Buka konten ini
Bukan karena tak punya atau antikalkulator, tapi suami-istri Ernawati-Haliyadi tetap memakai sempoa di tempat mereka berdagang di Jombang karena nilai lebihnya: otak diajak mikir. Bagi yang sudah terampil memakainya, fungsinya sama sekali tak kalah dari alat hitung modern.
JARI jemari Ernawati langsung ”menari” begitu pembeli yang selesai berbelanja di tokonya menanyakan berapa yang harus dia bayar. Dihitungnya dengan sempoa yang telah turun-temurun diwariskan.
”Ini sempoa sudah berumur seabad lebih, peninggalan orang tua saya dari kakek-nenek dulu,” terang Erna kepada Radar Jombang (grup Batam Pos) pada akhir Mei (28/5) lalu setelah melayani seorang pembeli.
Usia Ernawati sudah 74 tahun. Haliyadi, sang suami yang menemaninya menjaga toko pracangan di Jalan KH Hasyim Asy’ari, Jombang, Jawa Timur, pada siang itu 10 tahun lebih tua. Dan, sepanjang usia dan ingatannya, toko yang jualan utamanya sembako itu tetap bertahan berniaga menggunakan sempoa sebagai alat hitung.
Bukan karena sang pemilik toko tak punya kalkulator. ”Itung-itung juga melestarikan tradisi. Sebab, orang sekarang lebih suka menggunakan kalkulator,” kata Ernawati.
Di Jombang, mungkin juga di kota-kota lain, tak banyak lagi toko yang seperti itu: menjadikan sempoa sebagai andalan alat hitung. Kalkulator mungkin menawarkan kecepatan dan kepraktisan. Tapi, bagi Ernawati dan Haliyadi, sempoa tetap punya nilai lebih: menjaga daya ingat.
”Kalau menggunakan kalkulator, katakanlah orang sudah tidak perlu mikir. Berbeda kalau pakai sempoa, otak kita diajak mikir. Jadi, orang tidak mudah pikun,” bebernya.
Jejak Sejarah
Sempoa sudah ada sejak zaman Babilonia sekitar 2.400 tahun sebelum Masehi. Sempoa juga digunakan bangsa lain seperti Yunani, Romawi, Tiongkok, Jepang, serta Rusia.
Mengutip museumpendidikannasional.upi.edu, dalam peradaban Tiongkok, sempoa berasal dari kata ”suan pan” yang ditemukan sekitar 600 tahun sebelum Masehi. Sempoa ini terbuat dari bahan dasar bambu dengan 10 butir mutiara yang disusun menjadi satu.
Selain di Tiongkok, Jepang juga memiliki sempoa yang disebut dengan ”seroban”. Seroban biasanya digunakan siswa-siswi Jepang kali pertama saat remaja. Orang yang sudah sangat terampil memakai seroban biasanya akan lebih cepat menghitung dibandingkan dengan memakai kalkulator modern.
Bangsa Tiongkok mengembangkan sempoa ini menjadi dua bagian. Dikutip dari situs CMA Mental Arithmetic Indonesia, pada jeruji atas dimasukkan dua manik-manik dan lima manik-manik pada jeruji bawah. Model inilah yang membuat sempoa menjadi amat populer.
Belum diketahui tahun pasti masuknya abakus –nama lain sempoa– ke Indonesia. Tapi, diperkirakan mulai populer, terutama dalam konteks pendidikan, sekitar 1958. Persisnya sempoa yang disempurnakan Lee Kai-chen yang merupakan pengembangan dari sempoa tradisional Tiongkok.
Tak Kalah dengan Kalkulator
Pembeli datang silih berganti ke toko Ernawati-Haliyadi siang itu. Dengan rata-rata belanjaan yang tak sedikit.
Semuanya dihitung dengan teliti menggunakan sempoa. Para pembeli juga tak ada yang mengeluh. Dan, sistem atau tradisi itu sudah berlangsung dekade demi dekade.
Sempoa di toko Ernawati-Haliyadi berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang sekitar 30 cm dengan lebar 15 cm. Erna mengenang, dulu sang ayah sudah biasa menggunakannya untuk bekerja.
”Waktu itu, 1990-an, ada yang namanya SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah, semacam judi lotre yang dilegalkan di era pemerintahan Soeharto, Red), ramai sekali waktu itu. Waktu itu ayah saya ngitungnya sudah pakai sempoa ini,” katanya.
Erna tak antikalkulator. Sesekali dia memakainya, tapi sempoa tetap yang utama. Dan, bagi mereka yang sudah terampil, lanjutnya, sempoa sama sekali tidak kalah dengan alat hitung yang lebih modern.
”Sama, sempoa juga bisa digunakan untuk menjumlah, perkalian, pembagian. Penjumlahan mulai ribuan sampai miliaran atau berapa pun bisa,” bebernya.
Keterampilan itu juga yang dia tularkan ke anak-anaknya. Karena itu pula, meski sebagian manik-maniknya ada yang sudah lepas, dia bergeming mempertahankan warisan keluarganya itu.
Ia bahkan juga memesan sempoa lagi dari salah satu perajin. ”Tapi, yang baru ini pemakaiannya tidak seperti yang lama, masih enakan sempoa yang lama,” ujarnya. (***)
Laporan: MOH. NASIKHUDDIN
Editor: RYAN AGUNG