Buka konten ini

Senja perlahan turun di ujung utara Kepulauan Anambas. Cahaya keemasan menimpa undakan batu yang menjulang di Air Terjun Temburun. Air yang jatuh bertingkat-tingkat memantulkan kilau lembut, sementara suara gemuruhnya terdengar seperti napas panjang alam yang tak pernah lelah.
DI sela percikan air itu, langkah-langkah warga mulai berdatangan. Mereka memanggul tikar, membawa bekal sederhana, arang, dan ikan segar dalam wadah plastik. Anak-anak berlari lebih dulu, tertawa riang menuruni anak tangga. Orang-orang tua menyusul perlahan, saling menyapa dengan senyum hangat. Beberapa hari menjelang Ramadan, air terjun ini bukan sekadar tujuan wisata. Ia berubah menjadi ruang batin, tempat tradisi lama kembali dihidupkan.
Berendam di air yang mengalir
Satu per satu warga menanggalkan alas kaki, menyentuhkan ujung jari ke aliran yang dingin. Ada yang langsung menceburkan diri, ada pula yang berdiri sejenak, memejamkan mata, membiarkan gemuruh air menjadi latar doa yang tak terucap. Air mengalir dari kepala hingga kaki, membasuh tubuh dan menurut keyakinan yang diwariskan turun-temurun ikut membawa pergi beban dan kesalahan masa lalu.
Bagi masyarakat Anambas, air yang terus bergerak melambangkan kehidupan yang tak pernah diam. Ia mengajarkan tentang melepaskan. Tentang membiarkan yang keruh hanyut, agar yang tersisa adalah kejernihan hati menyambut bulan suci. “Tradisi ini sudah ada dari dulu, turun-temurun. Biasanya, banyak warga pulau datang ke sini untuk jalankan tradisi ini,” ujar tokoh masyarakat setempat, Bagas Apriboy, suatu sore di tepian air terjun.
Menurutnya, momen paling ramai biasanya terjadi sehari sebelum Ramadan. Pada petang terakhir bulan Sya’ban, tempat ini dipenuhi warga yang ingin menutup bulan lama dengan cara yang bermakna. Langit meredup perlahan, suara air tetap setia mengalun, dan orang-orang saling bersalaman sebelum pulang. Ada haru yang menggantung di udara—perasaan seperti berpamitan dengan diri yang lama.
Usai berendam, suasana berubah
Di atas batu-batu besar yang mengering, bara api mulai disusun. Asap tipis mengepul, membawa aroma kayu terbakar yang khas.
Ikan-ikan segar dibersihkan seadanya, dibumbui sederhana, lalu dibaringkan di atas panggangan. Tawa kembali pecah, kali ini bercampur dengan gurauan ringan dan cerita keseharian.
Membakar ikan bukan sekadar makan bersama. Dalam pemaknaan warga, bara api adalah simbol membakar dosa-dosa yang telah lalu. Tubuh yang menghangat di dekat nyala api menjadi perlambang semangat baru—tekad untuk menjalani Ramadan dengan hati yang lebih bersih.
Saat ikan matang, keluarga-keluarga duduk melingkar di atas tikar. Tak ada jarak usia atau status sosial. Anak-anak, orang tua, tetangga, semua menyantap hidangan yang sama dengan kesederhanaan yang justru terasa istimewa. Di tengah udara pegunungan yang sejuk, kebersamaan menjadi menu utama.
Kini, tradisi itu tak selalu dilakukan tepat sehari sebelum Ramadan. Kesibukan dan jarak tempuh membuat sebagian warga memilih datang lebih awal. Namun perubahan waktu tak mengurangi maknanya. Yang terpenting adalah niat untuk menyucikan diri dan mempererat silaturahmi.
Di tengah arus modernisasi yang perlahan menyentuh pulau-pulau kecil, tradisi di Air Terjun Temburun tetap bertahan. Ia menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan perjalanan batin yang dimulai dari kesadaran untuk membersihkan diri.
Dan selama air terus jatuh dari undakan batu Temburun, selama bara api tetap menyala di atas batu-batu sungai, masyarakat Anambas akan terus datang. Membasuh diri. Menghangatkan hati. Menyambut Ramadan dengan jiwa yang kembali jernih.(***)
Reporter: IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY