Buka konten ini
SEKUPANG (BP) – Sebanyak 739 remaja putri di Kota Batam atau sekitar 3,1 persen teridentifikasi mengalami anemia sepanjang 2025. Angka tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan hemoglobin (Hb) rutin yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam di sekolah dan puskesmas sebagai bagian dari upaya deteksi dini.
Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan skrining aktif dilakukan agar kasus anemia dapat ditemukan lebih awal dan segera ditangani sebelum berdampak lebih luas.
“Pemeriksaan Hb kami lakukan di sekolah-sekolah dan juga melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari situ terdata 739 remaja putri mengalami anemia dan semuanya sudah diberikan pengobatan sesuai standar,” ujarnya.
Menurut Didi, deteksi dini menjadi kunci agar anemia tidak mengganggu proses belajar maupun kesehatan jangka panjang. Remaja yang hasil pemeriksaannya menunjukkan kadar Hb rendah langsung mendapatkan Tablet Tambah Darah (TTD) sebanyak satu hingga dua tablet per hari selama dua hingga empat minggu.
“Setiap dua minggu kami evaluasi kembali. Kalau belum membaik, pemberian TTD dilanjutkan atau dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan,” jelasnya.
Ia menilai angka 3,1 persen di Batam relatif lebih kecil dibandingkan angka nasional. Secara nasional, prevalensi anemia pada 2018 mencapai 48,9 persen, sementara data Kementerian Kesehatan tahun 2025 mencatat sekitar 7,5 juta penduduk Indonesia menderita anemia.
Meski demikian, Didi menegaskan upaya pencegahan tetap harus diperkuat, terutama melalui edukasi serta pengawasan konsumsi TTD di sekolah.
“Tantangan kami bukan hanya menemukan kasus, tetapi memastikan remaja mau rutin minum TTD. Masih ada yang takut mual, khawatir efek samping, atau percaya mitos yang tidak benar,” katanya.
Selain kepatuhan remaja, dukungan sekolah dan orang tua dinilai sangat menentukan keberhasilan program. Distribusi TTD yang merata dan pengawasan guru saat pembagian juga terus diperbaiki.
Didi menambahkan, anemia pada remaja dapat menyebabkan tubuh lemas, pusing, hingga pingsan saat beraktivitas. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi.
“Karena itu pencegahan sejak usia sekolah sangat penting. Kami ingin remaja Batam tumbuh sehat dan produktif,” tutupnya. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : GALIH ADI SAPUTRO