Buka konten ini
BATAM (BP) – Polsek Nongsa memiliki cara unik mencegah konflik agar tidak langsung berujung laporan polisi. Sebuah “pondok bercerita” disediakan di halaman kantor sebagai tempat warga bermusyawarah menyelesaikan masalah secara damai.
Kapolsek Nongsa, Kompol Arsyad Riyandi, mengatakan pondok tersebut menjadi ruang bagi pihak-pihak yang berselisih untuk berdiskusi mencari solusi terbaik sebelum menempuh jalur hukum.
“Tidak semua masalah harus dibawa ke proses hukum. Ada yang bisa diselesaikan dengan musyawarah,” ujarnya, kemarin.
Ia mencontohkan, pernah terjadi kasus beberapa pekerja mengancam akan membakar perusahaan karena merasa tidak dibayar gaji. Setelah ditelusuri, perusahaan ternyata sudah membayar gaji melalui mandor, namun uang tersebut dibawa kabur oleh sang mandor.
“Pekerja dan perusahaan sama-sama korban. Di sini kami fasilitasi diskusi agar solusi terbaik bisa ditemukan,” jelas Arsyad.
Kasus lain yang kerap terjadi adalah kecelakaan lalu lintas antara dua kendaraan yang awalnya berujung laporan polisi. Melalui pondok bercerita, para pihak dapat bermediasi dan mencari kesepakatan tanpa proses hukum panjang. Menurut Arsyad, pendekatan ini membantu menghindari kesalahpahaman dan menjaga hubungan baik antarwarga.
“Pelaku yang benar-benar bersalah tetap akan diproses hukum, tetapi yang sifatnya salah paham atau perdata bisa kita mediasi di sini,” katanya.
Pondok bercerita juga menjadi sarana komunikasi langsung antara warga dan polisi, sehingga permasalahan kecil tidak berkembang menjadi besar. Warga bebas menyampaikan keluhan, usulan, atau informasi yang berkaitan dengan keamanan dan ketertiban. Selain itu, pondok ini memberi ruang aman bagi korban atau pihak yang merasa dirugikan untuk mengutarakan permasalahannya tanpa tekanan.
“Kami ingin warga merasa didengar, tidak takut datang ke kantor polisi, dan tahu bahwa polisi bukan hanya penindak, tapi juga penengah,” ujarnya.
Program ini sejalan dengan upaya Polsek Nongsa membangun kedekatan dengan masyarakat melalui pendekatan persuasif. Arsyad menegaskan, penyelesaian damai akan lebih menguntungkan kedua belah pihak, terutama jika persoalan masih bisa dibicarakan.
Sejak pondok bercerita dioperasikan, sejumlah konflik berhasil diselesaikan tanpa harus dibuat laporan. Hal ini dinilai menghemat waktu, biaya, dan energi semua pihak yang terlibat.
“Kadang masalah hanya butuh duduk bersama dan saling bicara. Dengan begitu, hubungan bisa kembali baik dan suasana lingkungan tetap kondusif,” pungkas Arsyad. (*)
Reporter : Yashinta
Editor : RATNA IRTATIK