Buka konten ini

BATAM (BP) – Perekonomian Batam terus menunjukkan tren positif di tengah dinamika global. Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil sinergi seluruh komponen daerah dalam meningkatkan daya saing kawasan.
Hal ini tercermin dari realisasi investasi Batam yang secara nasional mencapai Rp 44,01 triliun atau 118,97 persen dari target Rp 36,99 triliun. Secara rinci, penanaman modal dalam negeri (PMDN) tumbuh signifikan sebesar 125,90 persen, dari Rp8,16 triliun pada 2024 menjadi Rp18,43 triliun pada 2025. Sementara itu, penanaman modal asing (PMA) juga meningkat menjadi Rp 25,58 triliun.
“Pencapaian positif ini tidak terlepas dari sinergi yang baik seluruh komponen daerah dalam mempercepat daya saing Batam sebagai kota madani yang inovatif,” ujar Amsakar.
Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Batam tercatat sebesar 6,76 persen secara tahunan (year-on-year), meningkat dibandingkan tahun
sebelumnya sebesar 6,69 persen. Tren positif ini berlanjut pada triwulan IV 2025 yang tumbuh hingga 7,49 persen (year-on-year).
Dari sisi fiskal, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Batam meningkat signifikan menjadi Rp 2,36 triliun, dibandingkan Rp 1,78 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini turut mendorong total pendapatan daerah pada 2025 menjadi Rp 4,29 triliun, naik dari Rp 3,7 triliun pada 2024. Secara keseluruhan, sepanjang 2025 Batam mencatat realisasi investasi sebesar Rp 69,30 triliun, melampaui target tahunan Rp 60 triliun atau sekitar 15 persen di atas sasaran.
Amsakar menyebut capaian ini mencerminkan penguatan fundamental ekonomi, di mana pertumbuhan investasi tidak hanya berasal dari proyek baru, tetapi juga dari ekspansi pelaku usaha yang telah beroperasi.
”Yang tercermin adalah uang yang bekerja di lapangan, bukan sekadar rencana di atas kertas,” ujarnya.
Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, menambahkan bahwa struktur investasi Batam semakin matang, baik dari sisi asal negara maupun sektor usaha. Sepanjang 2025, Singapura masih menjadi sumber investasi utama, diikuti Taiwan, Tiongkok, Malaysia, Hong Kong, Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Swiss, dan Prancis.
“Komposisi ini menunjukkan Batam semakin terintegrasi dalam rantai pasok regional dan global,” ujarnya.
Di tengah dinamika global, Li Claudia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas energi sebagai faktor kunci daya saing industri. Ia menyebut BP Batam telah melakukan konsolidasi bersama pelaku usaha, Pertamina, dan PLN guna mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak dunia.
”BP Batam hadir untuk memastikan tidak terjadi lonjakan harga yang tidak terkendali di lapangan. Kita ingin menjaga ekosistem industri tetap sehat, dengan pasokan yang terjamin dan harga yang stabil,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketersediaan stok BBM di Batam saat ini dalam kondisi aman, sehingga pelaku usaha tidak perlu khawatir terhadap potensi kelangkaan dalam waktu dekat, meskipun terjadi tekanan harga di tingkat global.
Sementara itu, Anggota/Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, menyampaikan bahwa kinerja ekspor Batam pada awal 2026 menunjukkan perkembangan di pasar global. Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan nilai ekspor mencapai USD 860,32 juta atau tumbuh 30,71 persen pada Januari–Februari 2026.
Singapura berada di posisi kedua dengan nilai USD 704,47 juta (tumbuh 4,52 persen), sementara India mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 410,23 persen dengan nilai USD 344,67 juta. Fary menambahkan bahwa pasar utama Batam masih menunjukkan pertumbuhan, meskipun terdapat tekanan pada beberapa sektor.
“Beberapa sektor industri tetap mencatat kinerja positif. Fokus kami adalah menjaga momentum pada sektor yang menguat, sekaligus memberi perhatian pada sektor yang mengalami koreksi,” ujarnya.
Secara keseluruhan, total ekspor Batam pada Januari–Februari 2026 tercatat sebesar USD 3,11 miliar atau mengalami koreksi 3,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini dipengaruhi oleh sektor kapal, kakao/cokelat, serta produk besi dan baja olahan.
Di tengah dinamika global dan pergeseran rantai pasok, BP Batam terus mendorong investasi manufaktur bernilai tambah melalui hilirisasi industri, salah satunya melalui ekspor timah solder produksi PT Solder Tin Andalan Indonesia ke pasar India.
”Batam harus mampu memosisikan diri sebagai basis industri yang adaptif, efisien, dan siap ekspor. Momentum pertumbuhan ini harus diubah menjadi ekspansi industri bernilai tambah yang nyata,” kata Fary. (*)
Reporter : M SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK