Buka konten ini
LONDON (BP) – Inovasi untuk memerangi malaria terus dikembangkan. Di sebuah laboratorium di kawasan industri Oxford, Inggris, perusahaan bioteknologi Oxitec mematangkan rekayasa genetik nyamuk jantan anopheles. Nyamuk itu akan membawa gen self-limiting (gen pembatas diri) yang dirancang untuk membunuh keturunan anopheles betina.
Strategi tersebut bertujuan mengurangi populasi nyamuk betina, satu-satunya jenis nyamuk yang menggigit manusia dan menularkan infeksi seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD).
Setiap slide berisi 50100 telur. Biasanya kami menyuntikkan 500 hingga lebih dari seribu telur per hari, jelas Michal Bilski, kepala tim riset dan pengembangan di Oxitec, sebagaimana dikutip The Guardian, kemarin (12/5).
Setelah proses penyuntikan, telur-telur nyamuk dipindahkan ke ruang khusus yang hangat dan lembap. Dalam waktu sekitar dua minggu, sebagian kecil telur yang bertahan berkembang menjadi nyamuk dewasa.
Dengan cahaya fluoresen, bisa diketahui apakah serangga tersebut membawa gen hasil rekayasa genetik.
“Nyamuk jantan hasil rekayasa itu tidak menggigit manusia, tetapi membawa gen self-limiting yang diturunkan pada keturunan betina. Dengan gen itu, nyamuk betina akan mati sebelum mencapai usia dewasa sehingga populasinya menyusut,” jelas Anna Schoenauer, salah satu pemimpin tim.
Oxitec telah melepaskan puluhan ribu ekor nyamuk hasil rekayasa tersebut di Djibouti, Afrika Timur, tahun lalu. Itu merupakan uji coba perdana di kawasan tersebut dan yang kedua di Benua Afrika. Peluncuran sebelumnya berlangsung di Brasil dan Florida, AS.
Inisiatif itu merupakan bagian dari strategi global untuk menanggulangi lonjakan kasus malaria yang dipicu spesies nyamuk invasif Anopheles stephensi. Nyamuk itu sebelumnya hanya ditemukan di Asia Selatan, tetapi kini telah menyebar ke wilayah Afrika.
Meski hasil resmi uji coba di Djibouti belum dirilis, para peneliti menegaskan bahwa teknologi itu sangat aman. Otoritas seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) dan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) menyatakan nyamuk hasil rekayasa tersebut tidak membahayakan manusia maupun lingkungan.
CEO Oxitec Grey Frandsen mengakui tantangan masih panjang. Meski dana berasal dari donatur dan filantropi internasional, dia tetap optimistis riset akan berhasil. Dalam perang melawan malaria, tidak ada solusi instan. Saatnya teknologi disruptif mengambil peran utama. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO