Buka konten ini
Pemerintah mencanangkan ketahanan pangan di semua sektor. Lalu bagaimana Anambas Foundation menerapkan program ini di Anambas?
Setiap pagi di Desa Kiabu dan Desa Telaga, Kepulauan Anambas, laut menjadi ruang perjuangan para lelaki. Perahu-perahu kayu kecil berangkat meninggalkan bibir pantai, membawa harap sekaligus risiko. Ombak tak selalu ramah, cuaca kerap berubah, dan hasil tangkapan sering kali tak menentu.
Namun, ketika para nelayan bertarung dengan laut, di darat ada perjuangan lain yang berlangsung nyaris tanpa sorotan. Di halaman rumah, di sudut pekarangan sempit, tangan-tangan perempuan bekerja sunyi—menjaga agar dapur tetap mengepul dan keluarga tetap bertahan.
Di dua desa pesisir ini, perempuan bukan hanya penjaga rumah. Mereka adalah penopang ketahanan keluarga, terutama saat suami harus melaut berhari-hari. Di tengah keterbatasan akses pangan, merekalah yang memastikan meja makan tetap terisi.
Sebagai wilayah kepulauan yang jauh dari pusat kabupaten, persoalan pangan—terutama sayuran segar—bukan perkara sepele. Lahan pertanian terbatas, pasokan sayur bergantung pada jalur laut. Ketika cuaca buruk, kapal tak bisa berlayar, harga melonjak, dan barang menjadi langka. Ketahanan pangan pun menjadi persoalan sehari-hari.
Di tengah kondisi itulah, Organic Home Farming tumbuh. Bukan sebagai proyek besar dengan alat canggih, melainkan sebagai gerakan yang berangkat dari ruang paling dekat dengan kehidupan: pekarangan rumah.
Di halaman yang sempit, para perempuan mulai menanam. Polybag disusun rapi, rak vertikultur berdiri di sudut rumah, ember dan wadah bekas disulap menjadi media tanam. Cabai, sawi, bayam, dan aneka sayuran tumbuh perlahan—menjadi penanda bahwa pangan tak selalu harus datang dari luar pulau.
Gerakan ini kemudian melampaui pagar rumah. Lahan-lahan terbuka desa yang sebelumnya terbengkalai mulai dikelola bersama. Melalui kelompok tani desa—yang mayoritas anggotanya perempuan—lahan itu dihidupkan kembali. Mereka berbagi peran: menyiapkan lahan, menanam, merawat, hingga memanen. Kebun kolektif itu menjadi ruang gotong royong sekaligus ruang belajar.
Perempuan, Pangan, dan Dapur yang Tetap Menyala
Bagi perempuan di Kiabu dan Telaga, Organic Home Farming bukan sekadar kegiatan bertani. Ia adalah cara menjaga gizi keluarga. Sayuran segar dari kebun membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anak, sekaligus menekan pengeluaran rumah tangga di tengah mahalnya harga pangan.
Kelompok tani desa pun menjelma menjadi ruang berbagi pengetahuan. Di sana, para perempuan belajar membaca musim, mengenali hama, hingga meracik pupuk organik dari bahan sederhana. Perlahan tumbuh kesadaran bahwa mereka bukan hanya pengelola rumah tangga, tetapi juga penjaga ketahanan pangan desa.
Menyemai Bersama Yayasan Anambas
Tahun 2025 menjadi titik penting bagi penguatan Organic Home Farming di Desa Kiabu dan Desa Telaga. Yayasan Anambas hadir sebagai pendamping—berjalan bersama perempuan pesisir untuk memastikan praktik pertanian organik ini berkelanjutan.
Hingga 2025, program ini melibatkan 13 rumah tangga, dengan 13 perempuan terlibat aktif dalam pengelolaan pekarangan dan kebun kolektif. Mereka adalah ibu rumah tangga, istri nelayan, hingga perempuan kepala keluarga—yang memegang peran krusial ketika para lelaki melaut dalam waktu lama.
Pendampingan dilakukan melalui pelatihan pertanian organik, pembuatan kompos, pengolahan pestisida nabati, serta pendampingan rutin dari masa tanam hingga panen. Total lahan produktif yang dikelola mencapai sekitar 1.800 meter persegi di Desa Kiabu dan 225 meter persegi di Desa Telaga.
Dari lahan tersebut, sepanjang 2025 tercatat produksi sayuran mencapai 900 kilogram di Kiabu dan 115 kilogram di Telaga—angka yang menunjukkan bahwa dari lahan terbatas, pangan bisa dihadirkan secara nyata.
Dari Cukup Menjadi Surplus
Perlahan, dampak program mulai terasa. Organic Home Farming tak hanya mencukupi kebutuhan sayur keluarga, tetapi juga menghasilkan surplus—terutama di Desa Kiabu.
Melalui kelompok tani, para perempuan mengatur distribusi dan penjualan hasil panen.
Sayuran dijual ke desa sekitar seperti Desa Mengkait, hingga dipasarkan ke Pasar Tarempa. Hingga 2025, volume penjualan mencapai sekitar 500 kilogram dengan nilai ekonomi Rp12,5 juta.
Bagi desa kecil di wilayah kepulauan, angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah tambahan penghasilan, sekaligus bukti bahwa kemandirian pangan bukan hal mustahil.
Menjaga Alam, Merawat Masa Depan
Pertanian organik yang dijalankan juga membawa dampak ekologis. Limbah rumah tangga diolah menjadi kompos, penggunaan bahan kimia dihindari. Di pulau-pulau kecil, pendekatan ini penting untuk menjaga kualitas tanah dan air—yang pada akhirnya juga melindungi laut, sumber hidup utama masyarakat.
Kebun-kebun itu pun menjadi ruang belajar bagi anak-anak. Dari sana mereka mengenal kerja sama, kemandirian, dan kepedulian terhadap alam sejak dini.
Ketahanan yang Tumbuh dari Darat
Organic Home Farming di Desa Kiabu dan Desa Telaga membuktikan bahwa ketahanan pangan bisa tumbuh dari ruang-ruang sederhana. Dari pekarangan rumah hingga lahan terbuka yang dikelola bersama, perempuan menjadi penggerak perubahan.
Ketika laut menjadi medan perjuangan para nelayan, daratan menjadi ruang ketahanan yang dijaga perempuan. Dari sanalah pangan tumbuh, gizi terjaga, ekonomi bergerak, dan harapan masa depan desa perlahan disemai. (***)
Reporter : ANAMBAS FOUNDATION
Editor : MUHAMMAD NUR