Buka konten ini

MARINIR Angkatan Laut Amerika Serikat akan turun ke jalanan Los Angeles dalam waktu 48 jam. Mereka akan bergabung dengan pasukan Garda Nasional untuk mendukung operasi federal di tengah memanasnya situasi sosial. Pernyataan itu disampaikan oleh pejabat pemerintah AS pada Rabu (11/6), seperti dilansir Reuters, Kamis (12/6).
Pengerahan pasukan militer ini dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump. Mereka diberi kewenangan untuk menahan siapa pun yang menghalangi operasi imigrasi atau menghadang aparat federal. Langkah Trump segera memicu perdebatan nasional dan gelombang protes yang menyebar dari Los Angeles ke berbagai kota besar seperti New York, Atlanta, dan Chicago.
Akar kerusuhan berawal dari razia imigrasi yang digelar sejak Jumat (6/6). Respons warga bermunculan. Demonstrasi dimulai pada hari yang sama dan memasuki hari keenam pada Rabu (11/6). Sebagian besar aksi berlangsung damai, meski insiden kekerasan sempat terjadi di beberapa blok pusat kota.
Di tengah tensi yang menguat, Trump mengerahkan Garda Nasional pada Sabtu (7/6), disusul Marinir dua hari kemudian. Di hadapan publik saat acara di John F. Kennedy Center for the Performing Arts, Trump membela keputusannya.
”Jika saya tidak bertindak cepat, Los Angeles akan terbakar sekarang,” ujarnya.
Namun, Gubernur California Gavin Newsom dan sejumlah pejabat lokal menilai kehadiran pasukan federal justru memperkeruh suasana dan berpotensi melanggar hukum. Gugatan terhadap keputusan Trump dan Departemen Pertahanan pun diajukan ke pengadilan federal San Francisco. Pemerintah negara bagian meminta larangan sementara atas pengerahan pasukan militer, dengan alasan kondisi untuk mengaktifkan hukum federal Title 10—seperti ancaman invasi asing atau pemberontakan—tidak terpenuhi.
Satu batalion berisi 700 Marinir telah menyelesaikan pelatihan pengendalian massa dan deeskalasi konflik untuk misi di Los Angeles. Mereka akan ditempatkan bukan untuk penegakan hukum sipil, tetapi untuk melindungi petugas federal dan aset negara. Meski tidak dibekali peluru tajam saat patroli, amunisi tetap disiapkan.
“Pasukan Title 10 dapat menahan sementara seseorang dalam situasi mendesak—seperti saat terjadi serangan atau gangguan terhadap petugas federal,” kata Komando Utara.
Juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri, Tricia McLaughlin, menegaskan bahwa militer berhak menahan perusuh yang menyerang petugas ICE, hingga aparat penegak hukum mengambil alih.
Langkah Trump ini dilihat sebagai bagian dari janji kampanyenya untuk menindak imigran secara besar-besaran.
Retorika keras dan pendekatan represif menjadi ciri khas gaya politiknya. “Presiden Trump berjanji menjalankan kampanye deportasi massal terbesar dalam sejarah Amerika, dan kerusuhan dari kelompok kiri tidak akan menghentikan itu,” ujar juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt.
Sementara itu, kondisi di lapangan kian tak menentu. Di pusat kota Los Angeles, kerusuhan pecah sebelum jam malam diberlakukan. Demonstran melempar batu dan kembang api ke arah polisi. Aparat membalas dengan peluru karet di depan Balai Kota. Sekitar seribu orang sempat melakukan aksi damai sebelum bentrok pecah.
“Saya di sini karena hak asasi kami dilanggar setiap hari. Kalau kami menyerah, semuanya akan berakhir. Kami harus tetap bertahan agar seluruh negeri ikut bergerak,” kata Marlene Lopez, warga asli Los Angeles berusia 39 tahun.
Aksi serupa juga terjadi di Santa Ana, kota berpenduduk mayoritas Meksiko-Amerika, sekitar 50 kilometer dari Los Angeles. Protes juga merebak di Las Vegas, Philadelphia, Milwaukee, Seattle, Boston, Washington, hingga San Antonio, Texas.
Kepolisian New York mencatat 86 orang ditahan pada Selasa (10/6). Sebanyak 34 di antaranya didakwa, sementara sisanya hanya menerima surat panggilan pengadilan.
Gelombang protes diprediksi membesar pada Sabtu (14/6), dengan lebih dari 1.800 demonstrasi anti-Trump direncanakan berlangsung di seluruh negeri. Pada hari yang sama, parade militer dengan tank dan kendaraan lapis baja akan digelar di Washington D.C., memperingati 250 tahun berdirinya Angkatan Darat AS—bertepatan dengan ulang tahun ke-79 Presiden Trump. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO