Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Empat tahun terakhir, neraca perdagangan Indonesia konsisten mencatatkan surplus. Namun, perkembangan perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok (RRT) membuat RI harus waspada. Sebab, kedua negara itu termasuk tujuan utama ekspor.
“Tujuan ekspor kita nomor satu itu adalah Tiongkok, lalu nomor dua adalah AS,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu pada Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR RI di DPR, Senin (19/5).
Dia memerinci, data Kemenkeu mencatat, ekspor Indonesia ke AS sepanjang 2024 mencapai 26,3 miliar dolar AS (USD). Jumlah itu setara 2,1 persen dari PDB RI. “Walaupun tidak terlalu besar, artinya risiko bagi kita relatif kecil, tetapi kita lihat ada sektor-sektor yang harus kita perhatian,” imbuhnya.
Febrio menyebutkan, ada sejumlah komoditas ekspor yang paling terpengaruh oleh kebijakan tarif AS. Antara lain, mesin/peralatan listrik, pakaian dan aksesori rajutan, alas kaki, dan pakaian dan aksesori non-rajutan. Hingga kini, negosiasi dengan AS masih berlanjut.
“Harapannya, didapatkan win-win solutions agar kepentingan ekonomi dua negara juga tetap terjaga baik,” bebernya.
Dalam proses negosiasi tarif dengan AS, Febrio menyebut bahwa delegasi Indonesia menawarkan sejumlah paket yang terkait dengan kepentingan Indonesia. Poin-poin penting itu di antaranya tariff measure terkait pelonggaran bea masuk atas barang dari AS. Lalu, upaya deregulasi untuk mengatasi hambatan Non-Tariff Measures (NTMs).
Selain itu, realokasi pembelian (impor) dari negara lain ke AS, dan kerja sama investasi hilirisasi Indonesia dengan AS. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG