Buka konten ini

KEKERINGAN yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bintan kian terasa dampaknya. Di Kecamatan Seri Kuala Lobam, warga kini harus berjuang ekstra demi mendapatkan air bersih.
Sejak pasokan dari SPAM IKK Seri Kuala Lobam terhenti akibat waduk mengering, air menjadi barang langka. Warga pun rela antre sambil membawa galon dan jeriken kosong untuk mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah.
Pantauan di lapangan, ibu-ibu berjalan kaki memikul galon dari rumah masing-masing.
Sementara kaum pria memanfaatkan sepeda motor untuk mengangkut wadah air. Mereka antre tertib di titik pembagian, menunggu giliran mengisi dari tandon air yang disediakan.
“Tak apa antre, yang penting bisa dapat air,” ujar Nana, salah seorang warga.
Hal serupa disampaikan Uti. Meski baru pulang kerja dan dalam kondisi lelah, ia tetap memilih mengantre demi kebutuhan air.
“Tidur bisa nanti, yang penting air dulu,” katanya.
Kepala Desa Teluk Sasah, Suhairry Sembiring, mengatakan pihaknya terus menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak. Air diambil dari sumur kantor desa dengan kapasitas sekitar 10 ton per hari.
Menurutnya, banyak sumur warga yang sudah mengering. Selain itu, berhentinya operasional SPAM memperparah kondisi karena distribusi air ke rumah warga terhenti.
“Semoga bantuan ini bisa sedikit meringankan beban masyarakat,” ujarnya.
Kepala Tata Usaha Puskesmas Teluk Sasah, Abdul Rahim, menambahkan bahwa distribusi air tersebut merupakan bantuan dari Dinas Kesehatan Bintan.
“Hari ini disalurkan sekitar 10 ton air,” katanya.
Warga Gelar Salat Istisqa
Di tengah krisis air dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masyarakat Seri Kuala Lobam juga menggelar salat Istisqa di halaman Masjid Al Hikmah, Desa Teluk Sasah, Jumat (27/3) pagi.
Salat tersebut dipimpin Ketua MUI Kecamatan Seri Kuala Lobam, Ustaz Silahudin. Dalam tausiah, ia mengajak masyarakat untuk memperbanyak istighfar dan memohon ampunan agar hujan segera turun.
“Semoga Allah menurunkan hujan setelah ikhtiar ini,” ujarnya.
Camat Seri Kuala Lobam, Nona Yani M Abas Manupassa, menyebut salat Istisqa menjadi salah satu upaya spiritual masyarakat di tengah kondisi kekeringan.
Ia juga mengajak warga untuk terus berdoa agar bencana ini segera berakhir.
Sementara itu, Bhabinkamtibmas Tanjungpermai, Aiptu Yoyok Sumantri, mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Pasalnya, kondisi cuaca panas dan angin kencang sangat rawan memicu karhutla.
Waduk Menyusut, PDAM Putar Otak
Di sisi lain, krisis air juga berdampak pada layanan air bersih. Dua dari empat waduk di Bintan, yakni Waduk Gesek dan Waduk Sei Jago, nyaris mengering akibat lebih dari 30 hari tanpa hujan.
Direktur PDAM Tirta Kepri, Abdul Kholik, mengatakan saat ini hanya Waduk Kolong Enam dan Sungai Pulai yang masih beroperasi relatif normal.
Meski debitnya menurun, Waduk Gesek masih mampu melayani sekitar 2.500 rumah. Sementara sekitar 5.000 pelanggan di Tanjungpinang dialihkan ke Waduk Sei Pulai.
Adapun di Waduk Sei Jago, distribusi air tetap dilakukan dengan memanfaatkan sisa genangan air. Namun, suplai tidak bisa berjalan selama 24 jam.
“Air masih ada, tapi sangat terbatas,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kondisi yang semakin memburuk, PDAM kini tengah mencari sumber air alternatif, termasuk menjajaki kemungkinan interkoneksi dengan Waduk Sungai Lepan.
Hujan Diprediksi Mulai Turun
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan mulai muncul pada akhir Maret hingga awal April. Namun, intensitasnya diperkirakan rendah dan tidak merata.
Beberapa wilayah yang berpotensi diguyur hujan antara lain Tanjungpinang Timur, Bintan Pesisir, dan Bintan Timur, dengan curah hujan sekitar 100–150 milimeter per bulan.
Meski demikian, wilayah seperti Bintan Utara masih berstatus Hari Tanpa Hujan (HTH) siaga, dengan durasi lebih dari 30 hari.
Kondisi ini menyebabkan sejumlah waduk di kawasan tersebut mengalami defisit air. (***)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO – MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY