Buka konten ini
TANJUNGPINANG (BP) – Rencana pembangunan Estuari Dam di Kabupaten Bintan kembali menjadi sorotan. Namun Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Ansar Ahmad, memastikan proyek ambisius itu tidak akan menenggelamkan 10 desa di wilayah Teluk Bintan seperti yang sempat dikhawatirkan warga.
“Skalanya sudah kami perkecil. Hanya beberapa hektare yang digunakan, tidak sampai menggenangi permukiman,’’ ujar Gubernur Ansar, Jumat (29/6).
Menurut Ansar, proyek ini tengah menunggu hasil kajian teknis, termasuk survei kedalaman dan batas tertinggi area genangan. Ia menegaskan, aspek keselamatan dan keberlanjutan nelayan di sekitar lokasi akan menjadi perhatian utama pemerintah.
“Kita pastikan nelayan tidak terdampak. Bahkan nanti akan kita bantu alat tangkap yang lebih baik,’’ ujar Gubernur Ansar.
Pembangunan Estuari Dam ini, lanjut Gubernur Ansar, merupakan langkah strategis untuk menjawab ancaman krisis air bersih di wilayah Bintan dan Tanjungpinang. Bahkan, dalam jangka panjang, pasokan air dari waduk ini juga diproyeksikan untuk mendukung kebutuhan Pulau Batam.
“Kalau tidak kita siapkan dari sekarang, lima sampai sepuluh tahun ke depan kita akan kewalahan. Estuari ini bukan hanya untuk Bintan, tapi juga bisa menopang kebutuhan air Batam,” tutur Gubernur Ansar.
Awalnya, skema pembangunan waduk sempat memunculkan kekhawatiran karena disebut-sebut akan menggenangi 10 desa. Namun setelah dilakukan survei ulang, rencana itu direvisi. Volume area genangan diperkecil agar tidak menyentuh kawasan pemukiman.
Sementara itu, Asisten II Pemprov Kepri, Luki Zaiman Prawira, menambahkan bahwa proyek ini diperkirakan menelan anggaran sebesar Rp14 triliun. Pendanaan sepenuhnya berasal dari pihak swasta, yakni PT Moya.
“Kami masih mengkaji secara teknis berapa luasannya. Tapi yang pasti, proyek ini tidak akan menyentuh lahan darat. Kajian juga mencakup dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan,” kata Luki. (*)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GALIH ADI SAPUTRO