Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengeluarkan ancaman keras terhadap Amerika Serikat dan Israel dalam pernyataan publik pertamanya sejak kematian ayahnya, Ali Khamenei.
Dalam pesan yang disiarkan media pemerintah Iran, Kamis (12/3) waktu setempat, Mojtaba bersumpah akan membalas kematian ayahnya serta sejumlah anggota keluarganya yang tewas dalam serangan gabungan AS–Israel.
Pidato tersebut tidak disampaikan langsung di televisi. Pernyataan Mojtaba hanya dibacakan oleh penyiar televisi pemerintah Iran.
“Kami tidak akan pernah mundur dan bersumpah membalas darah para martir kami,” demikian isi pernyataan tertulis Mojtaba.
Ia menegaskan balasan Iran tidak hanya ditujukan atas kematian pemimpin tertinggi sebelumnya, tetapi juga terhadap seluruh korban dalam konflik yang sedang berlangsung.
“Mereka yang membunuh anak-anak kami akan membayar harganya,” lanjut pernyataan tersebut.
Dalam pidato tersebut, Mojtaba juga mengisyaratkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi berlangsung panjang, tergantung pada kepentingan pihak-pihak yang terlibat.
Ia turut menyampaikan belasungkawa kepada korban serangan terhadap sebuah sekolah perempuan di Minab yang menewaskan sedikitnya 175 orang, banyak di antaranya anak-anak.
Serangan itu diduga berasal dari rudal militer AS. Laporan awal yang dikutip Associated Press menyebut kemungkinan terjadi kesalahan intelijen saat operasi militer berlangsung.
Komando Pusat militer AS disebut menggunakan koordinat target lama dari Defense Intelligence Agency saat melancarkan serangan tersebut.
Iran Tegaskan Blokade Selat Hormuz
Selain ancaman balasan militer, Mojtaba menegaskan Iran akan terus mempertahankan blokade di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Ia menyebut tekanan terhadap jalur pelayaran tersebut merupakan bagian penting dari strategi perang Iran.
“Kami akan menghancurkan fasilitas mereka. Aktivitas pertahanan kami harus terus berlanjut, termasuk menutup Selat Hormuz,” ujarnya.
Mojtaba juga menyatakan Iran tetap membuka peluang persahabatan dengan negara-negara tetangga. Namun serangan terhadap instalasi militer AS di kawasan disebut akan terus berlanjut.
Harga Minyak Dunia Melonjak
Ketegangan yang meningkat di kawasan Teluk Persia langsung mengguncang pasar energi global.
Harga minyak dunia dilaporkan melonjak sekitar 10 persen pada Kamis setelah pasukan Iran meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal yang mencoba melintas di sekitar Selat Hormuz.
Salah satu serangan dilaporkan menghantam kapal tanker milik perusahaan AS yang berlayar dengan bendera Marshall Islands. Pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Insiden itu menewaskan sedikitnya satu awak kapal serta menyebabkan dua kapal lainnya terbakar.
Sementara itu, sebuah kapal kontainer juga dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di dekat Dubai pada Kamis dini hari, menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations.
Netanyahu Dirumorkan Tewas
Spekulasi global bermunculan setelah media Iran melaporkan kemungkinan Benjamin Netanyahu tewas atau mengalami luka serius di tengah konflik yang memanas antara Israel dan Iran.
Laporan tersebut pertama kali dipublikasikan oleh Tasnim News Agency, yang menyebut Netanyahu tidak terlihat di publik selama hampir empat hari terakhir.
Ketidakhadiran itu dianggap tidak biasa karena selama ini perdana menteri Israel tersebut hampir setiap hari menyampaikan pesan video kepada publik terkait situasi perang.
Dalam beberapa hari terakhir, pernyataan yang dikaitkan dengan Netanyahu hanya muncul dalam bentuk tulisan tanpa rekaman video maupun foto terbaru. Situasi tersebut memicu berbagai spekulasi mengenai kondisi pemimpin Israel itu.
Tasnim juga menyebut rumor tersebut berkembang di sejumlah sumber berbahasa Ibrani yang mempertanyakan keberadaan Netanyahu.
Namun hingga kini klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Pemerintah Israel belum memberikan klarifikasi resmi. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK