Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Indonesia berada di persimpangan kepentingan global. Di saat Amerika Serikat dan Tiongkok saling berebut penguasaan mineral kritis untuk menopang industri masa depan, Tanah Air justru muncul sebagai salah satu pemilik cadangan strategis terbesar yang kini menjadi incaran dua raksasa ekonomi dunia.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai mineral kritis tidak lagi sekadar isu ekonomi. Komoditas tersebut telah bertransformasi menjadi instrumen geopolitik dan keamanan nasional bagi negara-negara besar.
“Persaingan mineral kritis hari ini adalah pertarungan menguasai teknologi dan industri masa depan,” ujar Faisal di Jakarta, Kamis (22/1).
AS Tertinggal dari Tiongkok
Menurut dia, Amerika Serikat yang selama ini tertinggal dari Tiongkok dalam rantai pasok mineral kritis mulai bergerak agresi mengamankan sumber daya. Upaya itu tampak dari pendekatan diplomasi dagang AS ke negara-negara pemilik cadangan strategis, termasuk Indonesia.
Bagi AS, mineral kritis menjadi fondasi industri berteknologi tinggi, mulai kendaraan listrik, pesawat canggih, semikonduktor, hingga industri pertahanan. Kebutuhan tersebut sejalan dengan posisi Indonesia yang memiliki cadangan melimpah.
CORE mencatat, Indonesia saat ini menjadi produsen nikel terbesar dunia dengan pangsa sekitar 54 persen dari produksi global. “Kekuatan Indonesia ada pada nikel dan timah. Dua mineral ini sangat menentukan arah industri pesawat, baterai, dan elektronik global,” ujar Faisal.
Tantangan Besar Indonesia
Namun, keunggulan itu dibarengi tantangan besar. Selama ini, penguasaan hilir mineral kritis Indonesia masih didominasi Tiongkok. Investasi besar Negeri Tirai Bambu dalam satu dekade terakhir membuat mereka menguasai banyak smelter dan industri lanjutan, sekaligus menjadi pembeli utama ekspor mineral Indonesia.
“Kondisi tersebut menciptakan ketergantungan struktural yang berisiko melemahkan posisi tawar Indonesia di pasar global,” ucapnya.
Di sisi lain, Amerika Serikat mencoba masuk melalui jalur diplomasi dagang. Dalam pembahasan perdagangan resiprokal Indonesia–AS sejak akhir 2025, akses terhadap mineral kritis menjadi salah satu poin utama. Pemerintah Negeri Paman Sam secara terbuka ingin mengamankan pasokan mineral Indonesia untuk menopang industri strategis.
Perebutan Sumber Daya Strategis
Terpisah, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, menilai ketidakpastian global kini bergeser. Konflik tidak lagi sekadar perang tarif, tetapi perebutan pengaruh dan sumber daya strategis.
“Ini yang memicu instabilitas baru di dunia,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO