Buka konten ini

Staf Khusus Mendikdasmen
KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) telah menggelar Konsolidasi Nasional (Konsolnas) pada 9–11 Februari 2026 di PPSDM Kemendikdasmen. Tujuannya adalah membangun sinergi antara semua pihak yang terlibat dalam pendidikan, mengidentifikasi permasalahan pendidikan, berbagi praktik baik, serta memperkuat kerja sama antar kementerian dan lembaga. Melalui acara itu, diharapkan terjalin kolaborasi yang lebih erat dan efektif untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua, sesuai dengan tema ’’Memperkuat Partisipasi Semesta, Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua’’.
Berbagai rekomendasi yang hadir itu tentu tidak sekadar bersifat teknis, tetapi juga strategis guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Berbagai aspek pendidikan dibahas di dalam forum, mulai strategi penguatan Wajib Belajar 13 Tahun, pembangunan dan revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, Tes Kemampuan Akademik (TKA), isu Data Pokok Pendidikan, penguatan pendidikan karakter, penguatan tata kelola guru dan tenaga kependidikan, pengembangan bahasa, hingga praktik pembelajaran mendalam.
Hakikat
Konsolnas itu tentu lebih dari sekadar pertemuan biasa. Ia sejatinya adalah upaya menyatukan berbagai kekuatan dan pemikiran demi memperbaiki praktik pendidikan di Indonesia. Dalam forum tersebut, semua pihak berkumpul untuk saling berbagi pandangan dan pengalaman. Tujuan utamanya tentu tidak sekadar mendiskusikan masalah, tetapi lebih dari itu, mencari solusi bersama yang bisa diterapkan secara nyata di lapangan. Ini adalah manifestasi nyata dari gaung partisipasi semesta yang selalu didengungkan Mendikdasmen Abdul Mu’ti. Pemahaman dasar bahwa kerja-kerja membangun pendidikan bukanlah utusan satu pihak saja, melainkan tugas kolektif semua.
Di belakang pertemuan Konsolnas tersebut, terbentuk suatu keyakinan mendasar bahwa transformasi dalam pendidikan hanya dapat terjadi jika ada kerja sama yang tulus dan berkesinambungan.
Konsolnas menggugah semua pihak untuk melihat pendidikan sebagai bagian dari tanggung jawab kolektif bangsa. Ini adalah kesempatan untuk menghidupkan dialog yang lebih terbuka sehingga setiap suara bisa didengar dan dijadikan bagian dari solusi.
Implementasi
Setelah perhelatan Konsolnas tuntas, penting untuk memastikan bahwa berbagai hasil diskusi dan kesepakatan yang tercapai dapat diwujudkan dalam kebijakan dan langkah-langkah nyata. Konsolnas harus dipahami bukan sebagai akhir, melainkan justru awal dari perjalanan panjang untuk mengimplementasikan transformasi dalam dunia pendidikan.
Karena itu, setelah forum besar tersebut, penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melanjutkan komitmen dan melaksanakan agenda strategis yang telah disepakati. Menurut penulis, terdapat beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas hasil Konsolnas.
Pertama, memperkuat kolaborasi yang telah terbangun selama pelaksanaan Konsolnas. Salah satu tujuan substansial acara itu adalah membangun sinergi antara berbagai pihak yang terlibat dalam pendidikan. Pasca-Konsolnas, hal itu harus diteruskan dengan mengembangkan jaringan kerja yang lebih struktural, solid, serta berkelanjutan.
Kedua, mengimplementasikan dan mengembangkan berbagai praktik baik yang telah dibagikan selama Konsolnas berlangsung. Dalam Konsolnas, ada berbagai praktik baik dari daerah atau lembaga yang telah berhasil menerapkan program-program inovatif dan berdampak positif. Pasca-Konsolnas, berbagai praktik itu perlu diadaptasi dan diterapkan di tempat lain. Pemerintah daerah dan sekolah perlu diberi panduan dan dukungan untuk mengimplementasikan praktik-praktik tersebut.
Ketiga, menguatkan sistem evaluasi dan pemantauan. Langkah tersebut penting untuk memastikan bahwa agenda strategis pasca-Konsolnas berjalan dengan baik. Kemendikdasmen bersama pemangku kepentingan lainnya harus memiliki sistem yang memungkinkan untuk memantau perkembangan dan kemajuan setiap inisiatif yang telah disepakati. Hal itu penting guna mengidentifikasi kendala yang muncul di lapangan sekaligus memberikan perbaikan yang berkelanjutan.
Keempat, pasca-Konsolnas, penting untuk melibatkan masyarakat dalam proses pemantauan dan evaluasi. Berangkat dari kesadaran bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab masyarakat secara keseluruhan. Karena itu, penguatan partisipasi semesta dalam pendidikan harus terus dilanjutkan setelah Konsolnas. Masyarakat, orang tua, dan sektor swasta harus diajak mengawasi jalannya program pendidikan dan memberikan masukan konstruktif. Dengan cara itulah, pendidikan di Indonesia dapat terus berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan zaman.
Akhirnya, dengan terlaksananya Konsolnas 2026, tumbuh harapan besar agar praktik pendidikan nasional terus berkembang secara signifikan. Seluruh elemen strategis bangsa, mulai pemerintah, lembaga pendidikan, hingga masyarakat, perlu bahu-membahu dalam upaya membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Pendidikan yang tidak hanya memberikan akses yang merata, tetapi juga menjamin kualitas yang tinggi bagi semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali, sebangun dengan spirit Kemendikdasmen untuk mencapai pendidikan bermutu untuk semua. (*)