Buka konten ini

Di balik rumah sederhana yang nyaris roboh, ia mengukir perjuangan hidup setiap hari. Apapun ia lakukan asalkan halal demi satu tujuan, bagaimana sumbu keberlangsungan hidup empat anaknya tetap bisa ia penuhi.
RUMAH itu berdiri ringkih di tengah kebun yang sunyi, di Kampung Jago, Desa Lancang Kuning, Kecamatan Bintan Utara. Dindingnya mulai rapuh dimakan usia. Sebagian atap tampak bolong, membiarkan air hujan menetes bebas ke dalam ruangan.
Di sanalah Septi Lestari menjalani hidupnya sebagai ibu sekaligus ayah bagi keempat anaknya. Sejak suaminya meninggal setahun lalu, perempuan 40 tahun itu memikul beban yang beratnya tak terukur oleh angka.
”Sudah tak ada pilihan,” ujar Septi lirih, menatap rumah dua bangunan yang jadi tempat mereka berlindung dari terik dan hujan. Bangunan pertama di bagian depan cukup kokoh, namun belum sepenuhnya rampung. Tak ada pintu belakang, jendelanya tak berkaca. Sementara bangunan kedua, yang hanya dipisah lorong sempit, lebih menyedihkan: semi permanen, plafonnya bolong-bolong, dan atapnya bocor.
”Yang di depan malah lebih banyak bocornya. Kami lebih sering tinggal di belakang meski seadanya,” tutur Septi.
Meski hidup dalam serba keterbatasan, Septi enggan menyerah. Setiap hari, ia berkeliling mencari pekerjaan serabutan. Apa saja ia lakukan—membersihkan rumah tetangga, mencuci piring, hingga memarut kelapa. Penghasilannya tak menentu, kadang hanya Rp50 ribu sehari, itu pun kalau ada yang memanggil.
Jika tak ada pekerjaan, Septi memutar langkah ke kebun kecil di belakang rumah, memetik hasil alam sekadar untuk makan hari itu.
”Alhamdulillah, masih bisa makan. Rezeki anak-anak pasti ada,” katanya, menahan haru.
Anak sulungnya, Hesti Saputri, baru berusia 16 tahun. Namun, masa remajanya terpaksa berhenti sejenak. Hesti memutuskan berhenti sekolah sebulan terakhir. Ia memilih ikut bekerja di pasar malam untuk membantu ibunya.
”Kami minta dia tetap sekolah, tapi dia bilang ingin bantu cari uang. Dua hari ini dia kerja ikut orang di pasar malam,” ujar Septi, sembari menyeka keringat.
Anak kedua, Fahri, masih duduk di bangku SMP kelas satu. Sedangkan Fikri, anak ketiganya, duduk di kelas tiga SD. Si bungsu, Faizen, masih berusia 3 tahun, belum mengerti betapa keras dunia yang sedang dihadapi ibunya.
Meski hidup pas-pasan, Septi tak kehilangan harapan. Ia bersyukur masih ada perhatian dari warga sekitar dan pemerintah setempat. Bantuan zakat, santunan anak yatim, dan sedikit uluran tangan lainnya menjadi penopang di tengah perjuangannya.
”Semoga anak-anak bisa tetap semangat, dan ada jalan buat kami terus bertahan,” ucap Septi pelan.
Tak ada keluhan dari mulutnya, hanya harapan agar hari esok sedikit lebih baik. Di rumah sederhana yang nyaris roboh itu, seorang ibu sedang mengajarkan arti keteguhan kepada anak-anaknya—tanpa banyak kata, tapi lewat setiap peluh dan doa yang diam-diam dipanjatkan setiap malam. (***)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GALIH ADI SAPUTRO