Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kelompok BRICS memasuki fase baru dalam arsitektur keuangan global dengan memperkenalkan Unit, instrumen keuangan digital berbasis emas yang saat ini masih berstatus prototipe. CCN, mengutip penjelasan International Research Institute for Advanced Systems (IRIAS), melaporkan bahwa versi kerja awal instrumen ini telah diuji untuk penyelesaian transaksi lintas negara. Langkah tersebut menjadi bagian dari dorongan de-dolarisasi yang kian kuat di tengah gejolak geopolitik dan tekanan fiskal global.
Bloomberg mencatat perhatian internasional terhadap pelemahan dolar kembali meningkat sepanjang tahun ini. Tingginya inflasi, membesarnya defisit anggaran Amerika Serikat, serta ketidakpastian ekonomi dunia membuat banyak negara meninjau ulang ketergantungan mereka pada mata uang tersebut. Dalam konteks itulah Unit muncul sebagai alternatif yang menawarkan arah baru menuju sistem keuangan multipolar.
Unit dikembangkan IRIAS dan telah melalui pengujian sejak 31 Oktober 2025. The Jerusalem Post menyebut teknologi blockchain dalam proyek ini hanya berfungsi sebagai infrastruktur pencatatan, sementara nilai Unit bersumber dari kombinasi cadangan emas dan sekeranjang mata uang BRICS. Hal ini menegaskan bahwa kekuatan instrumen tersebut bertumpu pada aset riil, bukan hanya aspek teknologinya.
Mengutip CCN, Rabu (10/12), prototipe Unit didukung struktur cadangan 40 persen emas fisik dan 60 persen mata uang inti BRICS—real Brasil, yuan Tiongkok, rupee India, rubel Rusia, dan rand Afrika Selatan—masing-masing berbobot 12 persen. Desain itu dibuat agar nilainya stabil dan tidak menonjolkan dominasi satu negara. Unit juga ditegaskan tidak menggantikan mata uang nasional, melainkan digunakan khusus untuk transaksi antarpemerintah.
IRIAS menjelaskan bahwa penggunaan emas dipilih untuk membangun kepercayaan lebih kuat terhadap nilai Unit. The Jerusalem Post menyebut emas memberi “keyakinan penilaian” karena nilainya tidak bergantung pada kebijakan politik jangka pendek.
Namun sistem Unit tidak memungkinkan pemegang token menukar Unit secara langsung dengan emas maupun mata uang apa pun. Hanya simpul resmi (resmi node) yang dapat melikuidasi cadangan, sehingga suplai tetap terkontrol dan risiko penarikan besar-besaran bisa dihindarkan.
Secara teknis, Unit diterbitkan melalui mekanisme berbasis simpul. Setiap node harus memiliki replika cadangan penuh sebelum mencetak token baru, memastikan pengawasan lintas negara berlangsung seragam. Proyek ini dikelola Unit Foundation yang mengadopsi struktur tidak lazim: posisi CEO dijalankan kecerdasan buatan. Fondasi beralasan keputusan otomatis akan lebih konsisten dan bebas bias politik.
Meski demikian, sejumlah analis menilai inisiatif ini belum akan berkembang menjadi mata uang bersama BRICS dalam waktu dekat. Analis CEPA, Alexander Kolyandr, menyebut mata uang bersama berbasis emas masih sulit diwujudkan tanpa kebijakan moneter yang tersinkronisasi. Namun bagi sebagian pengamat, Unit tetap menjadi langkah paling konkret menuju visi tersebut.
Sejumlah analis internasional juga menilai Unit sebagai inisiatif paling nyata sejak wacana *Bancor* yang diusulkan John Maynard Keynes pada 1944. Bedanya, Unit bukan lagi konsep teoretis, melainkan prototipe fungsional yang telah diuji dalam jaringan perdagangan nyata. Di tengah fragmentasi geopolitik, BRICS kini mendorong pergeseran dari sistem keuangan berbasis kepercayaan pada satu negara menuju mekanisme yang didukung aset riil.
Keberhasilan Unit ke depan akan ditentukan oleh kemampuan negara-negara BRICS menyinergikan regulasi, menyatukan sistem pembayaran, dan mengelola dinamika moneter internal masing-masing. Namun peluncuran prototipe ini sudah menjadi sinyal kuat bahwa dominasi dolar dalam perdagangan global tidak lagi tak tergoyahkan. Instrumen berbasis emas kembali mengemuka sebagai fondasi alternatif bagi sistem pembayaran internasional di era digital. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY