Buka konten ini
TOKYO (BP) – Warga Tokyo mulai memberikan suara dalam pemilihan Majelis Metropolitan pada Minggu (22/6). Pemilu ini menjadi tolok ukur penting untuk mengukur dukungan publik terhadap pemerintahan pusat Jepang yang tengah dirundung rendahnya tingkat kepuasan masyarakat.
Partai Demokrat Liberal (LDP) yang dipimpin Perdana Menteri Shigeru Ishiba berharap dapat mempertahankan posisinya sebagai kekuatan utama di legislatif ibu kota. Namun, upaya itu dihadang oleh merosotnya popularitas partai akibat lonjakan inflasi dan mahalnya harga beras.
“Kami akan melakukan segala cara agar semua calon kami terpilih,” ujar Ishiba dilansir dari channelnewsasia.com. Ia menegaskan bahwa partainya adalah yang paling siap menangani isu-isu lokal yang memengaruhi kehidupan sekitar 14 juta warga Tokyo.
Pemilu ini mendapat perhatian luas karena hanya berjarak beberapa pekan dari pemilihan anggota majelis tinggi parlemen, yang menurut sejumlah media lokal kemungkinan akan digelar pada 20 Juli mendatang.
Ishiba sendiri kini tengah berjuang mempertahankan mayoritas koalisinya setelah kehilangan kendali atas majelis rendah dalam pemilu Oktober tahun lalu. Kegagalan di Tokyo dikhawatirkan menjadi pukulan lanjutan yang bisa mempercepat pergantian kepemimpinan partai.
Selama beberapa bulan terakhir, tingkat dukungan terhadap Ishiba yang menjabat sejak Oktober lalu berada di titik terendah. Situasi ini diperparah oleh inflasi yang tak kunjung reda dan harga beras yang melonjak drastis.
Meski begitu, jajak pendapat terbaru menunjukkan adanya sedikit kenaikan dukungan setelah pemerintah meluncurkan serangkaian kebijakan untuk meredam gejolak harga pangan.
Pemungutan suara dijadwalkan ditutup pada pukul 20.00 waktu setempat (1100 GMT).
Dalam pemilu kali ini, tercatat 295 kandidat bersaing merebut kursi majelisjumlah tertinggi sejak 1997. Di antara mereka, terdapat 99 kandidat perempuan, yang menjadi rekor baru dan dinilai sebagai tren yang menggembirakan oleh otoritas pemilu.
Meski demikian, Jepang masih berada di peringkat ke-118 dari 148 negara dalam Indeks Kesenjangan Gender Global versi World Economic Forum tahun ini. Salah satu penyebabnya adalah masih rendahnya representasi perempuan dalam dunia politik. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO