Buka konten ini
Setelah tak berada di Pelatnas Cipayung, Sabar Karyaman Gutama/M. Reza Pahlevi Isfahani, Jonatan Christie, dan Chico Aura Dwi Wardoyo harus mengurusi semuanya sendiri, mulai partisipasi di turnamen sampai mencari lawan latihan. Tapi, di dalam atau luar pelatnas, tekanan tetap sama-sama berat.
KALAU mengingat kondisinya semalam sebelum Indonesia Open 2025 dimulai, bisa sampai ke final ganda putra terbilang luar biasa bagi M. Reza Pahlevi Isfahani. Sebab, ketika itu, jangankan bermain, duduk saja sulit dilakukan pasangan Sabar Karyaman Gutama tersebut.
”Habis latihan test court di sini (Istora Senayan, Jakarta, red), pulang sampai rumah saya gak bisa duduk. Habis itu saya jalan sudah bungkuk,” ungkap Reza, Rabu (4/6) lalu.
Karenanya, saat itu juga dia mengirim kabar via WhatsApp ke Sabar. Namun, sang partner bersama pelatih mereka, Hendra Setiawan, menyemangati. Akhirnya, malam itu, untuk mengurangi sakit, ditemani sang istri, Marsheilla Gischa Islami, Reza mencoba ”terapi” tidur di lantai.
Selain itu, setiap menjalani pertandingan di Indonesia Open, Reza menggunakan painkiller. ”Sebelum main pertama saya juga sempatkan pergi ke tempat orang yang bisa pijet kretek gitu. Badan saya ditarik, dari situ mendingan banget. Bisa jalan, bisa nunduk, bisa berdiri,” ceritanya.
Semua itu dia lakukan karena merasa bertanggung jawab dengan partner dan sponsor yang sudah membantu. Sebuah konsekuensi karena memilih jalan sebagai pemain badminton profesional non-pelatnas.
Tak seperti para penghuni Pelatnas Cipayung, Reza/Sabar harus mengurusi semua sendiri. Mulai partisipasi di turnamen, jadwal latihan, sampai akomodasi dan transportasi.
Otomatis, mereka harus berhitung benar dengan biaya. Bisa mendapatkan sponsor sangatlah membantu karena tidak di tiap turnamen mereka mampu menembus final atau menjadi juara yang menjanjikan hadiah uang lumayan.
Karena itu, keberhasilan sampai partai puncak turnamen level Super 1000 benar-benar melegakan mereka. ”Saya sampai nangis di lapangan saking terharunya,” ujar pemain binaan PB Jaya Raya, Jakarta, itu.
Seperti Sabar/Reza, dua tunggal putra, Jonatan Christie dan Chico Aura Dwi Wardoyo, juga meniti jalan sebagai pebulu tangkis profesional non-pelatnas. Sejauh ini, Jojo, sapaan akrab Jonatan Christie, mengaku perbedaannya belum begitu mencolok dibandingkan saat masih di Cipayung.
Terlebih secara tekanan yang masih tetap besar. Sebab, tambahnya, tanpa embel-embel pelatnas, sama-sama membawa nama Indonesia.
Jojo sudah mengikuti dua event semenjak tidak lagi di Cipayung. Namun, hasilnya belum memuaskan: terhenti di 16 besar. Di Singapore Open, Jojo takluk oleh wakil Malaysia Leong Jun Hao 16-21, 19-21. Sedangkan di Indonesia Open, dia ditundukkan pemain Hongkong Lee Cheuk Yiu 21-12, 12-21, 10-21.
Vicky Angga, pelatihnya, menjelaskan, Jojo baru bergabung berlatih dengan PB Tangkas setelah tak lagi bersama PBSI. Artinya, tak lama sebelum tampil di Singapore Open.
Melatih pemain bernama besar seperti Jojo memotivasi dan menambah konfidensi Vicky. ”Tapi, pasti ada pressure juga. Karena dia kan masih yang nomor satunya di Indonesia,” kata Vicky yang semasa bermain seangkatan dengan Jojo.
Salah satu kendala pemain non-pelatnas adalah mendapat sparring partner yang sepadan. Vicky menyebut, di Tangkas tak banyak yang bisa mengimbangi Jojo.
”Tapi, kami cari alternatif bagaimana jaga di kualitas latihannya. Jadi, banyak diskusi aja sih apa yang mau dilatih dan ditambah. Dari segi mood juga,” katanya.
Saat ini, lanjut Vicky, Jojo masih dalam tahap adaptasi. Mulai tempat latihan, feeling, sampai suasana latihan.
Begitu pula dengan Chico. Sekeluar dari Cipayung, performanya masih turun. Di Indonesia Open, dia langsung tersingkir di 32 besar setelah dikalahkan Leong Jun Hao 13-21, 12-21. Tapi, pebulu tangkis kelahiran Papua tersebut tak mau itu menjadi beban.
Dia hanya ingin menikmati setiap pertandingan. ”Sama terus mematangkan diri untuk persiapan ke depannya lagi,” ucap kakak kandung pemain tunggal putri Pelatnas Cipa-yung Ester Nurumi Tri Wardoyo itu. (***)
Laporan: RIZKY AHMAD FAUZI
Editor: RYAN AGUNG