Nongsa 1,2 meter, dan Mukakuning 2,4 meter,” ujarnya, Kamis (26/3).
Penurunan tersebut terjadi di tengah kondisi atmosfer yang mulai mengarah pada fase kering. Fenomena El Nino yang diperkirakan muncul pada semester II 2026 turut menjadi faktor yang diperhitungkan.
Bagi Batam, persoalan air memiliki karakteristik khusus karena kota ini sepenuhnya bergantung pada air hujan yang ditampung di waduk. Tidak adanya sumber air dari pegunungan maupun aliran sungai besar membuat cadangan air sangat bergantung pada intensitas hujan.
Dalam kondisi tersebut, BP Batam mulai mengatur ritme produksi dan distribusi air. Pengendalian suplai menjadi langkah penting untuk menjaga cadangan air tetap stabil dalam jangka panjang.
“Produksi dan suplai harus kita kontrol. Ini penting untuk menjaga ketersediaan air dalam jangka panjang,” kata Ariastuty.
Selain langkah teknis, BP Batam juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga ketahanan air. Warga diimbau menggunakan air secara bijak dan tidak berlebihan, terutama untuk aktivitas yang tidak mendesak.
BP Batam juga mengingatkan potensi gangguan lain, seperti kebakaran di kawasan hutan lindung yang dapat berdampak pada daerah tangkapan air.
“Kami mengimbau masyarakat tidak membakar sampah atau membuang puntung rokok sembarangan, khususnya di area dekat daerah tangkapan air,” ujarnya.
Sejauh ini, belum ada indikasi defisit air di Batam. Namun, jika musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan, berbagai skenario lanjutan telah disiapkan, mulai dari penguatan distribusi, efisiensi produksi, hingga pengaturan suplai.
Batam saat ini berada dalam fase waspada—belum krisis, tetapi tidak lagi sepenuhnya aman. (***)
Reporter : M SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO