Buka konten ini

Kabut tipis masih menggantung di punggung Bukit Tabir, Desa Tarempa Selatan, Minggu pagi itu. Pepohonan hutan tropis berdiri rapat, menyimpan aneka flora yang tak banyak diketahui orang. Di balik rimbunnya hijau, Bukit Tabir perlahan bersiap menanggalkan statusnya sebagai kawasan sunyi—menuju peran baru sebagai destinasi wisata tumbuhan Kepulauan Anambas.
PEMERINTAH Kabupaten Kepulauan Anambas resmi mencanangkan kawasan ini sebagai wisata berbasis keanekaragaman hayati. Bukan tanpa sebab. Bukit Tabir menyimpan kekayaan flora yang langka, bahkan sebagian di antaranya nyaris tak ditemukan di wilayah lain.
Salah satu penghuni paling istimewa di kawasan ini adalah **Raflesia**, bunga raksasa yang tumbuh alami di lereng bukit. Kehadirannya menjadi simbol betapa Bukit Tabir bukan sekadar ruang hijau, melainkan laboratorium alam yang hidup.
Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, menyebut Bukit Tabir sebagai anugerah yang tak ternilai. Saat menapaki kawasan tersebut, ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian.
“Bukit Tabir ini luar biasa. Di sini ada berbagai jenis flora langka, termasuk Raflesia. Ini kekayaan alam Anambas yang harus kita jaga dan kelola dengan baik,” ujarnya.
Konsep wisata yang disiapkan bukan wisata massal yang hiruk-pikuk. Bukit Tabir diarahkan menjadi ruang rekreasi yang menyatu dengan **edukasi, konservasi, dan penelitian**.
Pengunjung nantinya tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga belajar memahami ekosistem hutan dan peran tumbuhan bagi kehidupan.
Aneng membayangkan Bukit Tabir sebagai ruang belajar terbuka—tempat pelajar, peneliti, hingga wisatawan bisa mengenal jenis-jenis tumbuhan secara langsung dari habitat aslinya.
“Wisata tumbuhan ini harus menjadi ruang belajar. Orang datang ke sini bukan hanya bersantai, tapi memahami bagaimana alam bekerja dan mengapa kita wajib menjaganya,” katanya.
Namun, keindahan Bukit Tabir bukan berarti bebas dieksploitasi. Pemerintah daerah menegaskan, pengelolaan kawasan ini harus mengedepankan prinsip konservasi.
Keberadaan Raflesia dan flora langka lainnya tidak boleh terganggu oleh aktivitas wisata yang berlebihan.
Karena itu, tata kelola kawasan akan disusun dengan hati-hati. Pemerintah Kabupaten Anambas juga diminta segera menjalin kolaborasi dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kepulauan Riau, agar pengembangan wisata berjalan sesuai regulasi kehutanan.
“Saya minta Dinas Pariwisata segera berkolaborasi dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kepri. Kita harus mengikuti aturan agar kawasan ini bisa ditetapkan sebagai wisata tumbuhan secara resmi dan legal,” tegas Aneng.
Sinergi antarinstansi menjadi kunci agar Bukit Tabir tidak kehilangan ruh alaminya. Harapannya, kawasan ini kelak menjadi destinasi unggulan yang berkelanjutan—memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar, tanpa mengorbankan kelestarian hutan.
“Kalau dikelola dengan benar, Bukit Tabir bisa menjadi kebanggaan Anambas. Alam tetap lestari, masyarakat pun merasakan manfaatnya,” pungkas Aneng. (***)
Reporter : IHSAN IMADUdDIN
Editor : GUSTIA BENNY