Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Di tengah persaingan usaha yang semakin kompetitif, Kementerian Perindustrian terus berupaya meningkatkan kemampuan industri kecil dan menengah (IKM), khususnya pada subsektor fesyen dan kriya.
Upaya ini dilakukan guna memperkuat daya saing IKM agar mampu beradaptasi dengan dinamika industri serta tren pasar yang terus berkembang.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, industri fesyen dan kriya memiliki rantai nilai yang panjang dari hulu hingga hilir.
Keduanya saling terhubung dalam menciptakan nilai tambah dan daya saing global.
Rantai nilai tersebut mencakup penyediaan bahan baku, desain dan prototyping, proses produksi, branding dan pemasaran, hingga distribusi produk.
“Data terbaru menunjukkan bahwa industri fesyen dan kriya tetap menjadi salah satu andalan dalam ekonomi kreatif Indonesia,” kata Agus, Kamis (26/3).
Produk kriya dan fesyen dalam negeri juga terbukti mampu bersaing dan diminati di pasar ekspor.
Hal ini tercermin dari nilai ekspor industri kerajinan pada tahun 2025 yang mencapai USD 806,63 juta, sementara nilai ekspor industri fesyen yang erat kaitannya dengan industri pakaian jadi mencapai USD 8,85 miliar.
“Capaian tersebut menegaskan posisi strategis subsektor fesyen dan kriya sebagai penggerak penting ekonomi kreatif nasional serta menunjukkan peluang pertumbuhan produk kreatif Indonesia di pasar global,” ungkapnya.
Agus menambahkan, pelaku IKM di sektor fesyen dan kriya perlu terus mengembangkan keunggulan desain, serta nilai tambah produknya seiring dengan perkembangan tren pasar dan perubahan gaya hidup masyarakat.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Product Innovation Management oleh Gemser dan Leenders (2021), perusahaan yang mengintegrasikan desain dalam proses pengembangan produknya memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukannya.
“Temuan ini menegaskan bahwa desain bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari strategi pertumbuhan dan peningkatan daya saing industri. Industri kreatif fesyen dan kriya harus memiliki nilai tambah melalui desain yang kuat dan berbeda,” tegasnya.
Sebagai bagian dari upaya penguatan tersebut, Kemenperin melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) yang berada di bawah Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), menggelar forum Design Talk pada 6 Maret di Badung, Bali dengan tema “Strategi Penguatan Daya Saing Industri Kreatif melalui Desain”.
Kegiatan ini menjadi ajang diskusi dan berbagi pengetahuan antara perajin dan pelaku IKM dengan para pemangku kepentingan lainnya seperti akademisi serta praktisi desain.
Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menjelaskan, BPIFK menggandeng Asosiasi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII) sebagai kolaborator strategis dalam memperkuat peran desain dalam pengembangan produk industri.
“Kegiatan bincang-bincang dengan topik Design as Industrial Foundation ini diikuti oleh 75 peserta yang berasal dari pelaku IKM, akademisi, serta praktisi desain,” ujarnya. Reni menambahkan, kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya untuk mendorong peningkatan daya saing IKM fesyen dan kriya. Sekaligus mempertemukan perspektif industri, profesional desain, dan pelaku usaha dalam satu ruang diskusi yang terintegrasi. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI