Buka konten ini
Ketika berbicara mengenai penyakit jantung, kebanyakan masyarakat hanya mengenal serangan jantung atau penyumbatan pembuluh darah yang membutuhkan pemasangan ring. Namun, masih banyak yang belum mengetahui bahwa ada satu jenis penyakit jantung lainnya yang tak kalah berbahaya, yaitu aritmia.

DETAK jantung manusia mestinya berdenyut teratur: tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Bahkan bagi sebagian orang, irama jantung bisa menjadi kacau, kondisi ini dikenal sebagai aritmia. Meski terdengar asing, penyakit Aritmia ini diam-diam mengintai banyak orang, bahkan tanpa gejala apa pun.
Seperti beberapa kasus kematian mendadak diyakini berkaitan dengan aritmia yang tak terdiagnosis.
Dalam wawancara bersama seorang dokter spesialis jantung di Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Fandi Ahmad,SpJP dijelaskan bahwa aritmia merupakan gangguan irama jantung yang terjadi akibat kelainan sistem kelistrikan di dalam jantung. “Jantung kita seperti rumah yang memiliki instalasi listrik. Bila aliran listrik ini terganggu atau ‘korslet’, maka akan timbul aritmia,” jelas dokter Fandi Ahmad kepada Batam Pos, Kamis (15/5).
Menurut dokter Fandi, aritmia dapat terjadi karena dua hal, yaitu bawaan sejak lahir atau karena faktor yang didapat seiring bertambahnya usia, seperti hipertensi. “Ada pasien yang lahir dengan kelainan sistem listrik jantung, ada juga yang baru mengalaminya setelah dewasa,” ungkap sang dokter.
Gejala aritmia sangat bervariasi, dari tanpa keluhan sama sekali hingga yang paling fatal seperti kematian mendadak. Namun, gejala paling umum yang dirasakan adalah jantung berdebar tanpa sebab jelas, pusing, hingga rasa ingin pingsan.
Cara Deteksi Dini
Untuk deteksi dini penyakit Aritmia, sebenarnya masyarakat dapat melakukan pengecekan sederhana di rumah dengan meraba denyut nadi sendiri. Atau disebut MENARI (Meraba Nadi Sendiri) yang telah digalakkan untuk mengajak masyarakat mengenali irama jantungnya.
Cara meraba nadi sendiri cukup mudah yaitu gunakan tiga jari dan letakkan di bagian pergelangan tangan sejajar ibu jari. Jika denyut terasa terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.
EKG: Jendela Awal Deteksi Aritmia
Penyakit aritmia atau gangguan irama jantung menjadi perhatian serius di dunia medis karena dampaknya yang dapat mengancam jiwa. Namun, deteksi dini melalui pemeriksaan sederhana seperti elektrokardiogram (EKG) bisa menjadi langkah penting untuk mengenali penyakit ini lebih awal.
“EKG atau elektrokardiogram adalah alat untuk merekam aktivitas listrik jantung. Melalui EKG, kita bisa melihat apakah irama jantung seseorang cepat, lambat, atau tidak beraturan,” jelas dr. Fandi Ahmad,SpJP.
EKG dilakukan saat pasien merasakan gejala seperti jantung berdebar tanpa sebab jelas, pusing, atau bahkan pingsan. Gejala ini sering kali dirasakan secara subjektif dan bisa menyesatkan jika hanya berdasarkan persepsi. Oleh karena itu, pemeriksaan objektif melalui EKG sangat penting dalam menentukan diagnosis.
“Kadang pasien merasa jantungnya berdebar, padahal tidak. Atau sebaliknya, merasa baik-baik saja, padahal jantungnya berdetak tidak normal. EKG membantu mengklarifikasi hal ini,” tambahnya.
Deteksi Dini Lebih Penting daripada Pengobatan
Deteksi dini menjadi langkah paling penting sebelum gangguan irama jantung ini berkembang menjadi ancaman serius. Dokter juga menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan EKG secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung atau pernah mengalami gejala mencurigakan.
“Jangan tunggu gejala muncul. Lebih baik melakukan medical check-up, termasuk EKG, untuk mendeteksi gangguan irama jantung sebelum terlambat,” sarannya.
Jenis-Jenis Aritmia dan Cara Menanganinya
Aritmia secara umum diklasifikasikan menjadi tiga kategori besar, yaitu:
1. Irama jantung terlalu cepat (takikardia)
2. Irama jantung terlalu lambat (bradikardia)
3. Irama jantung tidak beraturan, seperti fibrilasi atrium
Masing-masing jenis aritmia memerlukan pendekatan pengobatan yang berbeda.
Untuk menangani aritmia lambat, dokter biasanya memasang alat pacu jantung. Alat ini mengirim sinyal listrik untuk mengatur detak jantung sesuai kebutuhan tubuh.
“Kalau jantung berdetak terlalu lambat, kita bisa bantu dengan alat pacu jantung atau pacemaker,” ujarnya.
Sementara irama yang terlalu cepat atau tidak beraturan (kacau) bisa ditangani dengan prosedur non-operatif yang disebut ablasi.
“Ini bukan operasi. Hanya dengan memasukkan kabel kecil melalui pembuluh darah hingga ke jantung, kita cari titik korsletnya dan ‘matikan’ dengan energi panas,” jelas dokter.
Saat sumber gangguan listrik jantung atau titik korslet tersebut ditemukan, kemudian dihancurkan menggunakan energi radiofrekuensi, maka irama jantung kembali normal. Bila ablasi berhasil, pasien bahkan bisa berhenti mengonsumsi obat.
“Pasien aritmia sebagian besar bisa diobati, bahkan disembuhkan,” tegasnya. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : Putut Aryo Tejo