Buka konten ini
Layanan terhadap jemaah haji lanjut usia (lansia) terus menjadi perhatian utama Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Di Madinah, para petugas secara khusus memberikan pendampingan ekstra kepada jemaah lansia yang terpisah dari rombongan dan belum bisa diberangkatkan ke Makkah karena persoalan dokumen. Termasuk di antaranya jemaah lansia tanpa pendamping.
HINGGA Sabtu (17/5) pukul 14.00 waktu Arab Saudi (WAS), dari 203.320 jemaah haji reguler asal Indonesia, sebanyak 108.641 orang sudah tiba di Tanah Suci. Dari jumlah itu, sebanyak 23.479 di antaranya adalah jemaah lansia.
Namun, masih ada sebagian yang belum dapat dipindahkan ke Makkah karena dokumen seperti kartu Nusuk dan paspor masih di syarikah. Mereka sementara ditempatkan di Hotel Diyar Taibah, Madinah, yang juga menjadi kantor Sektor Khusus Nabawi.
Petugas pun menerapkan skema layanan jemput bola kepada para lansia tanpa pendamping. “Kami prioritaskan lansia yang datang sendiri atau tidak punya pendamping satu kloter. Mereka dilayani secara menyeluruh mulai dari memandikan, menyuapi makan, hingga mengantar ke Masjid Nabawi,” ujar Kasie Lansia, Disabilitas, dan PKP2JH, Didit Sigit Kurniawan, Jumat (16/5).
Didit menjelaskan, kondisi ini menuntut gerak cepat dari tim pelayanan lansia agar jemaah tetap bisa menjalankan ibadah secara layak meskipun tertahan lebih lama di Madinah.
“Ada yang kami mandikan, kami pakaikan pakaian ihram, dan kami antar kursi roda ke Masjid Nabawi. Semua untuk memastikan mereka tidak merasa ditelantarkan,” tambahnya.
Pola penanganan lansia di Madinah kali ini juga mengalami peningkatan dibanding tahun lalu. Jika sebelumnya hanya sebatas pendampingan umum, tahun ini tim lansia hadir dengan pendekatan personal.
“Lansia yang tidak bisa mengurus diri kami datangi ke kamar hotelnya. Tim yang terdiri dari pendamping lansia, tim medis, dan tenaga kesejahteraan sosial agama (TKSA) langsung membantu ke kamar,” jelasnya.
Salah satu bentuk dukungan lain adalah kolaborasi dengan Tim Gerak Cepat (TGC) dan petugas hotel. Mereka aktif memantau kondisi jemaah dan langsung melaporkan jika ada lansia yang membutuhkan pertolongan cepat.
“Kami juga siapkan komunikasi antarhotel, karena tidak semua lansia tertahan di satu titik. Jadi monitoring kami bersifat lintas-sektor,” ungkap Didit.
PPIH menegaskan, sekalipun belum diberangkatkan ke Makkah, seluruh jemaah, terutama lansia, dijamin tetap mendapatkan hak layanan dasar seperti konsumsi tiga kali sehari, pendampingan ibadah, serta bantuan medis jika dibutuhkan.
Berdasarkan data Siskohat, hingga Sabtu (17/5) pukul 14.00 WAS, jumlah jemaah yang sudah dipindahkan dari Madinah ke Makkah mencapai 46.517 orang. Sementara jemaah wafat tercatat sebanyak 22 orang, terdiri dari 14 laki-laki dan 8 perempuan.
Dengan waktu menuju puncak haji (wukuf di Arafah) yang tinggal 19 hari lagi, PPIH menargetkan pemindahan seluruh jemaah dari Madinah ke Makkah dapat selesai sesuai jadwal, sambil tetap memastikan bahwa tidak ada jemaah lansia yang terabaikan dalam prosesnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : ALFIAN LUMBAN GAOL