Buka konten ini

JEPANG (BP) – Gempa bumi berkekuatan 7,5 skala richter melanda Jepang Utara pada Senin (9/12) malam, yang mengakibatkan 23 orang terluka dan memicu tsunami di wilayah pesisir Pasifik.
Pihak berwenang memperingatkan, kemungkinan gempa susulan dan peningkatan risiko gempa berskala besar.
Pemerintah Jepang masih menaksir kerusakan, akibat tsunami dan gempa bumi yang terjadi pada malam hari sekitar pukul 23.15 di Samudra Pasifik, sekitar 80 kilometer dari lepas pantai Aomori, prefektur paling utara di pulau utama Jepang, Honshu.
”Saya belum pernah mengalami guncangan sebesar ini,” ujar pemilik toko swalayan Nobuo Yamada kepada lembaga penyiaran publik NHK di kota Hachinohe, Prefektur Aomori, seraya menambahkan bahwa beruntung kabel listrik masih beroperasi di wilayahnya.
Badan Meteorologi Jepang mengatakan jika tsunami setinggi 70 sentimeter terukur di pelabuhan Kuji di prefektur Iwate, tepat di Selatan Aomori, dan tingkat tsunami setinggi 50 sentimeter melanda pesisir lainnya di wilayah tersebut.
Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran menyatakan ada 23 orang yang terluka, termasuk satu orang yang mengalami luka serius.
Menurut laporan NHK, sebagian besar dari mereka tertimpa benda yang jatuh, seraya menambahkan bahwa beberapa orang terluka di sebuah hotel di Hachinohe dan seorang pria di Tohoku, mengalami luka ringan ketika mobilnya jatuh ke dalam lubang.
Badan Meteorologi melaporkan magnitudo gempa sebesar 7,5, turun, dari perkiraan sebelumnya sebesar 7,6.
Badan Meteorologi juga mengeluarkan peringatan potensi tsunami hingga tiga meter, di beberapa wilayah dan kemudian menurunkan statusnya menjadi waspada.
Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara mengimbau warga untuk mengungsi ke dataran tinggi, atau mencari perlindungan hingga imbauan dicabut.
Ia mengatakan sekitar 800 rumah tanpa listrik, dan kereta peluru Shinkansen, serta beberapa jalur lokal dihentikan sementara di beberapa wilayah.
Kihara juga menjelaskan jika pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah tersebut, sedang melakukan pemeriksaan keselamatan.
Otoritas Regulasi Nuklir mengatakan sekitar 450 liter air tumpah, dari area pendinginan bahan bakar bekas di pabrik pemrosesan ulang bahan bakar Rokkasho di Aomori, tetapi ketinggian airnya masih dalam kisaran normal dan tidak ada masalah keselamatan.
Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi mengatakan, sekitar 480 penduduk berlindung di pangkalan udara Hachinohe, dan 18 helikopter pertahanan dikerahkan untuk menilai kerusakan.
Sekitar 200 penumpang terlantar pada malam hari di bandara New Chitose di Hokkaido.
Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan, tentang kemungkinan gempa susulan dalam beberapa hari mendatang.
Badan tersebut menyatakan, adanya sedikit peningkatan risiko gempa berkekuatan 8 skala Richter dan potensi tsunami di sepanjang pantai timur laut Jepang, dari Chiba, tepat di timur Tokyo, hingga Hokkaido.
Selain itu, mengimbau warga di 182 kotamadya di wilayah tersebut untuk memantau kesiapsiagaan darurat mereka dalam seminggu mendatang.
Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan dalam komentar singkat kepada wartawan, bahwa pemerintah telah membentuk satuan tugas darurat untuk segera menilai tingkat kerusakan.
”Kami mengutamakan nyawa masyarakat dan melakukan segala yang kami bisa,” ujarnya.
Kemudian, ia mengimbau warga di wilayah tersebut untuk memperhatikan informasi terbaru dari pemerintah daerah setempat.
”Harap bersiap agar Anda dapat segera mengungsi begitu merasakan getaran.”
Dikutip dari Korea Times, gempa tersebut terjadi sekitar 80 kilometer timur laut Hachinohe, dan sekitar 50 kilometer di bawah permukaan laut.
Letaknya di sebelah utara pantai Jepang yang mengalami gempa bumi berkekuatan 9,0 skala richter dan tsunami pada tahun 2011, yang menewaskan hampir 20.000 orang dan menghancurkan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi. ”Anda perlu bersiap, dengan asumsi bahwa bencana seperti itu bisa terjadi lagi,” katanya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY