Buka konten ini
BATAM (BP) — Bea Cukai Batam memastikan penyelidikan kasus penyelundupan puluhan ton sembako di Pelabuhan Haji Sage, Tanjung Sengkuang, Batuampar, masih berlangsung. Fokus pemeriksaan kini mengarah pada penelusuran saksi-saksi serta asal-usul barang yang disita dari tiga kapal dan tiga unit truk dalam operasi beberapa waktu lalu.
Kasi Layanan Informasi Bidang BKLI Bea Cukai Batam, Mujiono, mengatakan pendalaman dilakukan secara detail, mulai dari identifikasi setiap jenis barang hingga penelusuran distribusi dan sumber muatan.
“Penyelidikan masih berjalan. Kita telusuri asal-usul barang item per item,” ujarnya, kemarin.
Ia menegaskan, skala barang yang diamankan cukup besar sehingga proses penelusuran dilakukan menyeluruh, termasuk mengidentifikasi merek, jenis, dan karakteristik setiap komoditas.
Sedikitnya terdapat 15 jenis barang dalam temuan tersebut. Mulai dari beras berbagai merek, gula, minyak goreng, mi instan, susu UHT, frozen food, hingga parfum impor. Beras disebut menjadi komoditas paling dominan sehingga penelusuran dilakukan berdasarkan label merek pada kemasan.
Untuk memperkuat pembuktian, Bea Cukai telah memeriksa belasan orang yang dinilai mengetahui atau berkaitan dengan keberadaan barang tersebut. Pemeriksaan saksi menjadi tahapan penting untuk memastikan pemilik, pemasok, dan jalur distribusi sebelum barang ditemukan di kapal dan truk tanpa dokumen.
“Kita sudah periksa belasan orang untuk menelusuri keterkaitan tiap item muatan,” tegas Mujiono.
Sebelumnya sempat beredar video seorang pengusaha yang mengklaim memiliki sebagian barang bukti dan menunjukkan dokumen pendukung. Namun Bea Cukai menegaskan klaim tersebut belum bisa dijadikan dasar kesimpulan.
“Itu masih harus dibuktikan. Belum bisa disimpulkan karena baru sebatas pengakuan sepihak dan perlu diverifikasi,” ujarnya.
AR, pria yang sempat disebut sejumlah media nasional sebagai pemilik sekaligus importir beras ilegal di Pelabuhan Haji Sage, Tanjungsengkuang, Batuampar, Kota Batam, membantah keras tudingan tersebut. Ia menegaskan tidak memiliki kaitan apa pun dengan puluhan ton sembako yang diamankan aparat pada Senin (24/11) malam.
“Saya tegaskan, saya bukan pengusaha dan bukan importir beras seperti yang diberitakan. Itu tidak benar,” ujarnya kepada Batam Pos, Senin (1/12).
AR menyebut, dirinya datang ke pelabuhan pada dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB, setelah diminta oleh pemilik pelabuhan, Haji Zainuddin Sage, yang saat itu sedang pulang ke kampung halamannya di Sulawesi.
“Beliau minta saya datang karena katanya ada keributan. Karena sudah saya anggap saudara, saya datang untuk menjelaskan jika diperlukan,” tuturnya.
Ia memastikan 40 ton beras di atas kapal kayu tersebut bukan miliknya maupun milik pemilik pelabuhan.
“Itu barang orang lain, tidak ada hubungannya dengan kami,” tegasnya.
Informasi yang dihimpun Batam Pos menyebutkan beras itu tercantum dalam manifest atas nama warga Tanjungbalai Karimun berinisial Ok dan Nd. Muatan tersebut disebut berasal dari Batam dan akan dikirim ke Karimun. (*)
Reporter : EUSEBIUS SARA
Editor : RATNA IRTATIK