Ketika Maria melihat seorang perempuan duduk sendirian di kursi panjang pinggir jalan, ia merasa pernah mengenalnya. Maria juga duduk di bangku panjang serupa, di seberang jalan, di seberang perempuan itu. Maria mengamat-amati perempuan di seberangnya seraya menebak-nebak siapakah gerangan ia. Sampai memutuskan kembali ke hotel, Maria belum bisa memastikan siapa perempuan itu.
KEPADA suaminya Maria bercerita, dan sambil mengayun-ayunkan kaki di air kolam suaminya menimpali: ”Mata kita melihat apa yang sangat ingin kita lihat. Mungkin kamu sedang merindukan seseorang. Seorang kawan lama, barangkali?”
Maria dan suaminya menghabiskan masa libur nasional yang bersambung dengan libur akhir pekan dengan mengunjungi kawasan wisata dan menginap di sebuah hotel. Tadi pagi saat Maria berjalan-jalan, suaminya masih berbaring di ranjang. Itu hari kedua liburan mereka.
Karena kata ”kawan lama” yang diucapkan suaminya, Maria menjulurkan ingatannya sampai di kejauhan. Ia memang pernah punya kawan dekat, baik di masa kanak-kanak maupun di masa remaja. Namun, ketika kehidupan melaju mereka semua tertinggal di masa lalu. Maria tak pernah bertemu lagi dengan mereka, karena itu ia merasa kawan-kawannya selamanya membeku di masa kanak-kanak atau masa remaja.
”Kegiatan merindukan hanya milik orang yang punya waktu luang. Maksudku betul-betul luang; tidak ada pekerjaan, tidak sedang liburan, bahkan tidak sedang berencana apa-apa,” jawab Maria. Ia keluar dari kolam dan duduk di samping suaminya. Saat itu dua orang tamu hotel yang baru tiba melintas di depan kolam. Satunya orang India; laki-laki berkulit gelap. Satunya lagi seorang perempuan bermata sipit dan berkulit luar biasa putih sehingga cemerlang di bawah langit sore. Mereka tampak masih remaja. Perempuan itu sepertinya dari Korea, begitu pikir Maria. Seorang staf hotel berbicara dengan tamu-tamu tersebut sambil sesekali melirik Maria.
Ponsel Maria berdering dalam kamar. Maria beranjak, lantas dari tepi kolam suami Maria dapat...
JAKARTA (BP) - Aurelie Moeremans sempat curhat di akun media sosialnya ada pihak yang berusaha melakukan pembungkaman atau pembatasan peredaran buku terbarunya berjudul Broken Strings.
Bukan hanya melakukan hack terhadap akun media sosial yang menampilkan koleksi bukunya, ada yang sampai melakukan penekanan ke teman-teman artis yang ikut membantu mempromosikan buku Broken Strings untuk tujuan melakukan pembatasan peredarannya.
Selain itu, Aurelie Moeremans juga sempat curhat akun Instagram resminya juga sempat mau diambil alih hacker agar dia tidak bisa mempromosikan buku Broken Strings. Namun untuk akun media sosial resminya, tidak berhasil diambil alih karena artis yang saat ini tengah hamil tua melakukan proteksi kuat.
Di tengah upaya pembredelan karya Aurelie Moeremans, buku Broken Strings...