Buka konten ini

WARGA nelayan di Genting Pulur, Kecamatan Jemaja Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, dikejutkan dengan kemunculan seekor buaya yang tersangkut di keramba ikan milik nelayan, Minggu (25/1). Kejadian tersebut sempat menimbulkan keresahan dan kekhawatiran masyarakat pesisir.
Buaya itu pertama kali ditemukan nelayan saat hendak mengecek kondisi keramba pada pagi hari. Saat itu, warga melihat seekor buaya berukuran cukup besar dalam kondisi tidak bergerak dan tersangkut di bagian kayu keramba.
Diduga, buaya tersebut hendak memangsa ikan Napoleon atau ikan ketipas yang dipelihara nelayan. Namun upaya itu gagal setelah bagian kepala buaya tersangkut di sela-sela kayu keramba.
Akibat tersangkut cukup lama, buaya tersebut akhirnya mati di lokasi. Meski demikian, kemunculannya sempat memicu kepanikan karena perairan tersebut kerap digunakan nelayan untuk beraktivitas setiap hari.
Sejumlah nelayan mengaku khawatir kejadian ini menandakan buaya mulai mendekati area permukiman dan lokasi usaha masyarakat di laut. Kekhawatiran itu semakin meningkat mengingat buaya dikenal sebagai satwa buas yang berbahaya.
Warga kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada aparat setempat. Tidak berselang lama, masyarakat bersama pihak kepolisian mendatangi lokasi untuk melakukan evakuasi.
Kapolsek Jemaja, Iptu Sutomo, mengatakan buaya tersebut berhasil dievakuasi dengan aman oleh warga dan aparat, kemudian dibawa ke daratan agar tidak membahayakan masyarakat.
“Buaya yang tersangkut di keramba itu sudah dalam kondisi mati dan langsung dievakuasi ke darat,” ujar Sutomo.
Ia memastikan tidak ada korban jiwa maupun warga yang mengalami luka dalam peristiwa tersebut.
“Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa. Tidak ada warga yang diserang atau terluka akibat kejadian ini,” katanya.
Meski tidak menimbulkan korban, peristiwa ini menjadi peringatan bagi masyarakat pesisir Genting Pulur dan sekitarnya. Pasalnya, Pulau Jemaja dikenal sebagai salah satu wilayah yang merupakan habitat alami buaya.
Menurut Sutomo, kemunculan buaya di perairan Jemaja bukanlah hal baru. Namun demikian, warga tetap diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di laut, sungai, maupun di sekitar keramba.
“Pulau Jemaja memang dikenal sebagai daerah habitat buaya. Karena itu kami mengimbau masyarakat agar selalu berhati-hati saat beraktivitas di laut atau sungai,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan nelayan agar tidak beraktivitas sendirian, terutama pada waktu rawan seperti pagi dan sore hari, serta segera melapor jika melihat buaya di sekitar permukiman. “Kami minta masyarakat tetap waspada dan segera melaporkan kepada pihak berwajib jika kembali melihat buaya di sekitar tempat tinggal atau lokasi mencari nafkah,” tutup Sutomo. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY