Buka konten ini
Anambas (BP) – Sudah hampir sepekan masyarakat Kabupaten Anambas, khususnya di Pulau Siantan, berjibaku dengan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite. Aktivitas harian mereka tersendat, dari urusan dapur hingga perjalanan silaturahmi saat Iduladha.
Antoni, warga Rintis, masih ingat betul bagaimana hari-hari menjelang Lebaran Kurban terasa janggal. “Sehari sebelum Iduladha, minyak masih ada, tapi cuma sedikit. Kedai pun tutup cepat. Jam sepuluh pagi, minyak sudah habis,” katanya, Selasa (10/6).
Di Anambas, Iduladha bukan sekadar ibadah kurban. Ia juga menjadi momentum mengunjungi sanak keluarga dari satu kampung ke kampung lain. Tapi tahun ini, silaturahmi jadi terbatas jarak. “Bensin enggak ada, jadi kami cuma bisa keliling dekat-dekat rumah,” ujar Antoni.
Kelangkaan ini tak hanya mengganggu urusan sosial warga. Pelaku usaha kecil pun terkena dampaknya. Salah satu pemilik kios BBM eceran, Hasan, menyebut pasokan pertalite tersendat lantaran kapal penjemput BBM ke Selat Lampa, Natuna, tertunda keberangkatannya.
“Seharusnya kapal sudah jalan sebelum Iduladha. Tapi malah molor, baru Senin sore kapal itu berangkat jemput minyak,” ujar Hasan.
Ia memperkirakan distribusi BBM akan kembali normal pada Kamis (12/6). “Kami cuma distributor. Kalau sesuai jadwal, kapal datang dari Selat Lampa hari Kamis. Insya Allah, minyak sudah normal lagi,” katanya.
Hingga saat ini, warga Pulau Siantan masih harus menghemat setiap tetes bensin yang mereka punya. Mesin mati, sepeda motor disandarkan di beranda rumah. Dan jarak—yang semula bisa ditebas dalam beberapa menit—kini terasa makin jauh. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO