Buka konten ini

Belum lama ini viral kejadian pencari kerja (pencaker) wanita yang terjatuh ke dalam parit karena berdesakan dengan ribuan pencaker lainnya di salah satu perusahaan di Kawasan Industri Horizon Sagulung yang membuka lowongan kerja. Dua pencaker di antara mereka adalah Santi dan Erni.
SEPEDA motor Honda Beat yang dikendarai Santi dan Erni melaju perlahan memasuki Kawasan Industri Horizon, Sagulung, Sabtu (19/4) pagi itu. Harapan memenuhi benak keduanya. Berharap bisa menyampaikan lamaran ke PT Letsolar Energi Indonesia yang dikabarkan membuka lowongan kerja.
Namun, pemandangan di halaman perusahaan seketika meluluhlantakkan semangat mereka. Ribuan pencari kerja telah memenuhi lokasi. Hiruk pikuk dan padatnya lokasi tersebut membuat keduanya terdiam dan tercengang. ”Gila, padat banget! Lautan manusia di hadapan kami,” ucap Santi mengingat hari itu.
Desakan dan dorongan antarpelamar terjadi di depan mata. ”Tak ada barisan rapi. Semua berebut mendekati gerbang perusahaan,” timpal Erni.
Keringat mengalir di wajah Santi, 21, dan Erni, 22, yang datang dengan harapan, namun disambut kenyataan yang tidak ramah.
Mereka mencoba menyusup ke kerumunan. Masing-masing membawa map lamaran yang telah disiapkan rapi. Tapi laju mereka terhambat. Napas Santi mulai sesak. Erni memutuskan menarik mundur sahabatnya, takut situasi makin memburuk.
Salah seorang pencari kerja bahkan terjatuh ke dalam parit saat berdesakan, insiden yang kemudian viral di media sosial. Ketakutan dan kecewa bercampur dalam dada keduanya.
”Kami tak bisa mendekat ke gerbang. Terlalu padat, saling dorong,” kata Erni lirih.
Tak ingin memaksakan diri, mereka memilih beristirahat sejenak. Saat mencoba kembali mendekat, petugas sudah menutup pintu penerimaan lamaran. Kesempatan yang datang hanya sekejap, dan kini telah lewat begitu saja.
Apa yang dialami Santi dan Erni adalah potret nyata perjuangan para pencari kerja di Batam saat ini. Setiap kali ada lowongan terbuka, ribuan pencaker tumpah ruah, berebut peluang dalam kompetisi yang begitu ketat.
Proses memasukkan lamaran saja sudah menguras tenaga dan mental. Belum lagi jika harus melewati seleksi berlapis dan ketat. Tak semua yang bisa menyampaikan lamaran akan mendapat panggilan, dan tak semua yang dipanggil akan diterima.
Santi dan Erni telah menjalani kenyataan pahit ini selama lebih dari setahun. Sejak kontrak mereka tidak diperpanjang oleh perusahaan elektronik tempat mereka bekerja di Kawasan Industri Batamindo di Mukakuning. Keduanya hidup dari tabungan sambil terus berjuang mencari pekerjaan baru.
”Kami sempat coba jadi marketing, tapi penghasilan tergantung penjualan. Kami nggak punya pengalaman di bidang itu, susah juga,” kata Santi.
Keduanya tinggal di satu kontrakan sederhana di Perumahan Genta, Batuaji. Mes-ki berasal dari daerah yang berbeda, mereka bersahabat karena nasib yang sama: berjuang mencari penghidupan di kota industri ini.
Tak hanya sekali dua kali mereka gagal. Bahkan pernah menemukan surat lamaran yang mereka masukkan dibuang ke tempat sampah.
”Itu di Mukakuning. Lamaran kami dibuang karena sudah terlalu banyak pelamar,” ujar Santi mengenang.
Bagi mereka, surat lamaran bukan sekadar selembar kertas. Itu adalah harapan, kesempatan, dan harga diri. Maka melihatnya dibuang tanpa dibaca adalah pukulan yang menyakitkan.
Namun, mereka tak menye-rah. Setiap informasi lowongan yang beredar di media sosial mereka kejar. Setiap job fair mereka datangi. “Kadang ngantre dari subuh, tetap nggak dapat giliran,” kata Erni.
Menjadi karyawan perusahaan elektronik tetap jadi cita-cita mereka. Selain karena pengalaman yang pernah mereka miliki, juga karena penghasilan yang relatif stabil. ”Biar bisa kumpulin modal buat usaha kecil nanti,” ujar Lena.
Mereka menyadari dunia kerja kini tak lagi mudah. Persaingan ketat, syarat makin kompleks. Namun, tekad mereka tak surut. Mereka masih percaya, akan ada hari ketika lamaran mereka diterima dan pintu pekerjaan terbuka kembali.
Pagi itu, meski gagal menyampaikan lamaran, mereka kembali ke kontrakan dengan kepala tegak. Mereka telah berjuang. Dan perjuangan belum berakhir.
Di Batam dan banyak kota industri lainnya, kisah seperti Santi dan Erni bukan hal baru. Ia menjadi narasi harian yang tak tertulis, tentang ribuan anak muda yang rela berpanas-panasan, berdesakan, dan berkorban demi satu hal: pekerjaan!
Sebuah pekerjaan bukan hanya soal penghasilan. Bagi banyak pencaker, itu adalah simbol keberhasilan, kemandirian, dan jalan menuju masa depan yang lebih baik. Maka meski berkali-kali gagal, mereka tetap bangkit dan mencoba lagi. (***)
Laporan: EUSEBIUS SARA
Editor: RYAN AGUNG