Buka konten ini

DINAS Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam mendorong distributor beras di daerah ini untuk lebih aktif menyerap beras produksi dalam negeri, termasuk beras dari Sulawesi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di Batam menjelang Ramadan dan Lebaran.

Plh Kepala Disperindag Batam, Suhar, mengatakan dorongan itu menjadi salah satu poin penting dalam rapat koordinasi bersama Bulog dan asosiasi distributor beras di Batam, Rabu (14/1). Selain memastikan ketersediaan stok pangan, rapat juga membahas arah pasokan beras agar tetap bertumpu pada produksi nasional.
“Hari ini kita rapat koordinasi terkait stok pangan sampai Maret, termasuk Lebaran. Fokusnya memang banyak ke beras, termasuk bagaimana distributor bisa menyerap beras lokal,” ujar Suhar.
Berdasarkan hasil rapat, stok beras di Batam dipastikan mencukupi hingga beberapa bulan ke depan. Ketersediaan tersebut mencakup beras premium maupun medium.
“Stok cukup sampai Maret. Lebaran tetap aman,” katanya.
Suhar menjelaskan, harga beras di pasaran saat ini masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Harga beras premium berada di kisaran Rp15.400 per kilogram, sedangkan beras medium sekitar Rp14.000 per kilogram.
“Kalau ada yang menjual di atas HET, akan kita tindak,” tegasnya.
Disperindag Batam juga secara rutin melakukan pemantauan pasar hingga tiga kali dalam sepekan. Pengawasan tersebut dilakukan untuk mencegah penimbunan serta memastikan distributor dan pedagang mematuhi ketentuan harga. “Kalau ditemukan pelanggaran, tentu akan kita laporkan ke aparat penegak hukum,” ujar Suhar.
Terkait pasokan, Suhar menegaskan Batam tidak melakukan dan tidak membenarkan impor beras dari luar negeri. Beras yang beredar di Batam seluruhnya berasal dari dalam negeri, meskipun distribusinya masuk melalui Jakarta.
“Tidak ada impor. Beras yang masuk ke Batam berasal dari dalam negeri,” katanya.
Dalam rapat tersebut, Disperindag juga membahas rencana pemasukan sekitar 4.000 ton beras dari wilayah Sulawesi. Rencana ini tengah diproses melalui koordinasi antara Bulog dan para distributor yang tergabung dalam asosiasi.
“Nanti Bulog akan memberikan sampel kualitas beras. Setelah itu, distributor yang memastikan kesesuaian kualitas dan harga dengan kebutuhan pasar,” jelas Suhar.
Saat ini, stok beras premium di Batam tercatat sekitar 2.900 ton, sementara beras medium juga tersedia dalam jumlah mencukupi. Namun, distribusi beras premium masih mendominasi, dengan porsi lebih dari 80 persen dari total beras yang beredar.
Suhar menyebutkan, di Batam terdapat sekitar 20 distributor beras yang tergabung dalam asosiasi, di luar distributor lain yang beroperasi secara mandiri. Ia berharap distributor tidak hanya mempertimbangkan keuntungan, tetapi juga berperan menjaga stabilitas pasokan dan harga dengan menyerap beras lokal, termasuk dari Bulog.

“Distributor akan mengambil beras dari Bulog jika kualitas dan harganya sesuai. Ini yang terus kita dorong,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, rencana mendatangkan 4.000 ton beras premium asal Makassar, Sulawesi Selatan, ke Batam hingga kini belum terealisasi. Hal itu disebabkan belum adanya distributor di Batam yang menyatakan minat membeli beras tersebut.
Pimpinan Perum Bulog Kantor Cabang Batam, Guido XL Pereira, mengatakan pengiriman beras premium tersebut akan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan 1.000 ton pada tahap awal, dengan catatan sudah ada pembeli di Batam. “Pengiriman dilakukan bertahap. Tahap awal 1.000 ton, tetapi pembelinya di Batam harus sudah ada. Sampai sekarang belum ada,” ujar Guido, Rabu (7/1).
Bulog Batam telah menerima sampel beras premium asal Makassar dan menawarkannya kepada sejumlah distributor. Namun hingga kini belum mendapatkan respons.
“Sampel sudah kami terima dan sudah ditawarkan ke distributor. Lima distributor yang saya hubungi langsung, sampai sekarang belum ada respons,” katanya.
Guido memperkirakan harga beras premium asal Makassar tersebut jika tiba di Batam berada di kisaran Rp14.500 per kilogram dalam kemasan polos 50 kilogram. Harga tersebut belum termasuk biaya tambahan untuk pengemasan ulang sesuai merek distributor.
Sementara Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menanggapi belum terserapnya beras produksi dalam negeri, khususnya dari Sulawesi, di pasar Batam. Kondisi tersebut dinilai turut memicu kenaikan harga beras dan dikeluhkan masyarakat.
Amran menegaskan, penyerapan beras lokal harus menjadi prioritas agar petani tidak dirugikan. Ia mengingatkan, masuknya beras impor maupun selundupan saat stok nasional melimpah berpotensi menekan harga gabah di tingkat petani.
“Kami akan tindak tegas. Kami akan cek langsung ke Batam,” ujar Amran.
Ia menyampaikan, Indonesia saat ini berada dalam kondisi surplus beras sehingga tidak membutuhkan pasokan dari luar negeri.
“Jangan ada penyelundupan beras dari luar negeri. Beras kita melimpah. Ambil dari Bulog, seluruh pedagang, karena kalau tidak, itu akan menyakiti petani kita,” tegasnya.
Amran menyebut Batam sebagai salah satu wilayah yang rawan menjadi pintu masuk beras selundupan. Karena itu, pemerintah akan turun langsung untuk memastikan distribusi beras berjalan sesuai ketentuan.
Ia juga mengimbau para pedagang dan distributor agar memanfaatkan stok beras Bulog, termasuk pasokan dari daerah penghasil seperti Sulawesi, sehingga harga kembali stabil dan kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa merugikan petani dalam negeri.
Harga Dekati HET, Polisi Selidiki hingga Distributor
Harga beras di Batam kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa pekan terakhir, harga komoditas pangan utama tersebut dilaporkan terus merangkak naik hingga menembus harga eceran tertinggi (HET). Kenaikan itu dikeluhkan masyarakat karena mencapai Rp1.000 hingga Rp2.500 per kilogram.
Sejumlah warga mengaku keberatan dengan lonjakan harga tersebut. Beras merupakan kebutuhan pokok yang dikonsumsi setiap hari, sehingga kenaikan harga dinilai langsung membebani pengeluaran rumah tangga.
Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Kepulauan Riau, Kombes Pol Silvester Simamora, mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan faktor utama penyebab kenaikan harga beras di Batam.
“Dengan kondisi alam yang ada di Sumatera, mungkin ada kendala di transportasi. Tapi memang banyak hal yang perlu kita cek lagi,” ujar Silvester, Rabu (14/1).
Menurutnya, lonjakan harga beras tidak bisa serta-merta disimpulkan hanya dari satu faktor. Diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab sebenarnya, baik dari sisi distribusi, pasokan, maupun faktor lainnya. “Saya tidak bisa langsung menyimpulkan satu faktor saja. Kami akan lihat dulu seperti apa kondisinya dan melakukan penyelidikan,” tegasnya.
Terkait langkah yang akan dilakukan Polda Kepri agar harga beras tidak terus melambung, Silvester menyebut pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait.
“Besok (Kamis, red) akan ada rapat dengan Badan Pangan Nasional untuk membahas kondisi ini,” ujarnya.
Saat disinggung soal informasi adanya distributor di Batam yang disebut-sebut enggan membeli atau menyerap beras dari Bulog, Silvester mengaku belum memperoleh informasi tersebut secara pasti.
“Kalau soal itu, saya belum tahu. Nanti akan saya cek juga,” katanya. (***)
Laporan : ARJUNA – YASHINTA
Editor : RATNA IRTATIK