Buka konten ini
PARIS (BP) – Ratusan penerbangan di seluruh Prancis terpaksa dibatalkan pada Kamis (3/7) pagi. Penyebabnya para pengatur lalu lintas udara (ATC) Prancis melancarkan aksi mogok selama dua hari. Pemogokan ini memprotes kekurangan personel dan praktik manajemen yang mereka sebut toksik.
Aksi tersebut segera berdampak luas. Tak hanya langit Prancis yang terganggu, tetapi juga kawasan udara Eropa Barat secara keseluruhan. Di Bandara Nice pintu udara terbesar ketiga Prancis setengah dari seluruh jadwal penerbangan dihentikan. Di Paris, Bandara Orly dan Charles de Gaulle ikut terdampak, seperempat jadwal dibatalkan. Otoritas memperkirakan kekacauan semakin parah menjelang Jumat, sehari sebelum libur musim panas sekolah dimulai.
“Setiap orang punya hak untuk mogok, tapi ini terasa menghukum,” keluh Nadia Rivet, 51 tahun, seorang pegawai bank asal Pau, barat daya Prancis.
Ia seharusnya menghabiskan enam hari di Paris. Namun, penerbangannya dibatalkan begitu saja. “Para pengatur lalu lintas udara bukan kelompok yang paling menderita,” katanya kepada AFP yang dilansir channelnewsasia.com.
Otoritas penerbangan sipil Prancis (DGAC) menginstruksikan maskapai mengurangi jadwal terbang agar petugas yang tetap bekerja tidak kewalahan.
Kami Disandera Lagi
Maskapai bertarif rendah Ryanair melaporkan pembatalan 170 penerbangan, yang berdampak pada 30.000 penumpang. CEO Ryanair, Michael O Leary, menyebut pemogokan ini sebagai penyanderaan terhadap keluarga-keluarga Eropa yang hendak berlibur.
“Sekali lagi, kami disandera oleh para pengatur lalu lintas udara Prancis,” kata O Leary. Ia menekankan bahwa sebagian besar penumpang terdampak bukanlah warga Prancis atau yang terbang dari dan ke negara itu, melainkan hanya melintasi ruang udaranya.
O Leary menyerukan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen untuk segera turun tangan. Ia mendorong reformasi sistem kontrol lalu lintas udara dan perlindungan terhadap overflight, yakni penerbangan lintas udara tanpa mendarat di wilayah Prancis.
Seruan itu diamini Airlines for Europe (A4E), asosiasi maskapai yang menaungi Air France-KLM, Lufthansa, British Airways, EasyJet, dan Ryanair. Mereka menyebut mogok ini sebagai aksi yang tak dapat ditoleransi.
Menurut sumber internal, sekitar 270 dari 1.400 pengatur lalu lintas udara ikut dalam aksi ini. Pemogokan digerakkan oleh dua serikat pekerja, UNSA-ICNA dan USAC-CGT. Keduanya menuntut perbaikan kondisi kerja dan penambahan personel. Sementara serikat terbesar, SNCTA, memilih tidak bergabung. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO