Buka konten ini
Sebanyak 10 pendaki dari Jakarta diperbolehkan mendaki Gunung Raung dari sisi Banyuwangi setelah aktivitas vulkaniknya melandai. Jika sewaktu-waktu kondisi berubah, para pendaki siap untuk putar balik.
SETELAH semalaman tertahan di base camp Gunung Raung, apa yang diharapkan para pendaki dari Jakarta itu akhirnya terwujud Selasa (10/6). Mereka diizinkan mendaki gunung yang wila-yahnya tersebar di tiga kabupaten di Jawa Timur itu: Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember.
Mengutip Radar Genteng (grup Batam Pos), sebanyak 10 pendaki memulai perjalanan menuju puncak gunung setinggi 3.332 mdpl itu. Sebelumnya mereka tertahan di base camp Jejak Pak Eko dan base camp Bu Soeto di Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, menyusul erupsi Raung yang terjadi beruntun sejak Kamis (5/6) pekan lalu.
”Pagi ini (kemarin pagi) kami putuskan bisa naik,” kata Eko Wahyudianto, salah satu anggota Sekretariat Pendakian Gunung Raung via Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan.
Menurut Eko, keputusan itu tetap diikuti dengan aturan-aturan ketat. Selain harus dikawal dua guide kawakan, keputusan untuk membawa pendaki ke puncak harus diputuskan sesuai pengamatan base camp.
”Kami tidak akan memaksa sampai puncak. Nanti akan dipantau kondisinya seperti apa, baru akan diputuskan summit (ke puncak) atau tidak,” ujarnya.
Eko menyebut keputusan untuk memperbolehkan para pendaki naik juga berkaitan dengan tidak adanya instruksi penutupan jalur oleh Perhutani. Apalagi, jelas dia, sudah banyak tamu yang telanjur memesan open trip pendakian Gunung Raung sejak jauh-jauh hari.
Sementara itu, aktivitas vulkanik Raung semakin melandai. Sejak erupsi pada Kamis pekan lalu, intensitas asap yang keluar dari kaldera gunung semakin tipis, kemarin.
Selain teramati di seismograf Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, hal itu juga dibuktikan oleh tim dari base camp Gunung Raung via Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru.
Tim base camp Gunung Raung berangkat ke puncak gunung untuk mengamati visual dan baru kemarin turun. Tim yang berisi sejumlah guide senior itu memastikan kondisi Raung mendekati normal. “Sudah semakin menurun (aktivitas vulkanik),” kata Cak Mad, panggilan salah satu guide yang ikut dalam tim.
Menurut Cak Mad, asap pekat yang semula berwarna kelabu sejak Senin (9/6) sudah tampak semakin cerah. Itu, tambahnya, salah satu indikator bahwa kondisi gunung berapi tersebut mulai beranjak normal.
Selain dari intensitas kepulan asap, lanjut dia, indikator yang membuat tim base camp Raung yakin kondisi gunung tertinggi ketiga di Jawa Timur itu mulai membaik adalah tidak adanya suara gemuruh. ”Kalau ada, kami pasti tidak nekat naik. Base camp jelas tidak memberangkatkan kami,” ujarnya.
Eko menambahkan keputusan menutup jalur dan penyampaian informasi ke pendaki hanya bisa dilakukan saat ada bukti surat resmi dari pengampu kebijakan, yakni Perhutani KPH Banyu-wangi Barat. ”Jika ada surat resmi, kami enak menyampaikan ke pendaki, itu juga yang membuat kami mengirim pendaki untuk mengecek visual Raung,” tandasnya.
Meski begitu, Eko sebelumnya juga sudah menyampaikan kondisi Gunung Raung kepada pendaki. ”Para pendaki bisa menerima, jika sewaktu-waktu ada kondisi yang mengharuskan putar balik, mereka pasti menerima. Mereka juga tidak masalah karena jadwal naiknya mundur,” katanya. (***)
Laporan: SALIS ALI
Editor: RYAN AGUNG