Buka konten ini

SINGAPURA (BP) – Kisah menarik dari negeri jiran (tetangga), Singapura. Sebuah gerakan kecil dengan dampak besar. Kisah tentang Ignatius Tang.
Awalnya sederhana. Sekadar ingin berkumpul dengan teman. Namun langkah kecil itu justru mengantar Ignatius Tang pada jalan panjang: merawat bumi dengan caranya sendiri.
Siswa St Andrew’s Secondary School itu mulai terlibat dalam kegiatan keberlanjutan sejak Secondary 1. Tak ada niat besar kala itu. Hanya ikut-ikutan. Tapi dari situlah benih kepedulian tumbuh.
Masuk Secondary 2, Ignatius mulai bergerak lebih serius. Ia menggagas program pengumpulan angpao merah dan hijau bekas perayaan Imlek dan Hari Raya untuk didaur ulang. Ide sederhana itu disulap menjadi kompetisi tingkat sekolah. Hasilnya? Antusiasme siswa melonjak.
“Sekarang malah banyak yang menunggu kapan pengumpulan dibuka,” ujar Ignatius, 16.
Sejak dimulai pada 2023, jumlah amplop bekas yang terkumpul meningkat dua kali lipat. Tahun 2025, angkanya menembus sekitar 400 amplop per level. Bukan sekadar angka—ini tanda kebiasaan baru mulai terbentuk.
Tak berhenti di situ, Ignatius bersama teman-temannya meluncurkan Project SEAL—akronim dari Save Energy, Anti-Litter. Ia resah melihat ruang kelas yang kerap berantakan, lampu dan kipas dibiarkan menyala, serta meja kursi tak tertata.
Lewat poster, pengumuman rutin, hingga pendekatan ke petugas kebersihan, ia mengubah kebiasaan itu pelan-pelan. Kini, budaya rapi dan hemat energi mulai mengakar.
“Bahkan siswa baru diingatkan oleh senior,” katanya.
Dampaknya terasa nyata. Beban kerja petugas kebersihan berkurang. Ruang kelas lebih tertata. Dari hal kecil, perubahan besar mulai terlihat.
Ignatius sadar, jalan menjaga lingkungan tak selalu mulus. Ada saja suara sumbang yang meragukan.
“Tapi menurut saya, sekecil apa pun perubahan tetap berarti,” ujarnya mantap.
Di sudut lain Singapura, pengalaman berbeda dialami Mon Myat Thu. Siswi Yuying Secondary School ini belajar mencintai lingkungan lewat lumpur sawah.
Selama lebih dari lima bulan, ia mengikuti proses menanam padi—dari mengolah tanah, menanam bibit, hingga panen. Proses panjang itu membuka matanya tentang nilai makanan.
“Baru terasa, ternyata menghasilkan beras itu butuh usaha besar,” katanya.
Ia juga menghadapi tantangan, mulai dari hama hingga menjaga tanaman tetap tumbuh optimal. Namun dari situ, ia belajar tentang ketekunan dan tanggung jawab.
Pengalaman tersebut membuatnya lebih menghargai isu ketahanan pangan dan pentingnya mengurangi limbah makanan. Kini, ia bahkan memimpin kelompok Eco-Eagles di sekolahnya.
Sekolah lain, Greendale Secondary School, memilih pendekatan yang lebih kekinian. Para siswa diajak membuat konten media sosial tentang isu lingkungan—dari sampah plastik hingga inovasi sepeda bambu.
Bagi mereka, lingkungan bukan sekadar teori di buku. Tapi sesuatu yang bisa dikampanyekan, diperdebatkan, bahkan dijadikan tren.
“Kalau dikemas menarik, siswa akan datang dengan sendirinya,” kata guru geografi Abby Goh.
Tak hanya di sekolah, para siswa juga turun langsung ke masyarakat Punggol. Mereka mengajak warga memilah sampah, melakukan upcycling, hingga mengenalkan gaya hidup ramah lingkungan.
Salah satunya Aanya Agarwal, 15. Ia mengaku kegiatan itu memberi makna lebih.
“Ini bukan sekadar tugas sekolah. Tapi benar-benar berdampak,” ujarnya.
Upaya-upaya itu menunjukkan satu hal: kepedulian lingkungan bisa tumbuh jika diberi ruang.
Di St Andrew’s Secondary School, misalnya, siswa bahkan mengajak orang tua ikut belajar lewat program eksplorasi Sungai Kallang. Ada pula festival hijau yang melibatkan keluarga dan komunitas.
Pesannya jelas: menjaga lingkungan bukan tugas individu, tapi gerakan bersama.
Para pendidik sepakat, ketika remaja diberi kepercayaan, mereka tak lagi sekadar menerima informasi. Mereka menjadi penggerak perubahan. Dan dari ruang kelas, kebun sekolah, hingga komunitas, harapan itu terus tumbuh.Seperti kata Ignatius—perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO