Buka konten ini

Penyakit mata sering kali dianggap sepele oleh sebagian masyarakat. Banyak orang baru memeriksakan diri ketika penglihatan sudah terasa sangat terganggu. Padahal, beberapa penyakit mata dapat berkembang secara perlahan tanpa disadari, salah satunya adalah glaukoma.

GLAUKOMA merupakan salah satu penyebab kebutaan yang cukup tinggi di dunia. Penyakit ini bahkan disebut sebagai “pencuri penglihatan” karena kerusakan yang ditimbulkan sering kali terjadi tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.
Hal tersebut disampaikan oleh Dokter Spesialis Mata di Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Dessy Ariyeni, Sp.M, dalam sesi edukasi kesehatan bertajuk Kenali Glaukoma Sebelum Terlambat yang disiarkan secara langsung melalui Instagram Hallo Awal Bros, Kamis (12/3).
Menurutnya, banyak masyarakat yang belum memahami apa sebenarnya glaukoma dan bagaimana penyakit ini dapat menyebabkan kebutaan. dr. Dessy menjelaskan bahwa glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua terbanyak setelah katarak. Penyakit ini terjadi akibat kerusakan pada saraf mata yang umumnya dipicu oleh tingginya tekanan di dalam bola mata.
“Glaukoma ditandai oleh tiga hal utama. Pertama, adanya tekanan bola mata yang tinggi. Kedua, terdapat kelainan pada saraf mata. Ketiga, adanya gangguan pada lapang pandang,” jelasnya.

Tekanan bola mata normal berada pada kisaran 11 hingga 21 milimeter air raksa (mmHg). Jika tekanan bola mata melebihi batas tersebut, maka kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat menjadi tanda awal glaukoma.
Namun, tekanan bola mata yang tinggi saja belum cukup untuk memastikan diagnosis glaukoma. Dokter mata juga perlu melakukan pemeriksaan saraf mata dan lapang pandang pasien menggunakan alat khusus.
Salah satu alat yang digunakan untuk memeriksa lapang pandang adalah Humphrey Field Analyzer, yaitu alat yang dapat mendeteksi apakah ada bagian penglihatan yang mulai berkurang.
Secara umum, glaukoma terbagi menjadi dua jenis, yaitu glaukoma primer dan glaukoma sekunder. Glaukoma primer biasanya terjadi akibat kelainan pada anatomi mata. Pada jenis ini, terdapat dua bentuk utama, yaitu glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup.
Sementara itu, glaukoma sekunder disebabkan oleh faktor lain di luar struktur anatomi mata. Salah satu penyebab yang cukup sering terjadi adalah penggunaan obat yang mengandung steroid tanpa pengawasan dokter.
“Di masyarakat sering kita temui kasus mata merah, lalu pasien membeli obat tetes mata sendiri. Padahal beberapa obat tersebut mengandung steroid. Jika digunakan dalam jangka panjang tanpa pengawasan dokter, hal itu dapat meningkatkan tekanan bola mata dan memicu glaukoma,” ujar dr. Dessy.
Selain itu, glaukoma sekunder juga dapat terjadi pada penderita penyakit tertentu seperti diabetes dan hipertensi. Kedua penyakit ini dapat memicu terbentuknya pembuluh darah abnormal pada mata yang kemudian meningkatkan tekanan bola mata.
Gangguan pada saraf mata
Kerusakan saraf mata merupakan salah satu tanda penting glaukoma. Kerusakan ini biasanya hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan dokter mata.
Pada penderita glaukoma, saraf mata dapat mengalami perubahan bentuk atau pembesaran. Kondisi ini menyebabkan gangguan pada lapang pandang. Gangguan lapang pandang biasanya terjadi secara bertahap. Pada tahap awal, bagian penglihatan yang terganggu biasanya berada di sisi pinggir atau perifer.
Akibatnya, penderita sering merasa seolah-olah penglihatannya semakin sempit, seperti melihat melalui lubang kunci. “Pasien biasanya mulai menyadari penglihatannya menyempit atau terasa lebih gelap. Padahal sebenarnya gangguan itu sudah terjadi sejak lama,” jelasnya.
Perbedaan glaukoma dan katarak
Banyak masyarakat yang masih sulit membedakan antara glaukoma dan katarak, padahal keduanya merupakan penyakit mata yang berbeda. Katarak terjadi karena kekeruhan pada lensa mata, sehingga penglihatan menjadi buram. Kondisi ini masih dapat diperbaiki melalui tindakan operasi katarak.
Sementara itu, glaukoma menyebabkan kerusakan pada saraf mata, sehingga gangguan penglihatan yang terjadi bersifat permanen. “Jika saraf mata sudah rusak, penglihatan tidak bisa kembali seperti semula. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting,” katanya.
Bisa terjadi pada semua usia
Banyak orang beranggapan bahwa glaukoma hanya menyerang orang lanjut usia. Padahal, penyakit ini dapat terjadi pada semua kelompok usia, termasuk anak-anak. Pada bayi atau anak di bawah usia dua tahun, glaukoma dikenal glaukoma kongenital.
Ada beberapa tanda yang dapat dikenali oleh orang tua, antara lain: Bagian hitam mata terlihat lebih besar dari ukuran normal, anak sering mengeluarkan air mata berlebihan, dan Anak lebih sering berkedip atau sensitif terhadap cahaya.
Jika menemukan tanda-tanda tersebut, orang tua disarankan segera membawa anak ke dokter mata untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pada anak, glaukoma sering kali berkaitan dengan faktor genetik atau kelainan bawaan.
Penanganan biasanya dimulai dengan pemberian obat-obatan untuk menurunkan tekanan bola mata. Namun pada beberapa kasus, tindakan operasi mungkin diperlukan untuk mempertahankan fungsi penglihatan.
Selain pada anak-anak, glaukoma juga dapat terjadi pada usia muda. Kondisi ini disebut glaukoma juvenil, yang biasanya terjadi pada usia di bawah 40 tahun. Salah satu tanda yang dapat ditemukan adalah tekanan bola mata yang tinggi. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan saraf mata secara perlahan.
Pengaruh gaya hidup
Meskipun tidak selalu menjadi penyebab langsung, beberapa faktor gaya hidup juga dapat meningkatkan risiko terjadinya glaukoma. Salah satunya adalah miopia tinggi atau rabun jauh dengan ukuran minus di atas enam. Kondisi ini diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami peningkatan tekanan bola mata.
Selain itu, penggunaan gawai atau gadget secara berlebihan juga dapat memicu gangguan penglihatan, terutama pada anak-anak. Aktivitas melihat layar dalam jarak dekat dalam waktu lama dapat menyebabkan mata bekerja lebih keras melalui proses yang disebut akomodasi.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan seperti miopia progresif yang berpotensi meningkatkan risiko glaukoma.
“Kami menganjurkan penggunaan gadget pada anak maksimal sekitar satu jam per hari,” ujar dr. Dessy. Selain itu, kurang tidur atau kebiasaan begadang juga dapat memengaruhi tekanan darah. Peningkatan tekanan darah ini dapat berhubungan dengan peningkatan tekanan bola mata.
Pemeriksaan mata secara rutin
Karena sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, masyarakat dianjurkan melakukan pemeriksaan mata secara rutin, meskipun tidak mengalami keluhan. Pemeriksaan mata sebaiknya dilakukan setidaknya setiap enam bulan sekali.
Dengan pemeriksaan rutin, dokter dapat mendeteksi lebih dini jika terjadi peningkatan tekanan bola mata atau kelainan lain pada mata. “Semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang kita untuk mempertahankan fungsi penglihatan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan menggunakan obat tetes mata tanpa resep dokter.
dr Dessy menjelaskan bahwa deteksi dini sangat penting untuk mencegah kerusakan penglihatan yang lebih parah. Menurutnya, gaya hidup masyarakat modern saat ini turut memengaruhi kesehatan mata, terutama karena penggunaan gawai atau gadget yang semakin tinggi.
“Sekarang gadget sudah dianggap sebagai kebutuhan primer. Hampir semua aktivitas menggunakan gadget, mulai dari pekerjaan hingga hiburan. Hal ini tentu membuat mata bekerja lebih keras setiap hari,” ujarnya.
Aturan sehat menggunakan gadget
Penggunaan gadget dalam waktu lama juga dapat menyebabkan kelelahan pada mata. Oleh karena itu, ada beberapa aturan yang dianjurkan untuk menjaga kesehatan mata.
Salah satunya adalah aturan 20-20-20.
Aturan ini berarti setiap 20 menit menggunakan gadget, seseorang dianjurkan untuk beristirahat selama 20 detik dengan melihat objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau sekitar 6 meter.
Cara ini dapat membantu mata beristirahat setelah fokus melihat layar dalam jarak dekat.
Selain itu, kebiasaan membaca juga perlu dilakukan dengan cara yang benar, seperti:
•Menggunakan pencahayaan yang cukup.
•Membaca dalam posisi duduk.
•Menjaga jarak baca minimal 30 sentimeter dari mata.
Cara mendeteksi glaukoma sejak dini
Untuk memastikan seseorang mengalami glaukoma atau tidak, pemeriksaan tidak bisa dilakukan secara mandiri. Pasien harus menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan yang memiliki layanan dokter spesialis mata.
Langkah pertama yang biasanya dilakukan adalah pemeriksaan tekanan bola mata.
Tekanan bola mata yang berada di atas batas normal perlu diwaspadai sebagai salah satu tanda glaukoma. Jika tekanan bola mata tinggi, dokter akan melanjutkan pemeriksaan lain untuk memastikan kondisi saraf mata.
Salah satu pemeriksaan lanjutan adalah pemindaian atau scanning saraf mata menggunakan alat khusus.
Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat melihat apakah terjadi pelebaran atau kerusakan pada saraf mata.
“Dari hasil scanning kita bisa mengetahui apakah saraf mata mengalami perubahan atau tidak. Jika sudah terjadi pelebaran saraf mata, biasanya pemeriksaan akan dilanjutkan dengan pemeriksaan lapang pandang,” jelasnya.
Pemeriksaan lapang pandang bertujuan untuk mengetahui seberapa luas area penglihatan yang masih dapat dilihat oleh pasien.
Gejala yang perlu diwaspadai
Meskipun pemeriksaan medis sangat penting, ada beberapa gejala yang dapat menjadi tanda awal glaukoma.
Pada jenis glaukoma sudut terbuka, penyakit ini biasanya berkembang secara kronis atau perlahan. Gejala yang sering muncul antara lain:
– Melihat lingkaran seperti pelangi saat melihat lampu atau cahaya terang.
– Mata terasa nyeri, terutama pada salah satu sisi.
– Nyeri yang menjalar hingga ke kepala.
– Penglihatan terasa semakin sempit.
Banyak orang mengira nyeri mata atau sakit kepala tersebut hanya keluhan biasa, sehingga tidak segera memeriksakan diri ke dokter. Padahal kondisi tersebut bisa saja berkaitan dengan peningkatan tekanan bola mata.
Sementara itu, pada glaukoma sudut tertutup, gejala biasanya muncul secara tiba-tiba dan lebih berat.
Gejala yang dapat terjadi antara lain: Mata merah, mata berair, sakit kepala hebat, mual dan muntah. Selain itu, penglihatan kabur secara mendadak.
Jika mengalami gejala tersebut, pasien sebaiknya segera mencari pertolongan medis karena kondisi tersebut dapat menjadi serangan glaukoma yang memerlukan penanganan cepat.
Kerusakan saraf mata bersifat permanen
Salah satu hal yang perlu dipahami masyarakat adalah bahwa kerusakan saraf mata akibat glaukoma bersifat permanen.
Ketika tekanan bola mata terlalu tinggi, saraf mata dapat mengalami kerusakan. Jika kerusakan tersebut sudah terjadi, penglihatan tidak dapat dikembalikan seperti semula.
“Karena kerusakan saraf mata bersifat permanen, maka penanganan yang paling penting adalah menurunkan tekanan bola mata secepat mungkin agar kerusakan tidak semakin parah,” jelas dr. Dessy. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GUSTIA BENNY