Buka konten ini

(Foto Bawah) Staman Malay Musical saat tampil di Gedung Gonggong Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. Foto: Staman Official
Di tengah derasnya arus musik modern yang menguasai ruang dengar generasi muda, musik Melayu perlahan terdesak ke pinggir. Dari Pulau Penyengat, sekelompok anak muda memilih jalan sunyi: merawat nada-nada Melayu agar tetap hidup dan berakar di tanahnya sendiri.
PULAU Penyengat, sebuah pulau kecil sarat sejarah di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, tak hanya dikenal sebagai pusat peradaban Melayu. Dari pulau inilah irama tradisi terus dijaga agar tak sekadar tinggal catatan masa lalu. Di sebuah sanggar budaya, bunyi akordion, suling, dan gendang Melayu masih setia berdenting, menyatu dengan gitar dan bass modern.
Mereka adalah Staman Malay Musical, grup musik Melayu yang lahir pada 2014. Dulu bernama Staman Pulau Penyengat, kelompok ini bermarkas di Sanggar Budaya Warisan Pulau Penyengat. Pada awal berdiri, Staman dihuni sekitar 30 musisi muda. Waktu berjalan, regenerasi terjadi, dan kini formasi menetap pada 11 personel.
Bagi para anggotanya, Staman bukan sekadar kelompok musik. Ia menjadi ruang tumbuh bagi anak muda Melayu untuk berkarya, menyalurkan bakat, sekaligus menjauhkan diri dari pengaruh negatif. Musik Melayu dijadikan medium untuk tetap kreatif dan produktif, tanpa tercerabut dari jati diri budaya.
Pengurus sekaligus pemain akordion Staman, Muhammad Razif, mengatakan, sejak awal dibentuk, kelompok ini mengemban misi menjaga eksistensi musik Melayu yang perlahan mulai memudar. Menurutnya, musik tradisi harus terus dihidupkan agar tetap relevan di telinga generasi muda.
“Selain memainkan lagu-lagu Melayu klasik seperti Tanjung Katong, Serampang Laut, dan Suri Perdana, kami juga mengaransemen lagu-lagu modern ke dalam nuansa Melayu,” ujar Razif di Tanjungpinang, Sabtu (24/1).
Eksplorasi musikal menjadi ciri khas Staman. Mereka memadukan zapin, joget, makyong, dan inang dengan sentuhan modern, bahkan reggae. Perpaduan itu menghadirkan warna baru tanpa menghilangkan ruh tradisi.
Keunikan tersebut tak hanya memikat penikmat musik lokal. Razif mengungkapkan, seorang profesor asal Australia pernah meneliti genre musik yang dimainkan Staman saat mereka tampil di sebuah festival.
“Waktu itu ia merekam penampilan kami dan menjadikannya bahan penelitian di Australia,” tuturnya.
Dalam setiap penampilan, Staman mengandalkan beragam instrumen, mulai dari alat musik modern hingga Melayu klasik. Gitar, bass, biola, akordion, dan suling berpadu dengan kajon, gendang bebano, darbuka, cabasa, champ, serta tamborin.
“Semua personel dituntut mampu memainkan alat musik,” kata Razif.
Konsistensi bermusik membawa Staman meraih sejumlah prestasi. Pada 2014, mereka keluar sebagai juara pertama Festival Akustik Musikalisasi Gurindam Dua Belas di Kedai Kopi Maryam, Tanjungpinang. Di tahun yang sama, Staman juga meraih juara tiga dan favorit Festival Akustik Religi O Nine Tanjungpinang Radio.
Puncaknya pada 2020, Staman Malay Musical melebarkan sayap ke tingkat nasional dengan berkolaborasi bersama musisi Indonesia. Dari kolaborasi itu lahirlah lagu “Senandung Negeri”, penanda bahwa musik Melayu dapat berdialog dengan zaman.
Kini, Staman kerap mengisi berbagai kegiatan, mulai dari agenda budaya dan pemerintahan, resepsi pernikahan, hingga kegiatan sosial dan kampanye.
“Prestasi ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berkarya dan bekerja lebih keras melestarikan musik Melayu,” ujar Razif.
Ke depan, Staman Malay Musical berharap dapat terus melangkah lebih jauh, bahkan menembus panggung internasional. Harapannya sederhana namun bermakna.
“Kami ingin musik Melayu terus didengar dan dikenal luas, tidak hanya di kampung halaman, tetapi juga hingga ke luar negeri. Agar budaya Melayu tidak hilang di bumi,” tutupnya. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RATNA IRTATIK