Buka konten ini

BATAM (BP) – Krisis air bersih di Kota Batam tidak hanya disebabkan gangguan teknis seperti kerusakan pompa dan distribusi yang tersendat. Di level kebijakan, Wakil Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, mulai mempertanyakan komitmen pengelola air bersih dan membuka kemungkinan pemutusan kontrak kerja sama apabila kebutuhan dasar masyarakat tidak terpenuhi secara berkelanjutan.
Penegasan tersebut disampaikan Li Claudia usai rapat bersama PT Air Batam Hilir (ABH), Sabtu (24/1), yang membahas percepatan penyelesaian gangguan suplai air bersih di sejumlah wilayah terdampak.
“Kemarin kami rapat dengan pengelola air bersih untuk memastikan penyelesaian persoalan air di Batam. Yang saya mau sederhana, masyarakat saya dapat air. Kita sudah kerja sama, maka kewajibannya harus dipenuhi,” kata Li Claudia, Minggu (25/1).
Ia menegaskan, kontrak kerja sama pengelolaan air bersih yang berjalan saat ini, termasuk yang dibuat sebelum PT Moya Indonesia menjadi induk perusahaan, tengah dikaji secara menyeluruh. Kajian tersebut melibatkan pihak kejaksaan serta deputi teknis BP Batam.
“Terkait kontrak sebelum zaman Moya, saya sudah minta kejaksaan dan deputi untuk mempelajari. Kalau memang tidak bisa memenuhi kebutuhan air masyarakat, ya kita putus saja. Tidak usah kerja sama. Ke depan, kalau kerja sama berlanjut, air bersih harus tersedia 24 jam,” tegasnya.
Sementara itu, dari sisi teknis, Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menjelaskan sejumlah langkah cepat telah dilakukan untuk meredam dampak krisis air bersih, terutama di wilayah Tanjung Sengkuang dan Batu Merah.
Salah satunya melalui sistem koordinasi langsung dengan perangkat RT dan RW untuk distribusi air menggunakan truk tangki.
“Kami sudah membentuk grup koordinasi dengan RT dan RW. Dari situ kami data kebutuhan masing-masing wilayah, berapa tangki yang dibutuhkan, sehingga distribusinya lebih terukur,” ujarnya.
Ia mengakui, pada awal penerapan sistem tersebut sempat muncul kendala teknis, terutama pada 20 Januari, akibat lonjakan permintaan dan keterbatasan armada.
“Ini pertama kali kami menggunakan pola koordinasi langsung dengan RT/RW. Sebelumnya berbasis tiket, tapi belum optimal. Dengan sistem ini, kami bisa memonitor langsung kondisi di lapangan,” katanya.
Selain suplai melalui truk tangki, BP Batam juga melakukan rekayasa jaringan utama agar aliran air tetap berjalan, meski masih terbatas. Saat ini, air mengalir sekitar tiga hingga empat jam pada malam hari. Sejumlah pompa di hulu yang rusak juga tengah diganti untuk memulihkan tekanan.
“Memang sempat ada penurunan tekanan akibat pompa rusak, tetapi sekarang sudah mulai diganti. Air sudah mengalir bertahap ke rumah warga, sambil kami atur pola distribusinya,” kata Ariastuty.
Untuk jangka pendek, kombinasi suplai bergilir dan distribusi air tangki masih menjadi solusi utama.
Seluruh RT dan RW di wilayah terdampak telah terhubung langsung melalui kanal komunikasi guna mempercepat respons.
Di sisi lain, pembangunan jaringan baru dari Sukajadi ke M3G (Simpang Jam) serta dari Ozon ke Bukit Senyum ditargetkan rampung akhir Juni. Proyek ini diharapkan dapat memperkuat distribusi air ke kawasan Tanjung Sengkuang, Batu Merah, Bengkong, dan sekitarnya.
Di tingkat warga, kondisi mulai berangsur membaik meski belum sepenuhnya normal. Ketua RW 01 Tanjung Sengkuang, Azis, menyebut air sudah kembali mengalir, meski tekanannya belum maksimal.
“Alhamdulillah air sudah mengalir seperti biasa, walaupun belum begitu besar,” katanya.
Kebutuhan air tangki pun mulai menurun. Dari sebelumnya mencapai 17 tangki per hari, kini hanya lima hingga enam tangki sebagai cadangan.
“Kemarin enam tangki, hari ini lima tangki. Kami lihat sampai sore apakah perlu tambahan. Respons petugas cukup cepat,” ujarnya.
Meski demikian, Azis mengakui masih ada beberapa titik yang proses normalisasinya berlangsung bertahap. Warga berharap perbaikan pompa dan stabilisasi jaringan segera tuntas agar suplai air kembali normal sepenuhnya. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK